37 - Dia yang Berarti

312 61 13
                                        

Aletta kira dirinya bisa bertahan hanya dengan terus berusaha. Sepedas apa pun perkataan Gema atau sekejam apa pun perlakuan Gema, ia kira dirinya masih bisa berlari mengejar Gema hanya dengan berusaha.

Ternyata tidak. Saat kita tahu orang yang selama ini kita suka memperlakukan kita dengan buruk, kita masih bisa tetap berdiri dengan harapan hati orang tersebut nantinya akan luluh. Mungkin begitulah pemikiran kebanyakan orang.

Namun, tentu akan lain ceritanya jika orang yang kita suka sudah menjatuhkan pilihannya pada orang lain dan bukan kita pilihannya. Aletta tidak mengerti ia harus bagaimana lagi. Gema memang belum mengatakan kepadanya bahwa cowok itu sudah memiliki pacar, tapi saat tahu bahwa Gema membawa kotak bekal sendiri, lagi-lagi ia merasa kalah sebelum bertempur.

"Masakan lo yang lo bikin buat gue itu kasih ke Gio aja, dia bisa makan apa pun kok."

Perkataan Gema terdengar lebih lembut dari biasanya, tapi Aletta justru tidak menyukai hal itu. Jika selama ini ia mendambakan perubahan sikap Gema yang seperti itu, sekarang justru ia harus menolaknya mentah-mentah. Alasannya tentu karena Gema begitu bukan karenanya.

"Selama ini kamu selalu marah kalo aku bikinin kamu makanan, tapi sekarang kamu malah nerima makanan dari orang lain."

"Ini bukan dari orang lain," tukas Gema cepat.

Ya, Aletta kesal karena sejak pagi Gema berkoar tentang siapa yang menyiapkan bekal untuknya. Seperti kemarin, cowok itu mengatakan bahwa yang membuatkannya adalah calon masa depannya.

Jika masih ada orang yang menyemangati kaum sepertinya dengan kalimat 'selama janur kuning belum melengkung, kesempatan akan selalu ada' maka ia tidak segan melempar orang itu dengan sepatunya.

Kalimat penyemangat seperti itu hanya akan merusak kesehatan mentalnya. Memang benar, kalau undangan belum disebar dan ijab kabul belum diucapkan, atau selama Gema masih hidup, kesempatan masih ada. Tapi tentu saja hanya orang bodoh yang mau mengambil kesempatan itu.

Merusak hubungan orang lain, merebut apa yang menjadi milik orang lain, berusaha sekuat tenaga agar orang yang kita suka beralih melirik kita, atau menunggu hubungan sepasang kekasih berakhir dengan keinginan bisa mengambil kesempatan hanya akan merendahkan martabat perempuan. Dan Aletta tidak akan melakukan hal itu.

"Emang itu serius buatan pacar kamu?" tanya Aletta memejamkan mata.

Gema yang sudah bersiap berdiri hendak menyusul Digo malah terduduk lagi. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pertanyaan Aletta secara tidak langsung menegaskan bahwa hubungannya dengan Gina hanya sebatas teman.

"Bukan sih, tapi dia orang yang cukup berarti buat gue. Gak sekarang, tapi semoga bisa gue pastiin kalau gue sama dia bisa jadian."

Kali ini bukan anak panah yang menembus dada Aletta, tapi sebuah bom yang meledak di sana. Memporak-porandakan isi hatinya. Bola matanya langsung terbuka dan tidak ingin berkedip sama sekali.

Ucapan Gema selama ini memang pedas sekali dan Aletta cenderung selalu menahannya, tapi yang barusan, itu sudah kelewat kejam, bukan? Bukan karena kosa katanya, tapi karena ucapan itu ditujukan langsung oleh seseorang yang berulang kali ditolak oleh Gema.

Aletta yakin bahwa tidak ada orang lagi di muka bumi ini yang memiliki mulut lebih pedas dari Gema.

"Berarti belum jadian, kan?" tanya Aletta.

Gema berdecak kesal, tapi tak urung ia tetap menyahut, "Belum. Gak usah nyumpahin yang aneh-aneh lo, ya! Nanti gue kutuk terus gue pulangin ke Pluto." Dengan wajah serius.

"Enggak dong, aku kan baik hati."

Melihat Aletta mengatakan hal itu sambil tersenyum lebar membuat Gema nyaris bergidik ngeri sekaligus jijik. Karena ia memiliki firasat lain tentang hal itu.

Gema & Kurcaci Dari Pluto (COMPLETE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang