Arvedam & Samdobbie

286 59 1
                                        

"Heh Drakula."

Sejujurnya Arvedam rindu dengan panggilan itu, sudah lama sekali ia tidak mendengarnya, mungkin sudah sekitar setahun yang lalu.

Panggilan yang membuat orang lain ikut memanggilnya Drakula, ia tak suka saat yang lain memanggilnya Drakula, tapi kalau dia yang manggil gaapa.

Walau hatinya tidak tenang, tapi wajah lelaki itu tetap tenang, seraya memberikan tatapan datarnya pada orang yang memanggilnya Drakula.

Samdobbie Arjundara.

Jauh sebelum ia pindah sekolah, ia sudah mengenal Dobbi, teman lesnya.
Dimanapun tempat les mereka berdua entah kenapa selalu bertemu, dan dengan alami menjadi saingan, membuktikan siapa yang paling terbaik.

Semuanya berjalan lancar, seperti teman pada umumnya, sampai suatu hari teman mereka iseng menjodohkan keduanya. Arvedam tak ambil pusing, namun ia sedikit kesal karena tidak hanya teman satu tempat lesnya yang menjodohkan keduanya.

Arvedam dan Dobbi les di lima tempat yang berbeda, dan sudah pasti temannya beda semua, namun entah kenapa semua teman-temannya malah menjodohkan keduanya.

Awalnya biasa aja, Arvedam juga ikut menambahkan bumbu-bumbu agar drama tersebut berjalan lancar, menyenangkan teman-temannya karena tekanan dari pelajaran, tapi lama kelamaan ia menjadi tak suka.

Tak suka saat rasa asing ini hadir dalam hidupnya. Ia jadi lebih sering memperhatikan Dobbi, memperhatikan cara anak itu berbicara, berjalan, makan dan lain sebagainya.

Arvedam dan Dobbi sangat sering terlibat pertengkaran, seperti pertengkaran anak-anak yang memperebutkan mainan.

Mereka selalu bertengkar dan akur begitu saja seperti tom and jerry.
Baik Arvedam maupun Dobbi keduanya terbiasa bersama, sampai disuatu waktu keduanya memutuskan untuk menjadi lebih dekat, tapi baru juga sebulan dekat tiba-tiba saja Dobbi mendiamkannya dan menjauhinya begitu saja.

Meski terlihat tidak ambil pusing, sebenarnya dia selalu memikirkan kenapa Dobbi menjauhinya. Namun, takdir sepertinya sedang baik pada seorang Arvedam. Ketika hubungannya dengan Dobbi semakin jauh di tempat les, dia justru dipindahkan sekolah. Satu sekolah bahkan satu kelas dengan manusia menyebalkan tapi dia rindukan : Dobbi. Dan wow, kejutan besar Dobbi ternyata juga triplet.

Tentu saja Arvedam tidak berani menegur Dobbi terlebih dahulu. Dia hanya diam memperhatikan anak itu berbincang dengan kembarannya. Lucu, imut, seperti biasanya. Arvedam tanpa sadar tersenyum. Dia cepat-cepat mengambil hp untuk mengalihkan perhatian.

"Heh Drakula." Sepertinya Arvedam terlalu merindukan panggilan itu.

"Oi Drakula budeg." Untuk memastikan ia tidak salah dengar, Arvedam mengalihkan pandangannya. Dan benar saja dihadapannya ada satu-satunya manusia yang memanggil dia drakula, Dobbi.

"Ayo taruhan!" Ucap dobbi lagi. Cukup sulit untuk Arvedam menahan senyum. Rindu sekali dengan manusia menyebalkan ini.

 Rindu sekali dengan manusia menyebalkan ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Dobi hampir saja meloncat dari kursinya karena kaget. Di depan itu bukannya Arvedam? Musuh bebuyutannya? Dan ada tiga Arvedam?! Astaga satu saja sudah mengancam kedudukannya sebagai juara kelas bagaimana kalau ada tiga?!

Begitulah reaksi Dobbi saat 3dam masuk. Dia sudah mengenal salah satu dari tiga anak kembar itu.

Drakyle Arvedam, orang yang entah kenapa selalu satu tempat les dengannya. Dan menjadi saingan terberatnya dalam mendapatkan nilai di tempat les. Mau dimanapun dia les, selalu saja ada manusia dingin satu itu. Dan anehnya lagi semua teman les mereka selalu menjodohkan mereka. Awalnya, Dobbi tak ambil pusing menganggap bercandaan. Tapi yang awalnya candaan itu berubah menjadi sebuah perasaan asing. Entah sejak kapan dia selalu ingin melihat Arvedam, senang setiap kali mengajak anak itu berdebat. Tapi Dobbi masih tidak mengerti perasaannya sendiri.

Sebenarnya, dia masih marah pada Arvedam. Entahlah dia juga bingung kenapa dia marah ketika melihat Arvedam jalan dengan yang lain. Memangnya dia siapa? Arvedam bukan miliknya, harusnya dia tidak marah. Tapi Dobbi pun bingung kenapa dia marah dan malah menjauhi Arvedam. Dan kalau boleh jujur, sebenarnya dia rindu Arvedam. Dia berusaha menjauh agar perasaannya tidak semakin jauh, namun lihat sekarang, mereka justru makin di dekatkan.

"Heh Drakula." Dobbi mengumpulkan keberanian setelah dua minggu anak itu sekelas dengannya. Bodo amatlah, dia terlalu rindu pada manusia yang dia panggil drakula ini. Akhirnya dia menyapa manusia aneh itu lebih dahulu, menampilkan senyum terbaiknya untuk si drakula kesayangannya.

Arvedam mengangkat kepalanya, melihat siapa yang memanggilnya.
Dobbi dan Arvedam bertatapan sebentar. Kelas memang sepi karena saat itu waktu istirahat.

Sejak tadi sebenarnya ada dua manusia yang melihat gerak-gerik kedua orang itu. Setelah dapat timing yang pas - saat Dobbi dan Arvedam bertatapan - dengan inisiatif, duo bocil membuat background sound music sendiri.

"AWALNYA KU PURA PURA LAMA LAMA KU JADI SUKA." Nyanyi Idam kencang dari depan kelas, tepatnya ia sedang duduk dimeja guru.

"OH TUHAN INIKAH YANG NAMANYA CINTA.", Sahut Doyogi tak kalah kencang dari kursi belakang kelas yang terletak dipojok kanan.

Keduanya Sukses mendapatkan tatapan mata tajam dari Dobbi dan Arvedam.

"TADINYA BIASA SAJA, SEKARANG KU BENAR-BENAR CINTA" nyanyi keduanya secara bersamaan sambil berlari keluar dari kelas, takut diamuk kakak kembar mereka.
Ya walaupun suara keduanya bagus tapi tetap saja itu menganggu.

Hmm abaikan duo bocil itu, kembali pada Arvedam dan Dobbi yang saling pandang kemudian tertawa bersama karena melihat tingkah adik mereka yang sangat absurd.

3DAM VS 3DOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang