Setelah kegiatan makan-makan berakhir, semua berpencar ketepian untuk mendapatkan tempat yang paling nyaman menikmati senja. Diiringi petikan gitar dan serenade dari para pendaki yang juga menikmati pertunjukan dadakan dari Malik dan Ekal. Serta ada juga yang sibuk mengabadikan momen ini dengan kamera.
Disaat serenade lagu Sampai Jumpa mencapai reffnya, di saat itu juga Karina berhenti menginsta story karena pandangannya tertuju pada Jeno yang memisahkan diri dari kerumunan. Karina hendak mengikuti jejaknya namun Yiren yang ada di sampingnya mencegahnya.
“Eh mau kemana lo?” namun tak Karina hiraukan. Tapi Yiren sudah dapat jawabannya karena ia melihat Jeno pergi. Ia sudah hafal dengan gelagat sahabatnya.
Dilihatnya Jeno pergi menuju kearah hutan. Namun ia kehilangan jejak karena Jeno berjalan begitu cepat. Bisa saja ia meneruskan jalannya kedalam hutan, tapi ia tak berani berjalan sendirian diantara pepohonan yang lebat ini. Ngeri aja kalau yang dia lihat tadi bukanlah Jeno dan berakhir tersesat sendirian. Dari pada ambil jalan yang berbahaya, lebih baik ia kembali ke tenda.
Karina membalikkan tubuhnya dengan lesu dan hendak kembali pulang. Namun ia menemukan Lia dan seseorang yang tak ia kenal berjalan dari arah berlawanan.
“Hai Karin, abis dari mana?” tanya Lia. Karina tersenyum grogi menatap Lia dan seseorang di belakangnya bergantian.
“Nyari angin hehehe. Lo mau kemana?” tanya Karina ikut berbasa basi. Lia menunjukkan panci, gelas, piring dan sendok yang ia bawa di tangan.
“Nyuci.”
“Oh disana sungai ya? Hati hati loh Li. Udah mau maghrib.”
“Iya, aku udah sering kesini kok. Duluan ya, Rin.” pamit Lia dan Karina masih tersenyum canggung.
Seusai Karina pergi menjauh, Jeno keluar dari balik pohon dan menghampiri Lia. Ia tersenyum tipis menatap Jeno mengibas pakaiannya yang dihinggapi semut rangrang saat bersembunyi tadi.
“Pinter ya kamu!”
°°°
Hutan adalah paru paru dunia. Yang menghasilkan banyak oksigen sehingga tak heran mengapa ditempat ini udaranya begitu menyegarkan. Tapi perlu diingat, banyak sekali hewan hewan yang juga tinggal diatas sini. Ada yang jinak dan juga liar, hidup bersama sama di alam bebas ini. Salah satunya kucing hutan. Tampangnya begitu menggemaskan seperti layaknya kucing kucing biasa yang suka berkeliaran di komplek komplek. Tapi di balik itu semua, mereka berbahaya.
“Jangan di pegang!” pekik Nalen namun tubuhnya linglung dan terpeleset diantara bebatuan sungai yang licin.
Seseorang yang ia tegur itu segera mundur dan menarik tangannya tidak jadi menyentuh kucing hutan yang ada di hadapannya.
“Akhh!” rintih Nalen kesakitan. Kakinya terkilir dan tulang keringnya tak sengaja terbentur batu. Rasanya begitu nyeri.
“Kamu gapapa?” tanyanya sambil menghampiri Nalen di bibir sungai.
Pemudi dikuncir satu dengan anak rambut yang acak acakan dan poni yang lepek itu menawarkan uluran tangan namun Nalen menolaknya.
“Jangan sembarangan megang hewan hewan yang ada di sini. Lo gak akan tau dia bisa aja makan lo hidup hidup.” tegur Nalen sambil menahan nyeri.
“Lagian lo gak baca ensiklopedia apa sebelum hiking?” tanya Nalen dan ia baru menyadari bahwa ia dipertemukan lagi dengan si payah. Si payah yang gak bisa bikin api unggun tapi nekat untuk hiking itu loh...
“Baca sih,” cicit cewek itu sambil menunduk.
“Kalo baca kenapa gak lo hindari? Setidaknya kalo lo gak bisa bikin api unggun, lo harus ngerti yang lainnya. Lo hiking modal nekat ya?” cewek itu tertegun dan segera mendangak. Ternyata ia bertemu lagi dengan orang yang ia temui di camp curug nangka. Seperti ada radar saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serenade
Fanfiction"Ini udah mustahil gak sih?" collaboration with dreamizluv cover by happyytal
