18

1.7K 274 55
                                        

Sedari sore waktu ia lagi nyiapin bukaan bareng ibunya, ponselnya tak berhenti bergetar hingga selesai maghrib. Ia sempat membuka sekilas ponselnya lantas mencari sumber getaran yang berasal dari grup alumni sekolah menengahnya. Sekilas obrolan dan sebuah potret foto yang menghebohkan jagat raya grup alumni berhasil membuat moodnya anjlok. Sakura lantas menyimpan ponselnya dalam laci nakas dengan mode silent daripada pahala puasanya berkurang lebih banyak lagi.

Sehabis sholat maghrib dan mengaji, Sakura melepas mukenahnya lantas menggantung di belakang pintu. Sejujurnya tangannya begitu gatal ingin mengatakan kepada mereka bahwa Sasuke sudah melamarnya bukan si Saaras kosong …

Astaghfirullah,” Sakura menepuk pelan bibirnya. “gak boleh gitu lagi, gak boleh jelekin orang, gak boleh su’udzon.”

Si gadis ayu itu mengikat asal rambutnya lantas keluar kamar mengabaikan deretan notifikasi yang kembali berebut masuk.

“Eh tumben cepet banget sholatnya,” ujar Sasori sembari menyendok nasi.

“Perasaan aku salah mulu deh,” Sakura menarik pelan kursi kayu. “lama selesai di omongin, cepet juga di omongin.”

“Maklum dek, masmu kan suka julid,” celetuk Kizashi membuat Sakura mengangguk mantap.

“Emang ayah tau artinya julid? sok muda banget pake bahasa anak sekarang,” cibir Sasori.

Astaghfirullah kalian ini ribut terus,” Mebuki meletakkan sepiring bakwan lengkap dengan cabe hijau. “makan dulu nanti lagi ributnya.”

Kizashi terkekeh pelan lantas memimpin doa untuk memulai makan malam bersama. Irisnya sesekali mencuri pandang pada kedua anaknya. Sasori adalah pembuka kebahagiaan mereka, dari anak sulungnya ia dan Mebuki belajar banyak menjadi orang tua. Sedangkan Sakura adalah pelengkap kebahagian mereka.

Pandangan Kizashi berembun basah, ya Allah sebentar lagi putri kecilnya akan menjadi tanggung jawab orang lain, rasanya ia bener-bener belum rela melepas anak gadisnya.

“Makan yang banyak kalian berdua, habisin saja beras ibumu.”

“Habis beras sama saja habisin uang ayah,” ujar Sakura dengan senyum jahilnya.

Mebuki tertawa pelan. “Gak papa, adek habisin aja uang ayah,” Mebuki menyendok tempe goreng lantas meletakkan di piring kedua anaknya. “makan yang banyak kalian berdua.”

Keluarga kecil itu makan dengan canda tawa lantas melanjutkan rajutan kehangatan di depan televisi. Hingga lantunan adzan dari pentolan kompleks menyudahi cengkerama antar anggota keluarga tersebut. Menuruti permintaan si bungsu, keluarga itu akhirnya saling melangkah beriringan menuju masjid guna menunaikan sholat isya’ dan tarawih.

Langkah empat anggota keluarga tersebut terhenti ketika sampai di pertigaan gang sebelah. Kepala mereka sontak menoleh mendengar seruan yang menjadi penyebab berhentinya sendal jepit masing-masing.

“Jenk Mebuki!” seru Mikoto.

Itachi melangkah lebar mendekati keluarga calon besan orang tuanya. “Eh calon isteri mas Itachi, sayang sekali ya gak jadi padahal kita cocok lahir dan batin.”

“Kepalamu cocok.” Sasori mendelik tajam mana sudi ia punya adik ipar bangkotan seperti sohibnya itu.

Sementara si gadis yang menjadi bahan pembicaraan hanya tersenyum tipis membuat Sasuke menghela napas pelan. Pasalnya, biasanya Sakura akan menanggapi candaan kakaknya. Ini pasi ada hubungannya dengan berita gadungan di grup alumni.

“Mikoto, tumben baru berangkat?” tanya Mebuki sedikit penasaran, pasalnya keluarga mereka selalu menjadi nomer satu untuk urusan beribadah.

“Nungguin si adek tadi sibuk banget di kamar, padahal lagi cuti.”

Arti [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang