“Adek ayo bangun.”
Mikoto menepuk pelan pundak Sasuke yang masih bergelung di atas sajadah lengkap dengan sarung dan peci hitamnya. Selepas subuh berjamaah di masjid, ia sempat ngintip dan mendapati anak bungsunya masih mengaji di kamar. Sepertinya si bontot ini terlampau lelah hingga mengabaikan salah satu sunnah untuk tidak tidur pagi.
“Sudah jam delapan ayo bangun dek.”
“Sebentar lagi mah.”
Mikoto menggeleng pelan. Sejujurnya ia juga tidak tega membangunkan Sasuke yang terlihat jelas raut lelahnya. “Adek ayo bangun, nanti keburu antre lho di kelurahan.”
Sasuke menepis pelan tangan yang sedari menepuk tubuhnya. “Bentar mah sedikit lagi.”
Mikoto menghela napas pelan. “Sakura sudah nunggu dari setengah delapan lho dek.”
Sasuke mengucek pelan kedua matanya. “Gak usah bawa nama Sakura deh mah.”
“Lha kalau kenyataannya begitu bagaimana? Ngapain juga mama bohong.”
Sasuke menegakkan tubuhnya dengan cepat. Ya Allah bisa-bisanya ia melupakan janji yang ia buat sendiri. Ia bahkan bilang akan menjemput gadis itu dirumahnya, yang ada malah keterbalikan.
“Serius mah?”
Mikoto mengangguk dengan dengusan malas. “Kapan sih mama gak serius sama kamu dek? Cepat mandi sana, ganti baju dan dandan yang rapi, jangan sampai Sakura lumutan terus putar balik sama kakakmu.”
“Gak bakalan mah,” Sasuke melipat sajadahnya lantas menyimpan di tempatnya bersama peci. “mama tolong temenin Sakura dulu jangan sampai dia bete, oke.”
Mikoto hanya menggeleng pelan melihat tingkah anak bungsunya yang ngacir ke kamar mandi dengan sarungnya. Ibu dua anak itu lantas merapikan kamar Sasuke yang sedikit berantakan kemudian beranjak keluar guna memenuhi permintaan si bontot.
Sementara itu di ruang tamu duduklah seorang gadis dengan sesepuh yang kontur wajahnya masih lumayan kencang akibat pola hidup sehat yang super ketat.
“Sakura sudah besar saja ya.”
“Iya Sakura sudah besar, tapi eyang masih awet muda saja.”
Kaguya terkekeh pelan, ingatannya melalang buana kala gadis di hadapannya itu meneriaki nama Sasuke. “Eyang gak nyangka saja kamu bakalan nikah sama Sasuke secepat ini.”
“Saya juga gak nyangka, padahal eyang tahu sendiri gimana Sasuke kalau tak deketin bawaannya sensi terus.”
Kaguya mengibas pelan tangan kirinya. “Neng geulis gak tahu saja aslinya Sasuke gimana, dia itu mah bukan sensi tapi-”
“Eyang,” Sasuke melangkah cepat lantas mendudukkan diri di sisi eyangnya. “kamu sudah lama nunggu di sini? Maaf ya Ra aku yang buat janji malah kelupaan.”
“Gak masalah, sudah seharusnya juga kamu istirahat pasti lelah nyetir seharian,” Iris mata Sakura beredar memindai isi rumah Sasuke yang sebagian besar telah berubah. “lagipula sudah lama juga aku gak main ke sini.”
“Sudah berapa tahun sejak neng geulis ini ngintilin Sasuke sampai dapur?”
Rona samar memenuhi pipi Sakura. Sasuke yang melihat itu hanya tersenyum tipis, jika boleh jujur ia malah senang ketika diintilin Sakura dulu.
“Eyang kami berangkat dulu ya takut antre di kelurahan,” Sasuke mencium punggung tangan Kaguya. “assalamu’alaikum.”
Hal yang sama pun dilakukan oleh Sakura. “Assalamu’alaikum eyang.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Arti [✓]
RomancePerjuangan dua insan untuk menghalalkan segala aktifitas mereka di hadapan Allah © Masashi Kishimoto
![Arti [✓]](https://img.wattpad.com/cover/265921642-64-k289665.jpg)