Ahad pagi yang seharusnya ia gunakan untuk bersantai bersama Maruko-chan dan teman-temannya nyatanya hanya angan belaka. Si gadis memilih rebahan di dalam kamar sedari tadi, pasalnya ribet kalau mau keluar sebab ada segerombol manusia yang mengaku sebagai remaja masjid hendak memfinalkan para warga penerima zakat.
“Dek pinjem buku sama bolpenmu,” teriak Sasori dari ruang tamu.
“Yang butuh ambil sendiri,” balas Sakura tak mau kalah.
“Ya elah dek, tinggal ambilin apa susahnya sih,” Sasori mengomel pelan namun kakinya tetap melangkah menuju kamar adiknya. Lelaki itu mendorong pintu tanpa aba-aba. “mana buku dan bolpennya, buku bekas juga gak papa kok.”
“Bolpennya di situ,” tunjuk Sakura pada benda tabung berjaring di atas mejanya. “buku bekasnya di kardus, mas Sasori cari dan ambil sendiri ya.”
“Astaghfirullah, bulan puasa ini maunya kamu memudahkan urusan orang lain.”
“Mas Sasori kan bukan orang lain, jadi gak perlu dimudahkan,” Sakura tertawa pelan sembari mengamati kegiatan masnya yang membuka kardus. “emang mau buat apaan sih bukunya?”
“Buat nulis ulang daftar penerima zakat tahun ini.”
“Kenapa nggak pake laptop aja sih mas?”
“Enak di tulis, kalau ada apa-apa tinggal dibuka,” Sasori menggeleng melihat buku tumpuk tiga yang disetaples jadi satu, kebiasaan adeknya itu buku dari kelas satu gak bakalan di buang. “kenapa gak mau dikiloin aja sih ini buku, lumayan lho lima puluh ribu.”
“Gak ah, kenangan di dalamnya lebih mahal dari lima puluh ribu.”
Sasori mengambil buku sampul cokelat bertulis buku adalah jendela ilmu lantas mengembalikan kardus ke tempat semula. “kenangan apa, wong cuma tulisan pelajaran doang.”
“Nah itu dia tulisannya yang berkesan,” Pandangan Sakura menerawang jauh ke langit-langit kamar. “aku jadi bisa ingat kalau pernah berjuang di titik itu apalagi nyontek bareng-bareng.”
“Kelas unggulan kok nyontek.”
“Kelas unggulan manusia biasa juga lah,” Sakura berujar sebal. “habis pake kembaliin ke tempat semula. Mas Sasori keluar sana, tutup kembali pintuku.”
“Untung kamu adek ya.”
“Kenapa emang?”
“Kalau gak adek sudah ku pites dari dulu.”
“Aku pites duluan,” ujar Sakura sebal sembari melempar bantalnya.
Sasori terkekeh pelan ketika berhasil menghindari timpukkan bantal dari adeknya. Ia bergegas keluar dan kembali bergabung dengan para sohibnya.
“Lama amat lu Ri, ambil buku dan bolpen saja butuh waktu seabad,” Itachi bangkit dari acara rebahan lantas menyandarkan punggungnya pada kaki sofa. “hampir aja gue nyelametin dunia seisinya jika lu gak dateng-dateng.”
“Si Sakura noh nyuruh gue bongkar kardusnya sendiri, kan tuman tuh anak,” sembur Sasori.
“Ya gak salah juga sih, kan lu yang butuh. Kalau gue jadi Sakura ya bakalan gitu juga,” jelas Kakuzu.
“Eh asem, kalian juga butuh ya.”
Yahiko menghela napas pelan. Para sohibnya ini selalu melebih-lebihkan hal enteng yang sangat sepele. Namun perdebatan tak berfaedah yang selalu terjadi di setiap kesempatan malah semakin mengeratkan tali persahabatan mereka. Semoga Allah juga mengumpulkannya dengan para sohibnya di Surga Firdaus kelak.
Yahiko membuka buku bekas bersampul cokelat dengan tulisan mata pelajaran sejarah. Ia membalik lembaran tersebut guna menemukan halaman kosong. Iris matanya sedikit melebar, seulas senyum menyambangi bibirnya mendapati coretan acak masa muda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arti [✓]
RomancePerjuangan dua insan untuk menghalalkan segala aktifitas mereka di hadapan Allah © Masashi Kishimoto
![Arti [✓]](https://img.wattpad.com/cover/265921642-64-k289665.jpg)