25

2.1K 287 183
                                        

Semenjak siang tadi rumah keluarga Abdullah Kizashi dipenuhi semerbak harum masakan rumahan. Bahkan para tetangga kanan kiri yang sibuk membantu pun masih menerka-nerka ada acara apa gerangan keluarga tersebut. Pasalnya jika setiap anggota keluarga ditanya hanya akan menjawab ada acara sehabis tarawih, tidak kurang tidak lebih.

Ino dan Karin pun turut membantu proses hari besar sohibnya. Sakura dengan telaten memasukkan aneka jajanan ke wadah kotakan bersama Karin yang mendeklarasikan diri masih ngambek kepadanya. Sementara Ino memanfaatkan hari dispennya untuk icip-icip masakan, dengan alibi memastikan rasanya agar pas.

"Ciee yang lusa udah sah," ujar Ino pelan sembari mendudukkan dirinya ikut serta memasukkan aneka jajanan di ruang tengah.

"Do'akan ya, rasanya aku masih gak percaya sama sekali," gumam Sakura.

Ino mengedipkan sebelah matanya. "Tentu doaku paling keceng apalagi soal biar kamu gak haid dulu, ya gak Rin?"

"Aku masih ngambek," ketus Karin.

Sakura hanya menyuguhkan senyum tipisnya. "Makasih ya Rin udah mau ngertiin aku."

"Siapa yang ngertiin orang aku lagi ngambek."

Ino dan Sakura hanya tertawa pelan menanggapi gerutuan Karin. Ngomong aja ngambek tapi dia yang paling bersemangat menemui Ino untuk bergegas meluncur ke rumah Sakura.

Ino mengambil lembaran kotakan lantas membentuknya dengan telaten. "Resepsinya jadi kapan Ra?"

"Insya Allah semingguan habis lebaran No, kalian masuk kerja kapan?"

Desahan lega lolos dari bibir Karin. "Syukurlah, kami juga dapat cuti semingguan, kayaknya molor dikit gak papa ya No."

"Yang kayak gini harus dilestarikan," timpal Ino

"Gak boleh gitu, ijin baik-baik sama atasan Insya Allah diijinin kok."

"Kalau atasannya modelan Gaara terus yang ijin kamu, mau ijin sebulan juga dibolehin," cerocos Karin.

Sakura menghembuskan napas pelan. "Kenapa jadi bahas Gaara sih, aku sama dia tuh gak ada apa-apa."

"Kamu gak tau aja Ra, dari jaman kuliah Karin itu dukung banget hubungan mu sama Gaara."

Si gadis yang dibicarakan hanya menggeleng pelan menanggapi pembicaraan tak terarah yang terjadi.

"Aku tebak pasti dia pernah nembak kamu kan Ra?" tanya Karin penasaran.

"Gak pernah lah, Gaara kan shalihnya minta ampun mana mau dia pake acara nembak-nembak begituan," gumam Sakura.

"Ciee dibelain," Senyum jahil terukir di bibir Ino. "jadi siapa yang lebih sholeh nih, Sasuke atau Gaara?"

Seingatnya Karin tadi masih mengibarkan bendera ngambek deh, dan kenapa pula Ino ikut-ikutan menyudutkannya. "Gak boleh banding-bandingin orang lain. Sasuke ya Sasuke, Gaara ya Gaara," Tatapan kesal Sakura layangkan pada kedua sohibnya. "lagipula yang tau tingkat kesalihan laki-laki hanya Allah semata."

"Assalamu'alaikum, anak gadis pada ngapain nih kayaknya seru deh," ujar Mikoto ramah.

"Wa'alaikumsalam," balas Sakura beserta kedua sohibnya tak kalah ramah.

"Bibi kapan dateng?" tanya Sakura.

"Kok masih bibi sih nong? Mama lah," celetuk Ino

Sakura mendelik ke arah Ino yang menunjukkan cengirannya. Sementara Mikoto hanya tertawa kecil lantas mendaratkan pantatnya di sisi calon menantu.

"Sudah bibi suruh panggil mama dari pas lamaran tapi temen kalian masih gak mau, kan sedih rasanya," Jelaga Mikoto tertuju pada kedua gadis di hadapannya lantas berujar dengan tangan kirinya yang bertenger manis di pipi seakan hendak berbisik. "padahal pas masih bocah aja manggil bibi mama biar samaan kayak Sasuke, kalian saksinya kan?"

Arti [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang