Gema! Ada temen kamu nih di luar." Teriakan itu membuat Gema sontak saja bangun dari posisi berbaringnya.
Teman? Siapa? Digo, Gio, dan temannya yang lain tidak pernah datang ke rumahnya tanpa mengabari. Lalu siapa yang datang berkunjung di sore hari seperti ini?
Buru-buru Gema turun dari ranjang. Ia mengabaikan tubuhnya yang masih dilapisi oleh seragam sekolahnya. Kamarnya yang terletak di lantai satu membuatnya tidak perlu naik turun tangga. Ia hanya perlu berjalan lurus untuk sampai di ruang tamu, sedikit berbelok untuk menuju pintu utama rumahnya.
Pintu yang terbuka membuatnya bisa melihat dengan jelas halaman rumahnya. Kosong dan tidak ada motor temannya yang tidak ia kenal. Alisnya sedikit terangkat. Begitu kepalanya menyembul ke luar, ia menoleh ke kanan, melongo setelah melihat Aletta sedang mengobrol akrab dengan mamanya di kursi depan.
Gadis itu sudah berganti pakaian santai. Beberapa buku terlihat di meja yang berada di depannya. Sudah pasti itu buku milik Aletta, bukan?
"Heh! Ngapain ada di rumah gue lo, Kurcaci Pluto?" ketus Gema mengeluarkan seluruh tubuhnya dari balik pintu.
Baik Aletta ataupun mamanya Gema menoleh secara bersamaan. Mamanya melotot karena cara bicara Gema yang kasar, sementara Aletta terkekeh geli melihat keterkejutan Gema.
"Halo, Gema!" sapanya seperti biasa.
"Gema, kok ngomongnya kaya gitu sama Aletta? Kasar tau. Ayo minta maaf!" pinta mamanya lembut.
"Mama, dia itu Alien dari Pluto tau. Gak usah biarin dia ada di rumah kita."
"Gema," tukas mamanya. Gema membuang muka. "Gak baik ngomong gitu sama tamu. Aletta itu mau ngerjain tugas kelompok ke sini. Katanya kamu sekelompok sama dia?"
Astagfirullah!
Gema tidak habis pikir dengan cara kerja otak Aletta. Tugasnya saja baru diberikan hari ini, dikumpulkan minggu depan, lalu kenapa gadis itu justru muncul di hari yang sama dengan pembagian tugas? Bukankah mereka masih punya banyak waktu?
"Heh, Alien! Mendingan lo balik sana. Lagian dari mana lo tau rumah gue?"
"Dari satpam kompleks," sahut Aletta lempeng.
Ahh, ya. Pantas saja tadi saat mereka memasuki gerbang sepulang sekolah, Aletta tiba-tiba menghentikan sepedanya. Saat itu Gema tidak peduli dan memilih pergi. Ternyata untuk ini.
"Pulang sana! Gue mau ngerjain sendiri aja." Gema kembali mengusir.
Mamanya lagi-lagi memelototi Gema. "Gema! Ayo ajak Aletta masuk ke kamar kamu. Nanti Mama bawain kalian makanan ringan. Jangan diusir lagi Aletta-nya!" Mamanya berjalan menjauhinya kemudian memasuki rumah.
Diliriknya Aletta yang masih bergeming di posisinya. "Awas aja lo kalo aneh-aneh di rumah gue. Cepet masuk!" Kemudian Gema berjalan lebih dulu. Setelah mengambil buku di meja, Aletta mengikuti dua langkah di depannya.
"Emangnya gak pa-pa kalo kita ngerjain tugasnya di kamar kamu? Agak gimana gitu?"
"Gimana apanya?"
"Agak anu aja," sahut Aletta ragu.
Tidak ada sahutan. Tak lama Aletta dituntut memasuki sebuah kamar dengan pintu bercat warna-warni. Ada berbagai macam hewan yang dilukis di pintu itu. Membuatnya tanpa sadar terperangah.
Begitu masuk, Aletta dibuat melongo dengan bola mata dan mulut yang sepenuhnya terbuka. Di tengah ruangan berbentuk persegi itu, Aletta bisa melihat dengan jelas bagian halaman luar. Bukan. Bukan karena tidak dilapisi tembok. Melainkan empat jendela, juga dua pintu geser di bagian tengah yang dibiarkan terbuka. Memperlihatkan taman kecil di depan sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Gema & Kurcaci Dari Pluto (COMPLETE)
Teen FictionKata orang, Gema itu menyenangkan. Dia baik, ramah, humoris dan mudah bergaul. Siapapun akan betah berteman dengan cowok itu. walaupun agak sedikit jahil dan menyebalkan, kepribadian Gema memang terlampau menyenangkan. Tapi kalau kata Aletta, Gema...
