TIGA PULUH DUA

3.6K 333 35
                                        

Perempuan itu melangkahkan kakinya cepat sambil menarik kasar koper di tangan, beberapa kali netra-nya melirik jam yang berada di ponsel, memastikan bahwa dirinya tidak ketinggalan pesawat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Perempuan itu melangkahkan kakinya cepat sambil menarik kasar koper di tangan, beberapa kali netra-nya melirik jam yang berada di ponsel, memastikan bahwa dirinya tidak ketinggalan pesawat. Karena bangun kesiangan  jadilah dia terburu waktu seperti ini, sungguh mengesalkan.

Sesampainya di dalam pesawat, kedua mata itu menelusur, berusaha mencari nomor kursinya, memastikan kembali dengan melirik tiket yang dia pegang. "Nah ini."

"Shira?" Suara familiar itu berhasil membuat perempuan itu menengok.

"Ken?" Dengan ekspresi tidak jauh beda perempuan itu terkejut.

"Buruan duduk." Dan suara dari belakang membuat keduanya menengok.

"Mami, apa ini?" Lelaki itu refleks berdiri, mungkin karena kesal.

"Ken juga ikut?" Tanya Shira memutar  tubuhnya ke belakang.


"Ssst, berisik kalian duduk." Omel Raya ketika penumpang lain mulai melirik aneh.

"Malu-maluin deh." Dan suara bocah enam tahun itu ikut memanasi membuat kedua manusia itu akhirnya duduk di tempatnya masing-masing.

Sejak kejadian seminggu lalu ketika mereka bertemu di restaurant dan berakhir dengan drama tidak mengenakan nyatanya masih meninggalkan bekas mengesalkan di hati Shira, jadilah selama perjalanan yang belum ada setengah ini perempuan itu memilih diam sambil membaca majalah Fashion yang kebetulan disediakan. Walau begitu, matanya tetap saja melirik ke samping, menyaksikan sang lelaki yang sedang mendengarkan musik lewat earphone.

"In a few moments, the flight attendants will be passing around the cabin to offer you drinks/meals/snack. (Dalam beberapa saat, para pramugari akan berjalan di kabin untuk menawarkan anda minuman/makanan/makanan ringan."


"Kawa mau makan apa?" Suara lembut Raya terdengar.

"Aku mau tidur aja," jawaban anak itu  berhasil membuat bibir Shira melengkung.

"Permisi Bapak/Ibu apakah anda butuh makanan ringan atau minum?" Shira tersenyum lalu menengok ke arah Farrel yang masih memejamkan mata.

"Tidak, terima kasih," jawabnya ramah.

"Baiklah." Pramugari itu berkata sopan lalu berlalu ke penumpang lain.

"Mami, aku mau pipis." Rengek Kawa kali ini.

"Farrel, antar Kawa ke kamar mandi, kaki Mami sakit." Bisik Raya dari belakang tapi tidak ada jawaban.

Q U A L MTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang