Ini tentang Nara. Seorang perempuan kuat dan tangguh dalam menjalani kehidupan. Yang tak gentar hanya karena komentar seseorang. Karena dirinya tumbuh bersama dengan cacian yang setiap hari menjadi asupan. Berharap semuanya sirna dengan berlalunya k...
"Ya sudah, kita ke masjid aja ya. Sambil sholat ashar."
Nara pun berboncengan menggunakan motor milik Adam untuk menuju masjid yang dimaksud oleh Adam.
"Gue nggak ngerti bacaan sholat, Dam. Gue harus baca apa?" Ujar Nara yang gelisah.
"Saya yakin mba bukan nggak ngerti, hanya lupa saja. Pasti kalo denger imam baca, mba pasti inget. Mukenahnya pasti ada di dalem. Yuk masuk." Adam berjalan mendahului Nara.
Sesampainya di tempat wudhu, Nara berpisah dengan Adam karena ada batasan antara temoat wudhu laki-laki dan perempuan
"Mampus, wudhu aja gue nggak paham gimana caranya," ujar Nara yang memaki dirinya sendiri.
Melihat ada seorang anak remaja mengambil air wudhu tepat disampingnya, Nara memperhatikan dengan teliti. Dan segera ia ikuti setelah ia pergi dan dengan tata cara yang tidak beraturan alias asal-asalan.
Maafkan Nara ya Allah yang begitu berdosa.
Setelah selesai, Nara mengambil mukena yang berada di lemari masjid. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengenakannya dan berdiri di shaf paling belakang.
Nara meneteskan air mata saat mendengar lantunan ayat-ayat suci al-quran dibacakan begitu indah. Hingga salam, Nara masih meneteskan air mata. Terlebih saat imam membaca istighfar, seolah setan dalam tubuh Nara menjauh. Tenang sekali hatinya berad ditempat ini.
Saat berdo'a pun, Nara begitu khusuk dan terhanyut dalam tangisnya. "Ya allah engkaulah Tuhan seluruh alam, ampunilah segala kesalahanku. Baik dosa kecil maupun besar. Dosa yang hamba berbuat dengan sengaja maupun tidak sengaja. Tidak ada tuhan selain engkau wahai sang pengampun."
Nara memgusapkan tangannya di wajahnya. Ia langsung melepas mukenah dan ia lipat lalu masukkan kembali ke tempat semula. Terlihat sudah banyak orang yang meninggalkan masjid.
Nara langsung menuju depan masjid untuk menggunakan sepatunya kembali. Namun saat ia sedang menggunakan kaos kakinya, seseorang datang membuat Nara sedikit tersentak.
"Mba, saya mau ngajar anak-anak ngaji dulu. Kalo mba mau pulang dulu, silahkan."
Dengan mata yang sembab Nara menjawab, "Oke, gue pulang duluan."
Sepertinya Adam tak puas dengan jawaban Nara. Karena sebenarnya, ia menginginkan Nara merengek untuk tetap berada disini bersama dengannya lalu pulang bersamanya. Atau ia ingin mengajari Nara mengaji.
"Gue duluan, makasih." Nara bangkit dari duduknya saat selesai menggunakan sepatu. Ia melangkah pergi begitu saja meninggalkan Adam yang menyesali ucapannya.
"Astaghfirullah, maaf kan saya ya allah. Yang belum bisa membimbing hambamu untuk hijrah dijalan-Mu." Adam menyesal ucapnnya sendiri.
Nara berjalan sendirian dengan percaya dirinya. Ia tidak peduli dengan bisikan-bisikan orang yang mencemoohnya.
Sebenarnya, Nara ingin sekali menangis. Tapi, ia harus menahannya, karena tidak mungkin nangis sendirian di tempat umum seperti ini karena yang ada hanya akan mengundang perhatian publik.
"Sedih banget ya jadi gue," ujar Nara dalam hatinya yang mengkasihani dirinya sendiri.
Hingga saat Nara berjalan di jalanan yang sedikit sepi, seseorang memeluk Nara dari arah belakang. Saat Nara akan berontak, ia mengatakan, "ini gue koko, Nar."
Mendengar hal itu, Nara sudah tidak tahan lagi untuk menahan tangisnya. Nara langsung membalikkan badannya dan tenggelam dalam pelukkan Dareen. Ia menangis begitu kencang. Rasanya semua beban lepas begitu saja dalam pelukan hangat itu.
"Ko, orang kaya gue emang kayanya ngga pantes jadi baik, ya?" Ujar Nara saat disela-sela tangisnya.
"Sttt, nggak boleh ngomong gitu. Udah yaa sekarang ke mobil gue, malu disini dilihat orang." Dareen menuntun Nara masuk kedalam mobil yang tak jauh dari posisi Nara.