#0.30 [250!SEHAN]

206 37 13
                                        

Jangan lupa tinggalkan jejak ya...

Dokter baru saja pamit setelah memeriksa Sehan di ruang tamu. Akibat cedera bahu dan lemparan Bella kemarin, Sehan jadi demam dan memar ringan di bagian bahu kirinya. Sehan juga di sarankan untuk sering mengompres bahunya dengan es batu, kemudian dokter tadi juga memberikan analgesik untuk proses pemulihannya.

Sedangkan Bella, gadis dengan rambut sebahu itu memasang wajah tidak moodnya habis-habisan. Dia duduk di bangku taman menekuk wajah tidak jelas, dari kemarin Bella kesal.

Mona baru saja masuk ke pekarang rumah, tadi ibu satu anak itu habis mengantar dokter ke depan gerbang. Dokter yang memeriksa Sehan tadi tidak membawa kendaraan, jadi Mona berinisiatif untuk memesan taxi online.

Mata Mona memang sudah mengawal pada Bella sejak ia melangkah. Kemudian sekarang sudah mendekat dan mendudukan tubuhnya di samping Bella. Wajah Bella masih sama, dia tidak menyapa atau sekedar basa-basi pada ibu mertuanya. Mona tersenyum tipis.

"Masih marah ya?" Tanya Mona sedikit menelengkan kepalanya untuk melihat wajah Bella yang di tekuk. Mona menarik nafas, "Bella kan tahu sifat Sehan bagaimana? Dia kan memang seperti itu." Ucap Mona.

"Untuk sekarang ikutin apa mau Sehan dulu ya?" Tawar Mona, Bella melirik sedetik kemudian membuka mulutnya. "Kalo aku setuju terus, Sehan semakin menang." Alis Bella bertautan, dia masih bersikukuh layaknya anak kecil yang tidak mau mengalah atas mainan yang di pinjamkan.

Mona terkekeh ringan. "Ini kan bukan kompetisi, bukan soal menang atau kalah. Mama yakin Bella juga banyak menang dari Sehan." Mona menjeda ucapannya sejenak.

"Dulu Sehan itu nggak pernah mau kalau mama suruh untuk tinggal serumah sama kamu, tapi sekarang kalian berdua tidur satu kamar. Kamu menang. Yang mama tahu, Sehan juga anti sama yang namanya kucing, tapi setelah kamu cerita kalau Sehan sering beri makan jingga, kamu menang. Awalnya Sehan benci di jodohkan, tapi kamu masih bertahan dan sampai Sehan bisa terima kamu, kamu menang."

"Yang mama akui banyak menang itu bukan Sehan," Mona kembali menjeda ucapannya sampai Bella kembali menoleh. "Tapi kamu, Rabella Damla. Kamu yang berhasil merubah Sehan tidak sekeras dan seegois dulu." Mona tersenyum di ujung kalimatnya. Dia seakan membela Bella kalau selama ini menantunya itu yang terbaik. Alasannya, mungkin Mona tidak ingin melihat kedua anaknya terus bertengkar dan diam-diaman kesal.

"Jadi Bella minta maaf ya sama Sehan? Bella juga kan salah karna kemarin sudah melempar botol mineral sampai bahu Sehan memar. Gapapa, jangan di sertai gengsi." Tangan Mona menggenggam tangan Bella kemudian menepuk-nepuk pelan.

Alis Bella yang bertautan mulai sedikit mengendur. Dia mulai merenungi kesalahnnya pada Sehan, benar yang di katakan ibu mertuanya Bella salah, ia mengakuinya sekarang. Seharusnya kemarin Bella tidak sejahat itu pada Sehan hingga membuat bahunya menjadi memar. Padahal Bella sudah tahu kalau bahu kiri Sehan itu cedera, pasti sakit.

Kepala Bella mengangguk. "Iya, nanti aku yang akan minta maaf sama Sehan." Ujar Bella usai merenung sejenak, suasana buruknya sudah mencair beberapa persen yang sebelumnya sekeras batu.

Sudut bibir Mona yang manis kembali terangkat, Mona mencubit gemas hidung mancung Bella. "Gitu dong, sekarang kamu menang lagi. Sehan yang cemen." Bella langsung terkekeh kecil saat ibu mertuanya mencoba mengodanya.

"Makasih ya ma." Tutur Bella tulus. Mona mengangguk-angguk dengan mata terpejam.

"Nah, kalau begini kan mama bisa tinggal kalian berdua di rumah jadi lebih lega. Jangan berantem terus ya? Kalau kalian sama-sama egois, itu yang buat hubungan nggak baik." Pesan Mona, sebelum Bella mengakui kalau ibu mertuanya ini tidak ada duanya. Mona yang terbaik.

250! SEHANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang