FDC_28

55 14 22
                                        

Keesokan hari nya mereka berempat. Eca, Zia, Gea, dan Rani sudah sepakat menemui Lidia untuk menanyakan masalah itu.

Mereka semua berjalan menuju kelas Lidia yang berada di lantai 1, Gea yang sangat berani langsung bertanya pada salah satu siswi yang ada di dalam kelas.

"Permisi kak, kak Lidia ada nggak ya?" Tanya Gea.

"Kayaknya Lidia ada ditaman sama Melda sama Sindi." Ucap salah satu siswi yang kebetulan akan keluar kelas.

"Ouh makasih ya kak." ujar Gea diangguki siswi tersebut.

Setelah itu mereka berjalan kearah taman dan benar saja disana ada Lidia dkk yang sedang mengobrol.

"Kak." Panggil Gea.

Lidia  menengok kebelakang, ternyata mereka berempat sudah berdiri dibelakang nya. " Ngapain lo kesini?"

"Gue mau ngomong sama lo." ujar Gea.

"Yaudah cepet." Ujar Melda.

"Lo kan dalang dari kasus nya Eca?" Tanya Rani to the point.

"Kasus apa?" Tanya Lidia yang tidak mengerti arah bicara Rani.

"Jangan sok polos deh, lo kan yang ngubah tanda panah nya biar Eca nyasar?" tanya Rani lagi.

Lidia yang dituduh seperti itu merasa emosi, ngubah tanda? Perasaan dirinya tidak pernah melakukan nya. " Heh lo jangan asal nuduh yah, fitnah itu namanya!"

"Siapa yang nuduh, orang cuma lo kok yang benci sama Eca." timpal Zia.

"Heh inget yah, sebenci-benci nya gue. Gue nggak berani celakain orang, apalagi sampe menyangkut nyawa!" Pungkas Lidia emosi.

"Halah, orang lo sering bully anak sini kok." Sindir Rani yang sudah berada di depan Lidia.

"Berani banget ya lo fitnah gue!" Bentak Lidia.

"Siapa yang ngefitnah si? Orang itu kenyataan kok!" ujar Zia.

Lidia mengalihkan pandangan nya pada Eca yang dari tadi hanya  diam melihat sahabatnya adu mulut dengan Lidia.

"Sekarang gue tanya sama lo!"ucap Lidia menunjuk muka Eca.

"Apa lo liat gue ngubah tanda panah nya? Apa lo denger suara gue disana? Nggak kan?!!" tanya Lidia beruntun.

"Aku nggak liat orang yang ngubah tanda itu."jawab Eca membuat senyum miring Lidia timbul.

"Terus kenapa lo nuduh gue?" Tanya Lidia tenang.

"Aku nggak bermaksud nuduh kak Lidia tapi kan cuma kak Lidia yang nggak suka sama aku." Ujar Eca mencoba meredakan emosi Lidia.

"Emang gue itu nggak suka sama lo, tapi bukan berarti gue yang nyelakain lo." Papar Lidia menahan air mata yang sudah membendung di matanya.

"Udah deh ngaku aja, lo kan selalu menghalalkan segala cara agar rencana lo berjalan lancar. Iya kan?" Desak Rani semakin membuat Lidia geram.

Plak!

Mereka semua terperangah ketika tangan Lidia menampar pipi Rani dengan kuat membuat Rani jatuh.

"GUE UDAH BILANG KALAU GUE NGGAK PERNAH CELAKAIN ECA!!" teriak Lidia, dada nya naik turun menandakan emosi yang sudah memuncak.

"LO ITU CURANG!" Balas Rani tak kalah teriak.

"Gue itu selalu main sehat, nggak pernah ada nama curang di kamus gue."  Ucap Lidia yang matanya sudah banjir air mata.

"Halah gue tetep nggak percaya sama lo!" Papar Rani.

Eca yang melihat semuanya merasa sedih, sahabat nya ini rela berdebat hanya karena masalah nya.

"Apa bener kak Lidia yang ngerancanain ini semua?" tanya Eca menyentuh pundak Lidia yang terasa gemetar.

"Gue nggak pernah ada niatan celakain Lo Ca. Emang gue benci sama lo tapi gue nggak berani ngelakuin hal sejahat itu hiks...."  Jelas Lidia sesenggukan.

