Sakura menatap kosong langit-langit kamarnya, klarifikasi singkat dari Sasuke kemarin malam membuat tidurnya tak tenang. Jantungnya berdetak kencang setiap saat, tangannya mendingin dan ia tiba-tiba gugup tentang sesuatu yang sama sekali tak diketahuinya. Ya Allah sebenarnya kenapa dengan dirinya.
Ketukan keras disusul teriakan khas dari masnya membuat Sakura beranjak dari acara rebahan.
“Buka pintunya dek! Sakura, cepet buka-”
Sakura menarik pelan pintu kamarnya. “Mentang-mentang ayah dan ibu gak di rumah, mas Sasori bisa seenaknya teriak-teriak gitu?”
“Ogah juga aku teriak-teriak, noh ada calon suamimu di luar.”
“Di luar mana?”
“Teras.”
Sakura mendelik horor. “Kenapa gak di suruh masuk sih mas?!”
“Belum sah gak boleh seenaknya bawa laki masuk kalau gak ada orang tua.”
Sakura bergegas mengenakan jilbab langsungannya, cardigan hitam dan rok pilsket serta sepasang kaos kaki. “Emang mas Sasori bukan orang tua?”
“Gak, kalian ngomongnya di pintu aja biar si Sasuke gak aneh-aneh.”
“Mas Sasori nyebelin banget sih, dia itu gak pernah aneh-aneh.” Sakura beranjak berdiri lantas menyeret masnya keluar kamar.
“Ngapain pake nyeret-nyeret begini sih dek?”
“Mas Sasori harus jadi orang ketiga biar gak ada setan antara aku sama Sasuke.”
“Ogah!” Seru Sasori namun tetap mengikuti seretan adiknya.
Setelah menyalakan pendingin ruangan, Sakura segera menarik pintu rumahnya dengan Sasori yang bersedekap di belakangnya.
“Maafin mas Sasori ya Sas dia emang suka nyebelin dari dulu, ayok masuk.”
“Gak papa Ra,” Pandangan Sasuke tertuju pada dua kursi dan satu meja di teras rumah. “kita ngobrol di sini aja.”
“Di dalem aja, ada mas Sasori kok,” Sakura menyingkir guna memberi jalan masuk bagi calon suaminya. “lagipula pagernya gak setinggi rumahmu nanti kalau ada yang lewat terus ngomong yang aneh-aneh malah repot.”
“Beneran gak papa?” tanya Sasuke memastikan.
Anggukan kecil dari Sakura membuat Sasuke memantapkan hati memasuki rumah calon mertuanya. Ia hendak duduk di sofa ruang tamu namun suara Sasori dengan lantang mengudara.
“Berhenti, awas berani duduk,” Sasori melangkah lebar ke belakang lantas kembali dengan cepat sembari membawa kursi plastik warna hijau yang biasa digunakan ayahnya bersantai di belakang rumah. “lu duduk sini.”
“Mas Sasori apaan sih?!” kesal Sakura.
“Kamu diem aja deh.”
“Sasuke tamu mas, kita harus memuliakan tamu yang datang.”
“Kali ini jangan dimuliakan dulu,” Sasori menatap adik Itachi sejenak lantas mengarahkan pandangannya ke kursi plastik hijau. “duduk situ.”
“Mas Sasori!”
“Gak papa Ra,” ujar Sasuke berusaha menengahi.
Sasori menyeringai tipis melihat Sasuke duduk di kursi plastik, kapan lagi coba ia bisa kasi pelajaran sama si pitik kate ini. Sejujurnya calon adik iparnya adalah lelaki yang tergolong santun sebelas dua belas sama dirinya. Namun ia masih sedikit menyimpan rasa kesal, seenaknya aja dulu nelantarin adiknya sekarang dateng-dateng mau nikahin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arti [✓]
RomancePerjuangan dua insan untuk menghalalkan segala aktifitas mereka di hadapan Allah © Masashi Kishimoto
![Arti [✓]](https://img.wattpad.com/cover/265921642-64-k289665.jpg)