13

1.9K 277 79
                                        

Assalamu’alaikum.”

Sasuke menunggu di samping pintu masuk dengan perasaan berdebar. Sembari menunggu pintu terbuka ia sempat membaca ukiran kayu yang tertempel di daun pintu membuat senyum tipis terukir di bibir Sasuke.

Mohon maaf.
Minta tolong untuk tamu/kurir setelah mengetuk pintu harap sabar sebentar.
Beri kami waktu untuk memaki jilbab dan kaos kaki.

Wa’alaikumsalam,” Sosok perempuan paruh baya lengkap dengan jilbab hitamnya keluar. “nak Sasuke mari masuk, maaf ya menunggu lama.”

“Terima kasih bu.”

“Sudah bilang sama mama mu kalau mau nganter Sakura ke puskesmas kan?” Mebuki bertanya ramah sembari mempersilahkan calon menantunya duduk. “kemarin ibu pikir bisa datang sendirian, eh pas sampai sana petugasnya bilang harus datang sama calon suaminya.”

“Tidak masalah, sudah menjadi kewajiban saya juga.” Jawab Sasuke ramah.

“Bu, apa aku hubungi Sasuke saja ya? Sudah jam sembilan ... lho Sasuke kapan datangnya?” tanya Sakura yang baru saja datang dari lorong tengah dengan jilbab maroon dan gamis hitam

“Baru saja kok Ra, mau berangkat sekarang?”

“Boleh, aku ambil tas sebentar ya.”

Anggukan pelan dari Sasuke membuat Sakura melangkah lebar menuju kamarnya kembali. Si gadis dengan cepat mengambil tas selempangnya, memeriksa kembali surat pengantar dari kelurahan lantas bergegas keluar kamar.

“Ibu, kami berangkat dulu ya.” Sakura berujar sembari mencium punggung tangan kanan Mebuki.

“Setelah urusan selesai langsung pulang gak usah mampir kemana-mana, mengerti,” titah Mebuki.

Sakura mengangguk kecil. “Iya bu, setelah dari puskesmas kami hanya akan ke tempat undangan habis itu pulang kok.”

“Izin bawa Sakura sebentar ya bu, setelah selesai langsung saya antar pulang,” ujar Sasuke.

Fi amanillah, semoga Allah memudahkan urusan kalian.”

Assalamu’alaikum,” ujar Sasuke dan Sakura bergantian.

Wa’alaikumsalam warrahmahtullah.”

Mebuki menatap kepergian dua calon pengantin di ambang pintu. Senyum haru tersemat di bibirnya kala melihat bagaimana Sasuke memuliakan anaknya. Tugasnya sekarang hanya berdoa,  berdoa semoga Allah memberikan kebahagian, rejeki, serta meridhoi setiap langkah mereka berdua.

Sasuke memasang sabuk pengamannya, sedetik kemudian ia mengamati kegiatan si gadis yang baru selesai memasang sabuk pengamannya.

“Sudah?”

Sakura mengangguk singkat. “Bismillah ayo jalan.”

“Surat pengantarnya sudah di bawa kan?” tanya Sasuke memastikan.

“Sudah Sas,” Sakura berujar sembari menepuk tas selempangnya. “maaf ya jadi ikutan repot.”

“Sudah tanggung jawabku juga Ra, santai.”

Sasuke mulai memundurkan mobilnya, memutar kemudi lantas melaju sedang menyusuri jalanan Surabaya menuju puskesmas setempat.

Sementara si gadis tersenyum tipis. Ya Allah sampai sekarang rasanya ia masih tidak percaya bakal merajut kehidupan bersama lelaki idamannya. “Makasih sekali lagi Sas.”

“Sama-sama Ra, sudah gak usah bilang makasih terus lagi puasa ini.”

“Apa hubungannya dengan puasa, aku kan cuma bilang makasih.”

Arti [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang