Pelurusan Masalah

225 43 13
                                        

"Widih, rapih banget pada mau kemana nih?" tanya Doyogi pada dua kembarannya yang bersiap untuk pergi, Doyogi sendiri sedang bersantai depan tv sambil makan ciki.

"Mau pergi." jawab Dobbyan sambil mengecek lagi isi tasnya, takut-takut ada yang kelupaan.

"Berdua aja? Gue gak diajak?" tanya Doyogi masih dalam posisi rebahan.

"Ya kalo lo mau ikut ayok aja sih." jawab Dobbi membuat mata Doyogi berbinar.

"Wokeeeh tunggu ya, gue akan siap-siap." Doyogi dengan semangat berlari kekamarnya tanpa memperdulikan cikinya yang berantakan gitu saja dimeja.

Byan yang melihat itu hanya menggelengkan kepala kemudian membersihkan ciki-ciki itu.




Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Rapih banget lo Damn, mau kemana?" tanya Arvedam begitu melihat si bungsu melewatinya yang sedang bersantai diruang keluarga, lalu memakai sepatu putihnya.

"Kepo lo kek wartawan." jawab Idam sambil mengikat tali sepatunya.

"Gue gebug dada lo sampe bunyi 'deg' nih ya." Omel Arvedam sambil berjalan mendekati sang adik.

"Mau kemana?" tanyanya lagi setelah duduk disamping Idam.

"Kepo banget sih lo Damn." ujar Damaru mendekati keduanya sambil membawa Yoghurt strawberry.

"Mau kemana dek?" tanya Damaru pada Idam sambil duduk disebelah kanan Idam.

"Main." jawab Idam singkat sambil mengecek isi tasnya.

"Anak setan, giliran gue yang nanya lo jawabnya ngeselin." ujar Arvedam sambil mencubit pipi Idam.

"Lo hobi amat sih melakukan kekerasan sama gue? Apa salah gue?" Idam mulai berdrama yang membuat Arvedam memutar bola matanya, lelah sekali berhadapan dengan Idam.

Sedangkan Damaru hanya tertawa, ya walaupun ia juga suka tekanan batin jika harus berhadapan dengan dua saudara kembarnya yang kelewat ajaib.


Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Idam keluar dari mobil, gak dia gak bawa mobil sendiri dia dianter sama supir pribadi keluarganya. Idam membenarkan letak maskernya sebelum berjalan memasuki cafe yang berada beberapa meter didepannya, mencoba tenang dan berpura-pura tidak menyadari bahwa dua abang kembarnya mengikutinya.

Sampai ditempat yang telah ia pesan, dapat dilihat ada tiga orang yang sedang menunggunya.

Kok tiga? begitu pikirnya, tapi ia tidak ambil pusing, kakinya melangkah mendekat pada tiga pemuda yang belum menyadari keberadaannya.

"Sudah menunggu lama?" tanya Idam sambil duduk disalah satu kursi tepat disamping Doyogi.

Ketiganya melihat Idam, sedikit terkejut karena mereka tidak mendengar langkah kaki Idam, dan terkejut juga karena yang mereka temui adalah Aidam, bungsu dari 3Dam.

Idam melihat ketiganya bergantian, menghela nafas sebentar, kemudian membuka maskernya.

"Saya langsung to the point aja ya, saya mau jelasin kalau yang dilihat kalian 12 april tahun lalu itu saya, bukan arvedam atau damar, ini buktinya." ucap Idam sambil memberikan foto dan video hari itu.

"Kalo kalian gak percaya, kalian bisa cek informasi kapan foto dan video itu diambil." lanjutnya.

Idam melirik sedikit ke sudut kanan, dimana abang kembarnya sedang menutupi wajah dengan buku menu, Idam tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

"Ahh, saya harus pergi, kalau kalian masih butuh penjelasan kalian bisa nanya ke yang bersangkutan."

"Apa tujuan lo kasih kita ini?" tanya Dobbyan sambil menatap Idam.

"Biar kalian gak salah paham."

"Dan untungnya buat lo apa?" tanya Dobbi.

"Gak ada, tapi saya gak mau jadi sebab hubungan orang berakhir."

"Saya pergi dulu, kalau ingin bertanya, tanyakan pada dua orang itu." ujar Idam sambil menunjuk Arvedam dan Damaru yang masih bersembunyi dibalik buku menu.

Idam bangkit dari duduknya, meninggalkan satu smartphone yang dijadikan sebagai bukti pada Dobbyan dan Dobbi.

Doyogi ikut bangkit, mengejar Idam yang sedang menuruni tangga.
Idam menghentikan langkahnya, membalikan tubuhnya pada Doyogi yang kini terkejut.

Idam mengangkat alisnya, bertanya pada Doyogi. Doyogi menggaruk tengkunya yang tidak gatal lalu memberikan senyum yang dipaksakan, Idam kembali membalikan tubuhnya, berjalan menuruni tangga meninggalkan Doyogi yang lagi mengikutinya.

"Aidam." panggilan itu membuat keduanya menghentikan langkah.

"Wahh kebetulan banget ya ketemu disini, emm kata orang-orang kalau gak sengaja ketemu itu jodoh." ujar Gadis berambut panjang itu sambil tersenyum malu.

Idam sendiri hanya diam tidak memperlihatkan ekpresi apapun.

"Emm kamu mau kemana Dam?" tanya gadis itu sambil mendekat kearah Idam.

Idam menghela nafas, mencoba tenang. Tangan kirinya mengambil tangan kanan Doyogi, menggenggam dengan lembut tangan pemuda yang kini terkejut karena tindakan Idam.

"Saya mau kencan lagi, permisi." jawab Idam lalu membawa Doyogi pergi dari cafe itu, meninggalkan gadis yang kini tengah terkejut dan menatap kepergian dua orang itu.

"Kencan lagi dia bilang. cihh." Gerutu gadis itu kemudian kembali ke mejanya.

" Gerutu gadis itu kemudian kembali ke mejanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




"Dam, kita mau kemana?" Doyogi memecah keheningan sejak beberapa menit lalu, keduanya kini sedang didalam mobil Idam, iya tadi Idam meminta supir pribadinya menjemputnya.

"Kencan." jawab Idam sambil menatap keluar jendela.

Doyogi melirik Idam dengan tatapan tak percaya. Sebenarnya Idam tadi hanya ingin pulang, menghabiskan waktunya dengan rebahan sambil menonton mukbang di yutup, tapi gara-gara ia tak sengaja bertemu gadis bernama Arum ia langsung mengganti jadwalnya. Ia juga kesal karena ucapan Arum yang bilang kalau mereka berjodoh, Idam ingin yang menjadi jodohnya itu Doyogi.

Ehh apa?

3DAM VS 3DOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang