“Aku gak nyangka banget kak Hidan kerja jadi penghulu,” Sakura kembali menyunggingkan senyum kecilnya. “gak nyangkanya lagi bakal nikahin kita nanti.”
“Ra aku sudah pernah bilang belum kalau kamu jangan keseringan senyum sebelum kita nikah,” Sasuke memutar kemudi mobilnya menuju pom bensin. “kamu gak kasihan sama pahala puasaku?”
Sakura menggigit bibir dalamnya menahan rona merah yang mulai muncul. “Maaf, aku gak bermaksud begitu.”
“Kamu gak perlu minta maaf, akunya saja yang gampang kegoda,” Sasuke mematikan mesin mobilnya lantas melirik singkat calon isterinya. “sebentar ya Ra, aku turun dulu.”
Si gadis mengangguk pelan. Iris matanya mengikuti tindak-tanduk kesopanan Sasuke yang lebih memilih turun lantas membuka sendiri penutup bensin dari pada duduk diam nangkring di mobil. Sakura kembali mengulas senyum kecilnya. Masya Allah, Sasuke itu sudah sholeh, baik, pinter ngaji, sopan, bonus ganteng pula.
“Astaghfirullah Ra nggak usah mikir aneh-aneh.” Sakura bergumam pelan, irisnya sedikit melebar ketika Sasuke tiba-tiba memasuki mobil.
“Ada apa?”
“G-gak ada apa-apa kok Sas.”
“Yang bener?” Setelah memasang kembali sabuk pengamannya, Sasuke segera menghidupkan mesin mobil lantas menginjak pedal gas. “perasaanku bilang kamu nyembunyiin sesuatu deh Ra.”
“Perasaanmu aja kali Sas.”
“Ya memang perasaanku, gimana sih,” Sasuke terkekeh pelan lantas menyandarkan punggungnya. “padahal cuma duduk, tapi rasanya capek banget hari ini.”
Sakura tersenyum tipis. “Ya nggak papa, di dunia emang tempatnya capek kok,” iris matanya memandang lurus kemacetan jalanan Surabaya. “istirahatnya nanti aja pas udah di surga.”
Sasuke menoleh sempurna. Jelaganya menatap dalam sosok gadis di sampingnya. “K-kamu … masih inget?”
“Dulu aku gak ngerti sama sekali apa yang kamu omongin,” Sakura tersenyum tipis kala sekelebat masa lalu perlahan muncul. “aku pikir kamu cuma ngeledek, eh ternyata emang dasarnya orang bener-bener baik. Maaf ya Sas.”
“Santai Ra,” Sasuke menyandarkan punggungnya menikmati jalanan padat merayap di Kota Surabaya. “lagipula waktu itu aku juga seneng.”
“Maksudnya?”
Sasuke mengerjap pelan lantas menurunkan sedikit sandaran kursinya. “Ya begitulah.”
“Begitu gimana?”
“Ada deh.”
“Sas …”
“Balik ke KUA aja deh terus kita nikah sekarang, aku jamin bakalan tak kasih tau.”
Lelaki tampan itu tersenyum tipis mendapati raut cemberut calon isterinya. Ia berkali-kali beristighfar ketika rasa ingin mencubit hidung mungil atau mengusak pipi kemerahan Sakura tiba-tiba muncul. Ya Allah ia gak tau lagi tinggal berapa persen pahala puasanya yang tersisa sekarang.
Pikiran Sasuke berkelana jauh ke tempo dulu ketika ia dengan sengaja membuat kesalahan hingga terdampar mencabuti rumput liar di taman depan kelas anak-anak IPS bersama Sakura.
Kala itu tahun ajaran baru setelah libur panjang semester dan lebaran. Sasuke yang notabene nya mengincar salah satu perguruan tinggi dalam negeri kini memutuskan menerima tawaran kelas unggulan bagi penerima peringkat lima besar. Ia sedikit banyak berharap bisa sekelas bersama Sakura di tahun terakhir, namun sepertinya goresan takdir Allah berkehendak lain.
***
“Eh Saaras kosong-kosong delapan sini lo ikut gue,” ujar Sakura yang berdiri tegak di depan meja Saara, kelas sebelah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arti [✓]
RomansPerjuangan dua insan untuk menghalalkan segala aktifitas mereka di hadapan Allah © Masashi Kishimoto
![Arti [✓]](https://img.wattpad.com/cover/265921642-64-k289665.jpg)