56 - Maaf
Ayen menuruni tangga dengan tergesa lalu keluar rumah, mendapati Renjun yang tengah duduk bersama Arkha di teras depan.
"Ngapain sih lo ke sini?" semprotnya kesal. Renjun yang menyadari kedatangan Ayen segera berdiri, begitupun Arkha.
"Bang Arkha, aku izin ngobrol sama Jeara bentar, ya?"
Belum sempat Arkha menjawab, Ayen sudah lebih dulu menarik tangan Renjun menjauh dari sana. Arkha hanya mengernyit melihat kepergian keduanya.
"Bang, lo ngerasa gak kalau tingkah mereka kaya orang pacaran yang lagi berantem?" ujar Ardan dari ambang pintu. Arkha menoleh ke arah Ardan lalu kembali melihat Ayen dan Renjun di luar pagar rumah bergantian.
Iya juga, pikirnya. Biasanya mereka berdua selalu akur, tapi sekarang adik bungsunya tampak begitu marah pada Renjun.
"Jangan-jangan mereka pacaran di belakang kita lagi?! Wah gak bisa dibiarin!" Ardan sudah bersiap menghampiri mereka, sebelum Arkha menahannya.
"Nanti aja interogasinya, biarin mereka ngobrol sekarang. Kita lihatin aja dulu gimana si Renjun ngeluluhin Jeara yang lagi marah."
Tadinya Ardan menolak ide itu namun melihat Renjun yang tiba-tiba berlutut di hadapan si bungsu, Ardan cukup terkejut.
Mereka berdua hanya diam memperhatikan. Karena jarak yang cukup jauh mereka tidak bisa mendengar percakapan Ayen dan Renjun di sebrang sana.
"Aku minta maaf, karena gak berani jujur sama kamu, Jeara."
Ayen di depannya tak tega melihat Renjun yang tiba-tiba berlutut. Tapi egonya terlalu tinggi, bahkan untuk sekedar melihat wajah Renjun pun ia enggan.
"Aku tulus temenan sama kamu, Jea. Waktu kamu nunjukin video itu aku emang kaget ngelihat kamu nyiksa Kevin, tapi aku tahu kamu ngelakuin itu bukan tanpa alasan."
"Kevin emang saudara aku, dia anak dari istri pertama papa. Tapi dia gak pernah nganggap aku adiknya."
"Aku ... aku hanya anak dari seorang wanita simpanan." Ayen sontak menoleh kaget. "Aku dan Kevin baru bertemu lima tahun lalu saat aku mulai masuk SMP. Aku sama mama datang ke Jakarta. Kami bahkan sempat tinggal bersama mereka, berharap ayah dan keluarganya bisa menerima kehadiranku. Tapi ... kenyataan bahwa aku ini anak haram yang kehadirannya tidak diinginkan gak pernah berubah."
Ayen menatap nanar si koko manis yang masih menunduk dengan bertumpu lutut. Ingin rasanya menarik pundak itu dalam pelukan, memberikan kekuatan dan rasa nyaman. Mengatakan bahwa tidak apa-apa, jangan bersedih, semua akan baik-baik saja.
Namun lagi-lagi egonya terlalu tinggi. Ia bukan seorang gadis yang mudah memaafkan. Apapun alasannya, Renjun telah berbohong.
"Mereka gak pernah menerimaku, karena itu akupun gak akan menerima mereka atau menganggap mereka keluarga."
"Makanya aku gak pernah ngasih tahu kamu tentang Kevin."
"Tapi, meski aku gak pernah nganggap dia sebagai kakak, tetap saja setiap hari rasa takut menghantuiku. Aku takut membayangkan reaksi kamu kalau tahu siapa aku sebenarnya. Aku takut kamu membenciku--- seperti sekarang. Makanya aku gak berani ngomong."
"Aku minta maaf."
"Berdiri!" ucap Ayen akhirnya. Renjun yang tengah menunduk perlahan mendongak. Tatapan sayunya bertemu dengan manik bening Ayen yang tengah menatapnya tajam sebelum akhirnya gadis itu membuang muka.
Renjun segera berdiri. Namun dengan kepala yang sedikit menunduk.
"Gue bukan orang suci yang bisa memaafkan dengan mudah. Jadi dari pada lo buang-buang waktu mending sekarang lo pulang!" Setelah mengatakan itu pada Renjun, Ayen melenggang masuk ke dalam rumah, tak lupa berpesan pada dua kakaknya untuk melarang Renjun menemuinya lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
[1] Keluarga DERREN [ SEGERA TERBIT ]
Roman pour AdolescentsBangchan Areshta Derren harus kelimpungan mengurus ketiga adik nakalnya. Ia harus berperan sebagai kangmas, ayah sekaligus ibu untuk mereka setelah orang tua mereka meninggal lima tahun lalu. Aresh yang baru saja lulus kuliah harus menerima kenyataa...
![[1] Keluarga DERREN [ SEGERA TERBIT ]](https://img.wattpad.com/cover/260147158-64-k139292.jpg)