Bonus Chapter - Lengkap Sudah (1)

3.7K 358 5
                                        

Terimakasih sebanyak-banyaknya untuk 100k readers!!!!! Chapter ini ku buat special untuk 100k !!!



Warn : hampir full narasi, udah lama enggak ngetik jadi maafkan deh kalau jelek tulisannya huhuuu.
































































Dua puluh tahun kemudian...

Cerita satu dekade lalu
Seoul, 20xx

Layaknya seorang manusia yang bisa berubah setiap saat tanpa diduga, begitupun halnya dengan kehidupan. Tidak ada yang berjalan mulus dalam kehidupan seperti ekspetasi. Pasti ada satu atau lebih yang melenceng dari ekspetasi kita. Namun sebagai manusia, kita selalu akan dipaksa untuk menerima kenyataan atau realita tersebut. Walaupun terkadang lebih baik yang kita bayangkan atau bahkan sebaliknya.

Dari sekian banyaknya sang agung menciptakan makhluk hidupnya dibumi, mohon diizinkan untuk membahas sekelompok manusia yang telah menjadi sebuah keluarga.

Keluarga. Bukan hanya sekedar kata-kata, namun lebih daripada itu. Tempat untuk berpulang, juga tempat dimana orang-orang yang menerima diri kita dengan apa adanya. Ya, seharusnya. Tapi sayangnya, tidak semua keluarga seperti itu.

Di mulai dari sang kepala keluarga dan pendampingnya, Bang Chan juga BangㅡKimㅡSeungmin. Meskipun dua dekade berlalu sudah, mereka berdua sama-sama tidak berubah. Masih sama dengan Chan yang gemar mengerjai dan menggoda Seungmin, dan Seungmin yang juga pura-pura tidak perduli pada suaminya tersebut. Dasar.

Usia memang sudah tidak muda, tapi semangat tidak boleh pudar. Kira-kira begitulah prinsip Chan dan Seungmin.

Setelah Bang Chan sebagai pimpinan dari Bang Company memutuskan untuk mundur dari jabatan, keduanya malah semakin lengket tiap harinya. Bagaimana tidak? Ya iyalah, kan Chan jadi gak punya kerjaan, kata Seungmin.

Oleh karena itu, akhirnya lelaki manis itu menemukan sebuah solusi agar Chan ini lepas sebentar dari dirinya. Menanam bunga. Kurang lebih sudah ia lakukan selama sepuluh tahun terakhir ini.

Namanya juga Seungmin jadi tidak punya kerjaan juga. Kalau dahulu, segala persiapan Chan dan anak-anak, Seungmin yang menyiapkan. Sekarang, Chan sudah pensiun, lalu anak-anak juga sudah tinggal diluar. Jadilah, dia gak punya kerjaan.

Awalnya, Chan bingung padanya. Kena angin apa kira-kira sampai suaminya ingin menanam bunga. Tapi namanya juga bucin yang sudah mendarah daging, diturutilah akhirnya keinginan sang suami, daripada ngamuk.

Dari yang pertama hanya coba-coba, lama-lama jadi ketagihan, begitu kalau kata Seungmin. Chan bahkan ikutan dipaksa untuk merawat tanaman-tanaman dengan berbagai bentuk dan warna tersebut.

Flashback

"Min, kamu seriusan ini? " Tanya Chan sambil berpinggang tangan menatap Seungmin yang tengah mengecek satu per satu tamaman yang barusan sampai di teras rumah mereka.

Seungmin hanya mempertahankan posisi jongkoknya, tanpa menatap balik Chan. "Seriuslah, kamu pikir aku bercanda? "

"Tumben banget kamu rajin. " Gumamnya.

Mata Seungmin memicing mendengar perkataan Chan beberapa detik yang lalu, bahkan ia sampai berdiri. "Jadi, maksud kamu aku gak rajin gitu selama ini? "

Chan panik. Walaupun sudah hampir dua dekade mereka menikah, tetap saja Chan masih panik kalau Seungmin marah. Dengan cepat, ia peluk tubuh sang istri dari samping. "Y-ya enggak begitu, Min. Kamu mah rajin banget selama ini, sampai aku merasa beruntung ngemilikin kamu. "

"Halah, taek kucing lah. " Ucap Seungmin lalu pergi meninggalkan teras ke dalam rumah.

"Aduh, salah ngomong lagi gua. " Monolog Chan sesudah kepergian Seungmin. Ia merutuki bibirnya yang dengan santainya berbicara begitu.

