11

2K 278 51
                                        

“Sas maaf ya harus muter-muter begini jalannya.”

“Gak papa ini memang kemauan ku.”

Sakura menunduk tak enak. “Seharusnya tadi aku ngotot ke Jakarta, jadi kamunya gak bolak-balik begini.”

“Gak papa Ra, aku yang maksa kok sekalian jalan-jalan,” Sasuke memasuki jalanan tol. “kamu puasa?”

“Iya Sas.”

“Kata Karin kamu demam, kuat sampe sore?”

“Insya Allah, ini cuma demam saja kok Sas,” Pandangan Sakura bergulir ke arah jalanan tol yang lumayan ramai. “Sasuke dapat cuti berapa pekan nanti?”

“Kamu maunya berapa pekan?”

“Kok aku sih,” Pandangan Sakura kini bergulir ke arah Sasuke. “kamu dapat cuti dari atasannya berapa pekan?”

Senyum tipis terukir di wajah Sasuke. “Tergantung kamunya Ra mau aku cuti berapa pekan.”

Kernyitan tipis dibarengi senyum kecil terukir di wajah ayu Sakura. “Kok aku sih Sas, kan tergantung sama atasanmu bagaimana sih.”

Sasuke hanya tersenyum kecil menanggapi cuitan calon isterinya. Kedua tangannya sibuk mengemudi memasuki padatnya Kota Jakarta. “Mampir sebentar ke masjid ya, sebentar lagi masuk waktu dzuhur.”

Anggukan dari sang calon isteri membuat Sasuke meluncur mencari masjid yang sekiranya tidak ramai. Ia hanya tidak ingin menyulitkan Sakura nantinya. Alhasil mereka memasuki sebuah masjid di dekat perkampungan.

Setelah sholat dzuhur kedua sejoli tersebut memutuskan istirahat sejenak di serambi masjid sembari tilawah pada Al-Qur’annya masing-masing. Sesekali Sasuke akan membenarkan panjang pendek atau tajwid yang masih kurang tepat dari Sakura.

“Bacaanku masih amburadul ya Sas?” Sakura menutup Quran terjemahan bersampul merah muda dengan raut wajahnya yang tertekuk.

“Makanya dulu kalau ngaji gak usah aneh-aneh,” Sasuke kembali tersenyum tipis melihat raut sebal calon isterinya. “gak usah sedih begitu, nanti aku ajarin setelah nikah.”

“S-siapa juga yang sedih,” Kedua pipi Sakura merona samar. “Kamu mah kalau ngajarin bawa kayu, nanti ada yang salah langsung kena pukul.”

“Itu kan zaman anak-anak Ra, lagipula dulu kamu dipukul juga nerima-nerima saja.”

“Itu kan dulu Sas.” Sakura beranjak berdiri lantas mengikuti gerakan Sasuke yang mulai melangkah.

“Aku janji gak bakalan pake kayu nanti.”

“Iya gak pake kayu tapi pake segepok janur.”

“Itu dulu kali Ra,” Sasuke terkekeh pelan lantas membuka pintu mobil untuk Sakura. “lagipula gak bakalan juga isteri ku ku pukul, pakai cara yang menghasilkan pahala saja nanti ya.”

Kedua pipi Sakura kembali memerah. Gadis ayu itu menekan dada kirinya berharap dapat mengembalikan detak normalnya. Irisnya mengikuti setiap langkah Sasuke hingga memasuki mobil.

“Pakai sabuk pengaman mu.”

“A-ah iya.”

***

Setelah tujuh jam waktu tempuh dan berhenti sekali di masjid untuk sholat ashar, kini pasangan calon suami isteri itu telah tiba di provinsi jawa tengah, tepatnya di Surakarta. Mereka memutuskan istirahat sejenak di sekitar masjid sekalian menunaikan sholat maghrib.

Pandangan Sakura kini tertuju pada Sasuke yang saat ini masih mengantre membeli es buah di tepi jalan. Ia berkali-kali sudah menawarkan untuk bergantian menyetir, atau mengantre membeli bukaan, tapi Sasuke selalu menolak dengan berbagai alasan.

Arti [✓]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang