[ 𝐒𝐚𝐬𝐮𝐡𝐢𝐧𝐚 ] Tentang Hyuga Hinata dan balas dendam indahnya.
Hinata membenci Sakura karena sudah menjadi alasan utama tabrakan beruntun yang menewaskan sang kakak.
Dan hal yang lebih membuat Hinata marah adalah gadis Haruno itu mengadakan p...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ruangan sunyi bernuansa putih itu terasa begitu senyap, bunyi alat pendeteksi detak jantung di samping ranjang menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Embusan angin sesekali menerbangkan gorden tipis yang menutupi jendela, mengantarkan kesejukan sementara yang kemudian menguap.
Sesosok lelaki duduk disisi ranjang, menggengganm tangan sang wanita yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, mengusapnya pelan. Beberapa selang infus berseliweran di atas tubuhnya. Hanya alat pendeteksi detak jantung di samping ranjang lah yang menjadi satu-satunya tanda bahwa tubuh itu masih bernyawa.
Dua bentangan waktu ditemani rembulan berlalu. Jika malam ini diikutsertakan, ia sudah menghabiskan waktu terduduk di sisi ranjang menemani sang kekasih hati yang tak kunjung membuka mata selama dua malam.
Sasuke menatap sayu pada sosok Hinata, kapan wanitanya ini akan bangun ? dia bahkan tidak menunjukkan pergerakan sedikitpun selain bagian dadanya yang naik turun karena tarikan dan hembusan nafas. Wajah Hinata begitu pucat, seolah tak memiliki cahaya hidup. Netra bulan yang biasanya menatapnya itu tertutup enggan untuk terbuka.
Sasuke menggenggam tangan ringkih Hinata yang semakin kurus. Tak ada kehangatan yang biasa Sasuke rasakan, hanya ada rasa dingin yang menusuk. Sasuke tidak suka ini, Hinata selalu penuh dengan kehangatan. Mendapati bagaimana dinginnya tubuh Hinata membuat perasaan takut menyelimuti Sasuke semakin dalam.
"Maaf"
Lelaki itu terisak, menangis untuk pertama kalinya semenjak umurnya belia. Sasuke tak pernah menangis ketika umurnya menginjak delapan tahun. Dia selalu menyimpan semua rasa sakit dalam diam, membiarkan menggerogot hati tanpa membuang air mata. Ini adalah kali pertama semenjak beberapa tahun terakhir Sasuke menitikkan air mata.
Dia begitu takut, takut Hinata tak kunjung bangun. Takut wanitanya tak kunjung membuka mata. Sasuke tak ingin membayangkan masa depannya tanpa kehadiran sosok wanita yang terbaring lemah itu. Bagi Sasuke, tak ada masa depan cerah tanpa hadirnya Hinata. Semuanya terasa semu--dan begitu gelap.
"Maaf aku gagal menjaga kalian"
Semua terasa lebih menyakitkan kala Sasuke tahu bahwa ternyata Hinata tengah mengandung anak mereka. Sakit sekali, Sasuke tak pernah tahu dia akan mendengar kabar kehamilan Hinata dengan kondisi menyedihkan seperti ini. Anak mereka tidak selamat, tentu saja setelah pecahan badan mobil ada yang menusuk perut Hinata. Bahkan kini meninggalkan bekas luka jahitan di perut rata wanita itu.
Sasuke menyesal, jika dia tahu semuanya akan menjadi seperti ini maka Sasuke tak akan mengubah pil pencegah kehamilan Hinata dengan pil penyubur rahim. Bukan untuk dirinya, tapi untuk Hinata-nya, Sasuke takut mendengar kabar ini hanya akan menambah luka untuk Hinata nanti.
Sasuke mengecup punggung tangan Hinata dengan bergetar. Rasa bersalah menyelimutinya semakin dalam. Jika bisa, Sasuke lebih memilih menggantikan posisi Hinata. Dia rela terbaring lemah di atas sana, dia rela merasakan sakit yang Hinata rasakan agar Sasuke tak melihat kondisi menyedihkan Hinata kini. Rasanya begitu sakit.