"Iya bener lagian waktu jurit malam itu Lidia sama kita kok." sahut Sindi diangguki juga oleh Melda.

"Kalian juga sama kaya Lidia. Atau jangan-jangan kalian juga ikut andil dalam rencana dia?" Pungkas Rani masih kekeuh dengan pendpat nya.

"Heh jangan asal bicara lo yah! Gue sama Melda nggak ada sangkut pautnya sama kejadian itu apalagi Lidia."  bentak Sindi tidak terima.

"Ngapain lo nangis kaya gitu. Mau caper sama Eca biar Eca percaya sama lo gitu?" Sinis Gea.

"GUE BERSUMPAH KALO GUE NGGAK PERNAH NGELAKUIN ITU!!" Teriak Lidia yang sudah lemas di atas tanah.

Eca jadi merasa serba salah, disatu sisi dia ingin tau siapa dalang dari masalah nya tapi disisi lain dia tak tega melihat Lidia yang terlihat sangat frustasi.

"Kak, apa bener kak Lidia bukan orang nya?" Tanya Eca ikut jongkok dihadapan Lidia.

"Sumpah Ca, gue nggak pernah ada niatan celakain Lo." Ucap Lidia melirih.

" Kak Lidia benci kan sama aku?" Tanya Eca lagi.

"Gue emang benci sama lo, tapi gue selalu inget pesan ibu gue kalau gue nggak boleh jahat sama orang hiks-"  ujar Lidia sesenggukan.

"Paling sifat lo itu nurun dari ibunya." Sahut Rani membuat mata Lidia memerah.

"JAGA OMOMGAN LO! IBU GUE ITU ORANG YANG PALING SEMPURNA BAGI GUE, JADI JANGAN PERNAH LO SEBUT IBU GUE!"  bentak Lidia.

"Kan tadi kakak bilang pesan ibu, maksudnya apa kak?" tanya Eca mengelus lengan Lidia lembut.

"Ibu gue....Ibu...." ucap Lidia tersendat.

"Iya ibu kakak kenapa?"

"Ibu gue udah meninggal hiks.... Sejak gue SMP ibu gue pergi ninggalin gue sendiri sama papa hiks.... Gue sendiri, dan selalu sendiri hiks...."  Jawab Lidia membuat mereka semua kaget. Termasuk Rendra dkk yang sedari tadi menyaksikan nya di belakang pohon.

"Terus pria yang selalu sama kak Lidia kalau ada rapat wali murid itu siapa?" Tanya Zia penasaran.

"Dia.... Om gue, adik dari papah gue. Dia yang udah nganggep gue anak hiks.... Dia yang selalu jagain gue, selalu ngasih nasehat sama gue hiks...."

"Jadi kak Lidia Yatim piatu?" tanya Eca hati-hati.

"Iya.... Saat itu gue masih kecil belum tau  apa-apa. Orangtua gue kecelakaan mobil, dan yang bikin gue drop itu mereka ninggalin gue sendiri di dunia ini hiks...." Jelas Lidia mengingat kembali kedua orangtuanya​.

Mereka semua benar-benar syok mendengar pengakuan Lidia.  Ternyata dibalik sosok Lidia yang selalu ceria terdapat sosok Lidia yang rapuh.

"Maafin kita yah kak, kalau kita udah nuduh kak Lidia sembarangan." Ujar Gea diangguki Lidia.

"Gue janji bakal nyari tau siapa yang ngerencanain hilang nya Eca." ucap Lidia berjanji.

"Makasi banyak Kak, dan maaf udah nuduh kak Lidia sama temen-temen nya." Ujar Eca tersenyum manis.

"Iya nggak papa, gue juga minta maaf kalau gue punya salah sama lo." Ucap Lidia tulus.

"Jadi kita mau apa nih?" tanya Rafa tiba-tiba.

"Ternyata kalian juga disini." Sahut Zia.

"Menurut gue kita harus selidiki kasus ini,   kalo ada yang mencurigakan langsung kita cari tau setuju?!" saran Rendra.

"SETUJU!" teriak mereka semuanya tapi ada 1 orang yang mengatakan itu sangat pelan.

"Sial, gue nggak bisa mengelabuhi mereka. Jangan sampai mereka tau kalau orang yang dimaksud itu gue."   Batin orang itu dan kembali memancarkan senyum palsunya.

•|| To be Continued ||•

FREEDECA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang