Hiruk piruk yel-yel sahur dipadu pukulan aneka ragam peralatan tradisional agaknya tak mempengaruhi sedikitpun kekhusyukan si lelaki dalam bermunajat. Berbalut koko putih, sarung cokelat keemasan, dan peci hitam serta beralas sajadah khas Turki. Lelaki itu mengangkat kedua tangannya sebatas leher, mengadukan segala keluh kesahnya kepada Sang Pencipta.
Berkali-kali ia mengucap rasa syukur kepada Tuhan semesta alam atas segala garis takdirnya. Dilahirkan sebagai seorang muslim dari orang tua yang begitu penuh cinta dan taat kepada agama. Memiliki dua eyang dan kakak yang selalu mencurahkan kasih sayangnya kepadanya. Serta sahabat yang selalu mendukungnya dalam kondisi apapun.
"Terima kasih Engkau telah mempercayakan salah satu ciptaan Mu kepadaku. Bimbing hamba untuk menuntunnya sesuai syariat Mu ya Allah. Bimbing hamba untuk menjadi imam terbaik untuknya."
Ketukan ringan di pintu kamarnya membuat Sasuke menyudahi acara curhat dengan Sang pencipta.
"Adek sudah bangun nak? Segera turun kalau udah siap ya."
"Iya mah, bentar lagi!"
Sasuke bergegas melipat sajadahnya lantas menyimpan di rak gantung bersama pecinya. Ia mengganti setelan koko dan sarung dengan kaos oblong putih dipadu celana training abu-abu. Kaki yang beralas sandal rumahan itu melangkah ringan menuju dapur.
Mulai lusa ia akan tinggal sementara di rumah orang tua Sakura sampai hari resepsi sekaligus ngunduh mantu yang dilakukan keluarganya. Membayangkannya saja berhasil membuatnya jantungnya bergemuruh.
"Cucu eyang sini duduk," ujar lembut Kaguya sembari menepuk kursi di sisinya. "udah sholat tahajud tadi?"
Anggukan kecil dari Sasuke membuat Kaguya mengurut pelan leher belakang cucunya. "Besok udah punya makmum sendiri, jadi imamnya harus belajar lebih giat lagi ya."
"Iya eyang."
Sasuke menerima piring keramik dari mamanya lantas menyendok nasi. Jelaganya menatap aneka hidangan yang beragam, mulai dari ayam kecap, rendang, balado, bihun, tumisan, dan irisan buah-buahan.
"Calon mertuamu yang kasih semalam pas mau pulang," jelas Mikoto ketika menyadari kernyitan heran si bungsu. Ketukan dan teriakan lumayan keras membuat Mikoto menggeleng pelan. "kakakmu itu kebiasaan gak bawa kunci rumah."
"Assalamu'alaikum mah ... mah bukain pintunya tolong," teriak Itachi dari luar rumah.
"Biar aku aja yang buka mah," ujar Sasuke lantas melenggang pergi. Lelaki rupawan itu melangkah santai dengan kedua tangan yang dimasukkan saku celana mengabaikan teriakan Itachi berulang kali.
"Mah bukain pintunya."
Sasuke hanya berdiam diri di balik pintu tanpa ada niatan membukanya. Ia mendengus kala ketukan Itachi semakin keras.
"Mah bukain pintunya, kakak belum sahur ... mah!"
"Adek, gak usah iseng sama kakakmu!" Tegur Mikoto mengingatkan.
"Besok dan seterusnya kakak janji bakalan bawa kunci rumah sendiri!" Itachi kembali mengetuk lumayan keras, ya kali masak ia gak sahur sementara paginya diharuskan nguli lagi bareng Sasori. "mah buka-"
Pintu besar itu terbuka lebar menampakkan sosok yang tengah menyeringai tipis membuat Itachi yang awalnya memasang wajah melas segera berubah garang.
"Jancuk Sas!" desis Itachi dengan delikan tajamnya. "lu dari tadi berdiri di sini terus sengaja gak bukain pintu gitu, tega bener ya lu sama kakak sendiri."
"Tega," Sasuke kembali mengunci pintu rumahnya. "kau sendiri tega nyuruh mama tiap hari bukain pintu buatmu, mana nyiapin sahur juga," Sasuke mendelik balik ke arah kakaknya. "makanya kalau pergi bawa kunci rumah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Arti [✓]
RomancePerjuangan dua insan untuk menghalalkan segala aktifitas mereka di hadapan Allah © Masashi Kishimoto
![Arti [✓]](https://img.wattpad.com/cover/265921642-64-k289665.jpg)