"Can we talk again? just like how we talk before." - Damaru Kylevan.
"I hide all my pain with the word I'm fine." - Aidam Kyleyaksa.
"What if... I told you I like you? would you love me back?" - Drakyle Arvedam.
"Talk to me, I miss you." - Dobbyan R...
"Sama siapa?" tanya Dobbi dan Dobbyan kompak dengan alis berkerut.
"Sama Idam." jawab Doyogi kemudian ia merebahkan dirinya disofa berwarna cream itu. Kakinya ia taruh ke paha Dobbi sedangkan kepalanya berada di paha Dobbyan.
"Ngapain si Idam? Nakalin lo?" tanya Dobbi, kini matanya fokus pada televisi.
"Gak ada, cuma balikin bebek gue yang jatoh." jawab Doyogi dengan senyum, otaknya memutar ingatan kejadian siang tadi.
"Kok dia tau itu bebek lo?" tanya Dobbyan, kini matanya menatap sang adik, tumben sekali Doyogi mau bercerita kesehariannya.
"Ya lo pikir aja by, yang bawa bebek mainan ke sekolah ya cuma Yogi doang." sahut Dobbi, matanya masih fokus pada tayangan televisi.
"Terus terus tadi dia bilang, dia merhatiin gue selama dua minggu ini." ucap Doyogi sambil berpikir.
"Ehh" respon keduanya tak santai.
"Kenapa?" tanya Doyogi.
"Jangan-jangan Idam suka elo." ujar Dobbyan yang membuat Doyogi langsung bangun dari rebahannya.
"Jangan ngaco ya, bisa aja si Idam disuruh baikin si Ogi supaya image 3dam makin bagus didepan anak-anak." sahut Dobbi kini matanya fokus menatap dua kembarannya.
Keduanya tampak berpikir, benar juga ya. Harusnya mereka waspada karena posisi mereka terancam.
Lalu dengan itupun ketiganya kembali mengadakan rapat, untuk bagaimana caranya agar 3Dam tidak mendapat spotlight lagi.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jadi gimana sekolah baru kalian?" tanya Ajun pada ketiga adiknya yang sedang terlentang didepan televisi.
"B aja." jawab ketiganya kompak.
"Pedam ikut eskul apa?" tanya Ajun pada si sulung triplets.
"Vedam not Pedam, lo bisa bedain huruf gak sih bang?" bukannya menjawab pertanyaan Ajun, Arvedam malah emosi karena sang abang yang tak pernah benar memanggil namanya.
"Yelah tuh, jadi lo ikut eskul apa?" Ajun bertanya lagi tanpa memperdulikan protesan Arvedam.
"Ck biasalah." jawab Arvedam tak minat.
Biasa dikamus hidup si ambis Arvedam itu berusaha ngikutin semua eskul yang ada, terutama Kimia club, Fisika club, Matematika club, Biologi club.
"Kalo Damar ikut eskul apa?" kini Ajun bertanya pada si tengah yang lagi asik membunyikan tangan si bungsu.
"Gak boleh podoh, ngapain si lo." ujar Arvedam menarik tangan Damaru menjauh dari tangan Idam, sedangkan si bungsu tidak peduli pada semua itu.
"Lo juga ngapa sih diem aja diapa-apain sama Damaru." ujar Arvedam memarahi si bungsu yang masih tidak peduli.
"Damar ikut eskul apa?" Ajun kembali bertanya mengalihkan atensi adiknya.
"Belum tau sih, mungkin futsal." jawab Damaru yang kembali meraih tangan Idam kali ini ditepuk-tepuk nya pelan.
"Kalo Idam ikut eskul apa?" Ajun bertanya pada si bungsu.
"Bang, tadi adek abis ngupil." ucap Idam pada Damaru yang asik memainkan jarinya tanpa menghiraukan pertanyaan Ajun.
"IHH JOROK." seketika Damaru melepaskan tangan Idam dan membuat Idam tertawa. Dia gak beneran ngupil, cuma mau jahilin Damar aja.
"Adek ikut eskul apa?" tanya Ajun lagi, untung stok kesabaran dia unlimited.
"Gak ikut apa-apa" jawab Idam yang kini menggeser posisi tidurnya, kepalanya berada di perut Damaru, kakinya berada diperut Arvedam.
"Kenapa?" tanya Ajun lagi.
Idam berpikir sejenak, "Judulnya aja Ekstrakulikuler, yang namanya ekstra berarti tambah, dan ekstrakulikuler adalah kegiatan buat orang-orang yang punya energi ekstra, sedangkan Idam gak punya energi apapun." jelasnya panjang lebar yang membuat ketiga abangnya menghela nafas.
"Yaudah nanti kalo ada yang mau kamu ikutin kamu ikut aja." ujar Ajun menenangkan kemudian pergi kekamarnya.
"Aku sendiri gak tau apa yang buat aku harus lakuin hal itu." gumam Idam sambil bangun dari rebahannya kemudian menuju kamarnya.