Chan tidak tahu saja kalau sebenarnya Seungmin juga malas melakukan hal seperti ini. Hanya saja demi tubunya dan Chan agar tetap bergerak juga Menghindari penyakit karena malas bergerak.

Flashback end.

Ya, kurang lebih begitulah. Perlahan-lahan, menanam bunga menjadi kebiasaan mereka. Karena sudah pas sepuluh tahun berlalu sejak kejadian tersebut, cukup membuat kediaman Bang menjadi kebun bunga.

Tadinya memang ditaruh di teras, hanya saja karena semakin lama semakin banyak, maka dipindahkan ke area belakang yang lebih luas dan dijadikan kebun. Area itu juga dipercantik dengan adanya bangku kayu yang ditata sesuai posisi matahari terbenam. Jadi, Chan dan Seungmin bisa menikmati suasana sore hari bersama.

Tidak banyak yang berubah di kehidupan mereka. Hanya menambahkan hal-hal simpel namun bermakna.

Sekarang, waktunya untuk para anak-anak yang sudah bukan anak-anak lagi. Tak lain dan tak bukan. Hyunjin, Yeji, juga Jisung dan Felix.

Usia Hyunjin dan Yeji yang tidak beda jauh membuat keduanya akrab juga mengandalkan satu sama lain saat berada di luar rumah. Berbanding terbalik sekali memang dengan waktu mereka kecil. Mereka berdua kuliah di tempat yang sama juga tinggal bersama. Sebenarnya, Yeji hanya ingin mengawasi perlakuan kakaknya dan mengingatkan yang kadang suka melenceng.

Lain anak tertua, lain juga anak termuda. Kedua anak tertua dapat dengan mudahnya menentukan masa depan mereka masing-masing. Namun, lain halnya dengan anak termuda di keluarga Bang.

Flashback

"Kalian berdua mau lanjut kuliah dimana? " Tanya Chan di suatu pagi ketika mereka tengah menikmati sarapan bersama. Wajar saja jika Chan menanyakan hal berikut, karena kelulusan sudah ada didepan mata.

"Aku pengen kuliah di tempat kak Hyunjin atau enggak keluar. Tapi enggak tahu juga, itupun kalau nilainya cukup. " Jisung sangat percaya diri memvokalkan keinginannya.

"Terus kalau Felix? "

Lain hal dengan saudara kembarnya, Felix tidak menginginkan kehidupan kuliah. Bukan berarti ia benar-benar tidak ingin kuliah, hanya saja otaknya lelah belajar. "Eum, Dad, boleh enggak kalau aku enggak lanjut? "

Sontak pernyataan Felix mengundang keterkejutan dari Seungmin, Chan, juga Jisung. Sang kakak kembar memang mengetahui hal ini, hanya saja dia tidak berpikir bahwa Felix benar-benar akan mengatakannya.

Chan berdeham membasahi tenggorokannya. "Kalau kamu enggak lanjut kuliah, terus kamu mau ngapain? "

Sang ayah bukan tidak menduga pernyataan seperti ini, hanya saja ia tetap terkejut mendengarnya.

Felix terdiam. Ia juga bingung sebenarnya. Paling jika dirinya tidak lanjut kuliah, si bungsu akan menikah. Ayolah, alasannya itu hanya karena tidak mau belajar kembali, otaknya lelah.

"Kalau jawaban kamu menikah atau hanya karena malas belajar, maaf Dad tidak bisa restui. " Sahutnya seakan dapat membaca pikiran putra bungsunya.

Seungmin menatap raut wajah Felix. Sepertinya, anaknya itu masih tidak tahu apa yang dirinya inginkan. "Felix, jangan kamu berpikiran bahwa Dad melakukan ini karena ia tidak sayang padamu. Tapi, justru karena Dad khawatir padamu. "

Chan mengambil alih Seungmin. "Mau bagaimana nanti kamu menjalani kehidupanmu, pendidikan adalah hal utama, Fel. Walaupun kamu tidak begitu menggunakannya dalam sehari-hari, anggap saja itu sebagai bekal. " Chan menjeda ucapannya sejenak. "Tenang saja, Dad tidak akan memintamu untuk lulus tepat waktu, santai saja. Tapi tetap tidak boleh terlalu santai dan lakukan sebisamu." Sambungnya.

Seakan dapat mengerti kekhawatiran saudaranya, Jisung segera meletakkan tangannya dibahu Felix. "Tak usah khawatir, kan ada aku! "

"Okay, Feli bakal kuliah. " Ucapnya final yang melegakan ketiga anggota keluarga.

Flashback end.

Bonus Chapter 2 (1) - Lengkap Sudah.
To be Continue

Babysitter ° ChanMin °Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang