Sudah setengah jam berlalu, tetapi tiap detiknya masih terekam jelas diingatan. Bagaimana tidak, kejadian naas itu terjadi di depan matanya. Rasanya gelisah tiap kali melihat bekas darah mengering di tangannya. Sudah berkali-kali dicuci tetapi tetap tak menghilang jua di matanya.
Pemuda yang berada di ranjang rumah sakit itu menangis frustasi. Jika saja tubuhnya sehat pasti ia telah berlari menemani kekasihnya. Menggenggam tangannya dan memeluknya erat sebab pasti Lia juga sedang ketakutan seorang diri.
Ivanna telah beranjak dari lamunannya, bergerak mengambil segelas air untuk menjernihkan pikirannya. Tapi itu hanya akan jadi sebuah niat, karena tiga orang memasuki ruangannya tiba-tiba. Pria yang diyakini sebagai kepala pun menunjukkan kartu tanda pengenalnya. Ivanna mengambil napas yang dalam dan mengumpulkan keberanian.
"Kami mendapat laporan dugaan pembunuhan yang dilakukan oleh Rajeno Wicaksono. Terlampir dari hasil visum korban bernama Karina Oentoro, bahwa DNA Rajeno terlacak pada senjata yang digunakan," ungkapnya sambil ditunjukkanlah kertas visum tersebut kepada Ivanna.
"Anak saya tidak dalam kondisi yang baik untuk dimintai kesaksian. Bapak bisa kembali lagi nanti saat anak saya sudah pulih."
"Kondisi patah tulang tidak membuat anak ibu kesulitan menjawab pertanyaan. Saya lihat juga bahwa anak ibu sudah sadar, jadi Rajeno harus kami bawa kekantor polisi."
Saat dua polisi yang lain hendak membawa Jeno, Ivanna bersikeras menolak dengan berbagai cara. Tapi tak berhasil karena melawan orang bertubuh lebih besar darinya. Sehingga ia hanya bisa menyaksikan putranya dibawa pergi.
Suasana malam disekitar rumah sakit ramai. Entah informasi dari mana, para wartawan telah bersiap meliput seseorang yang dilaporkan melakukan tindakan pidana. Tanpa mengerti keadaan, Jeno hanya bisa menyipitkan mata tiap kali sinar kamera menjepretnya. Bahkan ia baru sadar jika ia sudah berada di luar rumah sakit, di atas kursi roda, hendak dibawa entah kemana.
°°°
Matanya lantas tertuju pada bendera duka, disertai semilir wangi tanah bekas hujan yang bercampur dengan pengapnya kamper yang tersisa. Dinding yang mengelupas karena lembab, serta pohon ceri yang buahnya berjatuhan dan telah lebur, adalah hal hal yang menyambut kedatangannya sore ini. Lidahnya berubah getir, perutnya dingin, fakta bahwa ia terlalu takut masuk ke dalam dan menyaksikan pertunjukan tipuan terbesar dalam hidupnya. Tapi, tak mungkin bagi dirinya untuk mundur setelah menempuh perjalanan yang jauh ini.
Tibalah ia dijamu di atas panggung. Dipertemukan dengan dua orang yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Wajah lusuh, telah tua di makan waktu, memaksa tersenyum dengan bibir pucatnya. Pertunjukan pun dimulai.
"Ini ibu Resma dan suaminya, pak Abdi. Beliau yang selama ini merawat Zia setelah satu bulan kalian lahir," jelas ayah. Kedua tangan Haje gemetar meski telah ia kepal. Senyumnya kelu menyapa orang tua asuh saudara kembarnya yang telah terpisah hampir seumur hidupnya.
"Mari masuk!" ujar Pak Abdi memecahkan keheningan.
Adegan selanjutnya berganti latar. Kelimanya telah berada di satu bilik, di atas karpet yang coraknya hampir pudar. Dijamu oleh beberapa buah album dan sekotak penuh perlengkapan bayi yang diyakini milik Zia dahulu.
Resma membuka satu persatu lembar foto dan memperkenalkan kehidupan Zia sejak bersamanya. Zia yang tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria, merupakan sebuah anugerah yang datang di tengah keluarga ini. Zia yang amat berprestasi, menjadi sebuah kebanggaan keluarga kecil ini. Piagam dan medali ya didapatkan melalui usahanya, lantas ikut tertangkap kamera lawas di setiap momennya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serenade
Fiksi Penggemar"Ini udah mustahil gak sih?" collaboration with dreamizluv cover by happyytal
