13 - Luka Gores

480 96 8
                                        

Seorang Gema, nyaris tidak pernah takut pada siapa pun. Baru kali ini, bahkan saat telinganya sudah ia sumpal dengan earphone, tapi suara itu masih terdengar. Saat sepedanya ia kayuh secepat mungkin agar tidak terkejar.

Aletta berada beberapa meter di belakangnya. Sedari tadi berteriak minta ditunggui. Gema menyadari bahwa dirinya ketakutan setengah mati dengan gadis itu. Bukan karena dirinya merasa kalah, tapi karena Aletta itu memang benar-benar mengerikan.

Apa maksudnya coba pagi-pagi sekali sudah bertengger di atas sepeda? Yang mengesalkan tentu saja bukan itu, tapi karena posisinya yang berada di depan gerbang rumahnya. Gila memang.

"GEMA!" teriaknya lagi.

Gema kesal setengah mati. Ia mulai berdiri. Mengayuh sepedanya dalam posisi begitu. Kecepatannya meningkat bersamaan dengan keringat yang menetes di pelipisnya. Please, ini masih pagi astaga!

Gema tertawa karena melihat posisi Aletta yang berada cukup jauh. Kayuhannya ia percepat lagi agar gadis itu tidak bisa mengejar sama sekali. Tenang beberapa detik kalau saja suara klakson tidak dengan paksa membuat tangannya menarik rem sekencang mungkin. Melekik dan membuatnya menutup telinga yang sudah disumpal earphone, karena ngilu.

Sebuah mobil sempat berhenti beberapa detik, lalu tak lama pergi begitu saja. Saat Gema mendekat, Aletta duduk di aspal dengan sepeda yang terguling di dekatnya.

"Ngapain lo di situ?" tanyanya.

Aletta mendongakkan kepala sambil meringis nyeri. Belum sempat menyahut, Gema sudah buka suara lagi.

"Bisa bangun, kan? Ya udah gue duluan. Bye!" pamit Gema memutar arah lagi.

Tidak melihat luka kemerahan di lutut Aletta. Darah segar mengalir dari sana. Sakit tentu saja, tapi melihat reaksi Gema, sakitnya menjadi lebih terasa. Tidakkah cowok itu memiliki perasaan kasihan? Sedikit saja.

***

Suasana kelas sudah cukup ramai saat Gema duduk di kursinya. Digo menaikkan sebelah alisnya bingung, Gio melongokan kepala berulang kali ke luar kelas. Heran karena tidak melihat Aletta di belakang Gema.

"Heh! Cewek lo gak masuk?" tanya Gio.

Gema memutar bola mata. "Berani ngomong kaya gitu sekali lagi, gue tempeleng lo!"

Sepuluh menit lagi jam masuk akan berbunyi. Seharusnya jika mengikuti, Aletta sudah sampai sekarang. Tapi kenapa tidak munculnya juga?
Gema melirik pintu kelasnya sekilas. Ada beberapa siswa yang masuk, tapi tidak ada Aletta di antara mereka.

"Aletta gak masuk?" Kali ini Digo yang bertanya. Gema mendengkus kesal. Seolah memang hanya dirinya yang pantas ditanyai, seolah ia dan Aletta terus bersama setiap detiknya.

"Kenapa sih pada nanya ke gue? Gue bukan emaknya. Jadi gak usah nanyain tuh anak ke gue!" Kata Gema beberapa saat kemudian.

Gio tergelak, Digo geleng-geleng kepala. Kenapa juga harus sampai marah-marah? Padahal kan tinggal bilang baik-baik. Dasar Gema, kalau sudah berhubungan dengan sesuatu yang tidak ia suka, sifatnya berubah menjadi menyebalkan.

Digo sendiri tidak mengerti kenapa sebegitu tidak sukanya Gema pada Aletta. Rasanya terlalu berlebihan jika hanya karena sifat Aletta yang selalu mendekatinya. Bagaimana pun, Gema harusnya bisa menolak dengan baik-baik, bukan malah terkesan membenci dan menyebut Aletta dengan berbagai panggilan aneh.

Siapa pun tahu bahwa Gema adalah cowok humoris yang ramah kepada semua orang. Bukankah sudah sepantasnya berlaku juga untuk Aletta?

"Elo juga kenapa itu muka kusut banget. Ada masalah?" tanya Digo.

Gema & Kurcaci Dari Pluto (COMPLETE)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang