CP.25

1K 102 9
                                        

Gulf yg melihat wajah syok kekasihnya hanya bisa diam dan kembali menunduk, dia tak mampu hanya untuk menatap wajah kekasihnya, Gulf pun dengan mati-matian menahan air matanya agar tidak menetes.

Sedang Mew yg perlahan lahan mulai sadar dari keterkejutan nya, pun berjalan mendekat kearah kekasihnya meraih kedua bahu Gulf, dan meremas nya pelan.

"A-apa yg kau katakan?, K-kau tau aku tak suka dengan bercandaan yg seperti ini Kan Gulf," ujar Mew dengan nada suara yg sedikit bergetar.

"Tidak phi aku serius aku ingin kita mengakhiri hubungan kita sekarang jg," ujar Gulf tegas namun tak berani menatap wajah Mew.

Menyadari hal itu Mew paham bahwa ini bukan lah yg di inginkan kekasihnya, dia tau kekasihnya tidak lah menginginkan untuk berpisah darinya, buktinya sang kekasih tak berani menatap matanya saat menyatakan kata perpisahannya

"Tidak tidak aku tau kau tidak serius, aku tau kau di paksa kan buktinya kau bahkan tak berani menatap mata ku sekarang, aku tau dan jg Sangat mengenal mu Gulf, kau kekasihku jadi aku tau bahwa kau tak yakin dalam kata-kata mu kan," ujar Mew dengan yakin sembari mengguncang pelan bahu kekasihnya, dan Gulf pun hanya bisa diam dan bungkam dengan penuturan Mew.

Sedang Mew yg yakin dengan apa yg di katakan nya pun, dengan berani menarik dagu Gulf hingga tatapan mata mereka bertemu, dan saat itu Mew bisa melihat tatapan sakit dan jg terluka di mata Gulf, seluruh air mata yg di tahan nya, dan jg ketakutan dan keraguan nya akan ucapan yg di lontarkan nya tadi.

Mew pun dengan segera memeluk Gulf dan mengelus lembut punggungnya, berusaha meyakinkan kekasihnya bahwa dia tak akan pernah meninggalkan Gulf apa pun alasannya.

Dan Gulf yg mendapat kan perlakuan seperti itu pun, menaikkan tangan nya dan mencengkram baju di bagian punggung Mew, lalu dia pun menangis dengan kencang sembari menyebut nama kekasihnya berkali kali, berharap dan memohon agar kekasihnya itu tak meninggalkan nya.

"Hiks tolong jangan tinggalkan aku hiks aku tak ingin sendirian lagi hiks aku mohon phi hiks aku mohon hiks hiks phi Mew hiks phi Mew hiks phi Mew," Gulf terus meracau, sembari dengan putus asa memeluk erat kekasihnya, seakan takut jika dia melepaskannya maka Mew akan menghilang dari hadapan nya.

"Tidak tidak aku tidak akan pernah meninggalkanmu mu, bahkan jika kau yg meminta ku aku tetap tidak akan meninggalkan mu, kau ada kasih ku jiwaku, dan kekasih hati ku kau lebih berharga dari apa pun, aku tidak akan pernah meninggalkan mu," ujar Mew jg memeluk erat kekasihnya itu, dengan air mata yg jg menetes pelan di matanya.

Hatinya benar-benar terluka melihat kekasihnya yg merasa hancur seperti ini, Mew tak berkata apa-apa setelahnya mereka diam sembari saling memeluk, Gulf masih lah menangis di pelukan kekasihnya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa kekasihnya tak akan pernah melepaskan nya, dan berusaha yakin pada apa yg baru saja di katakan kekasihnya.

Setelah mereka sama sama tenang satu sama lain, Mew membopong Gulf untuk duduk di sofa, dan kembali mereka diam dengan Gulf yg menyandarkan tubuhnya ke tubuh kekasihnya, dan Mew hanya diam sembari mengelus punggung kekasihnya.

"Sekarang bisa kau jelaskan mengapa tiba-tiba kau berkata seperti itu pada ku," ujar Mew tenang tanpa menatap wajah kekasihnya.

Gulf masih bungkam merasa enggan untuk menjawab, dia takut kekasihnya akan marah ketika mendengar yg akan dia katakan nantinya, dan Mew yg mengerti hanya diam menanti jawaban tanpa, memaksa sang kekasih untuk menjawab nya.

Trus diam memebuat Gulf pada akhirnya menyerah, dan memilih menjawab pertanyaan kekasihnya.

"Tuan jongchiveevat baru saja dari sini," ujar Gulf pelan, yg hanya dengan kata-kata itu memebuat Mew paham mengapa kekasihnya, tiba-tiba berkata ingin berpisah darinya.

Mew mengepalkan tangannya emosi namun dia tetap bungkam, dia tak bisa menunjukkan kemarahan di hadapan kekasihnya, dia tak ingin memebuat kekasihnya menjadi takut nantinya, menghela nafas berusaha untuk menenangkan diri Mew pun merangkul erat bahu kekasihnya.

"Tutup toko mu untuk hari ini, dan ikut dengan ku kita perlu untuk pergi menemui seseorang," ujar Mew dengan tenang, yg hanya di turuti saja oleh Gulf.

Mereka pun turun kelantai bawah dan merapikan toko Gulf dan menutup nya, lalu mereka pun naik ke lantai atas lagi lalu berganti pakaian, setelah itu mereka pun pergi menaiki taksi, yg di mana ternyata mereka pergi ke tempat di mana Mew biasa berkumpul dengan sahabatnya, dan di sana sahabat sahabat Mew terlihat sudah duduk menanti mereka, kerena sebelum Mew dan jg Gulf pergi tadi, Mew sudah meminta sahabatnya untuk berkumpul di cafe tempat bisa mereka berkumpul.

Mew pun menarik kan kursi untuk Gulf lalu menyuruhnya duduk, dan Mew pun jg mendidik kan dirinya di samping Gulf.

"Jadi ada apa kau meminta untuk bertemu Mew," ujar Tong bingung ke arah sahabatnya yg di angguki jg oleh Kaownah.

"Aku sudah keluar dari keluarga jongchiveevat," ujar Mew tegas secara tiba-tiba.

Yg memebuat kedua sahabatnya sedikit terkejut, namun pada akhirnya mereka hanya maklum, dan mengerti alasan mengapa Mew memilih keluar dari keluarga yg mungkin, sudah tidak bisa di sebut keluarga lagi oleh Mereka.

"Dan siang tadi tuan jongchiveevat datang menemui Gulf," ujar Mew melanjutkan memebuat kedua sahabatnya kaget, dan jg emosi mereka paham dan jg mengerti kemana arah pembicaraan ini akan berjalan.

"Lalu apa yg ingin kau lakukan setelah ini," ujar Kaownah, menatap sahabatnya jg kekasih sahabatnya bergantian.

"Kau pasti tau kan pak tua itu tetap tak akan diam saja dengan keputusan yg kau ambil ini," ujar Tong menatap sahabatnya itu.

"Aku berfikir untuk membawa nya pergi dari kota ini," ujar Mew tiba-tiba, yg memebuat ketiga orang lainnya terkejut.

Gulf menatap terkejut ke arah kekasihnya itu, karena keputusan tiba-tiba yg di buat kekasihnya itu.

"Apa maksud phi!?" Ujar Gulf terkejut menatap kaget kekasihnya.

"Kita tidak bisa lagi berada di sini Gulf, sekeras apa pun kita berusaha bersembunyi atau pun melawan pria tua itu, kita tetap tidak akan bisa lepas dari nya jika kita tidak pergi menjauh," ujar Mew berusaha meyakinkan kekasihnya.

Gulf terdiam mendengar dia tidak tau dan jg bingung ingin menjawab apa, dia bingung dan jg sedih apa kah harus sesulit ini baginya hanya untuk bahagia bersama kekasihnya.

"Aku tidak bisa pergi dari sini," ujar Gulf menunduk.

Memebuat Mew yg mendengarnya terkejut, dan langsung menatap kekasihnya.

"Apa maksud mu kau tak bisa pergi!?" ujar Mew sembari memegang kedua pundak kekasihnya itu.

"Toko bunga ku, aku tidak bisa pergi meninggalkan itu, itu adalah satu-satunya yg tersisa yg aku miliki dari orang tuaku, aku membuka toko itu karena keinginan kedua orang tua ku, aku tak bisa untuk meninggalkan itu begitu saja," ujar Gulf dengan matanya yg kini dengan perlahan menurunkan cairan beningnya.

Mew dan jg kedua sahabatnya yg mendengar itu hanya bisa terdiam, dan Gulf yg melihat itu hanya bisa menangis yg kemudian dia pun bangkit dari duduknya dan berlari keluar dari cafe, dan memasuki sebuah taksi dan meminta nya untuk mengantarkan Gulf ke rumah keluarga

Mew yg tadinya diam segera dia bangkit dari duduknya dan mengejar kekasihnya, namun terlambat taksi yg di naiki Gulf sudah lebih dulu pergi melaju membelah jalanan kota.

Mew meremas rambutnya emosi sembari menendang kerikil di sekitarnya.

"Arghk!! Sialan!!!" Ujar Mew berteriak emosi, sedang dua sahabatnya hanya bisa menghela nafas melihat hal yg baru saja terjadi di hadapan mereka itu.

TBC.

double up karena tangan aku gatel banget buat ngetik nih cerita, akhirnya aku pun nulis dua cp sekaligus 😅 dan sorry kalo sad nya kurang berasa saya masih berusaha nulis Sad yg bisa bener bener berasa 😭🙏 dan moga kalian suka see you sayang 😘🙏.

In Another Life.... (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang