udah bab 7 masih sider aja
keasikan scroll yaa ʕ ꈍᴥꈍʔ
"Gue gak bisa berhenti mikirin hal ini. Tapi jujur, lo menarik perhatian gue."
"Gue?" tanya Jia memastikan sambil memakan biskuit kelapa yang dicelupkan kedalam teh.
"Iya, lo familiar dimata gue."
"Karena kita mirip?"
"Ya, bisa jadi. Bisa lebih dari itu."
"Jodoh maksud lo? Kayak omongannya Karina" tanya Jia to the point. Haje langsung pura pura gak denger dan ngalihin pandangannya.
"Lo punya pacar?" tanya Jia mengundang lirikan dari pemuda bermata kucing itu. Dia merasa bingung sekaligus tidak nyaman mengenai pertanyaan itu.
"Kenapa mau tau?"
"Karena pengen tau."
"Gak perlu tau."
"Kenapa gak perlu tau?"
"Karena gak penting."
"Kenapa gak penting?"
"Ya lo ga penting, gak jelas." Haje berdecak dan merebah diatas tanah berumput itu.
"Kenapa gak jelas?" tanya Ji yang masih saja menanggapinya meski pembahasannya makin tidak jelas. Haje menatapnya sinis dan memilih merebah diatas tanah dan menutup matanya. Jia ini nyebelin banget. Haje agak nyesel bilang kalo dia tertarik sama dia. Ya tapi mau bagaimana lagi, Haje emang beneran tertarik sama Jia entah bagaimana mendeskripsikan keingintahuannya.
Jia cekikikan dan melirik Haje kebelakang, "Tapi serius deh, lo jangan suka sama gue ya?"
"Siapa?"
"Siapa apanya?" Jja mengulang pertanyaan Haje.
"Siapa juga yang mau sama lo!" Haje kembali terduduk dan cekikikan. Jia mau banget ngelempar Haje pake senjata di tangannya, tapi roma kelapa dan teh anget jauh lebih penting dari siapapun. Al hasil Haje lolos dengan mudahnya. Pemudi itu kabur dan meneriaki Jia sambil tersenyum, "Satu sama!"
Jia mendengus, wajahnya itu loh nyebelin banget. Cocok jadi sasaran empuk timpukan roma kelapanya yang masih full ini.
°°°
"Oy! Mau kemana?" panggil Lia. Dua orang pemuda itu menoleh.
"Keliling sebentar!" jawabnya. Lia menghela napasnya dan membiarkan mereka berdua pergi. "Jangan jauh jauh loh!" pesan Lia. Surya mengacungkan jempolnya. Meski mereka sudah berkali-kali kesini, tapi karena mengingat rekan Maudy menghilang membuat Lia parno dan gelisah.
Pemudi berambut panjang itu hanya terus menatap punggung punggung yang hampir hilang menjauh.
"Mba.... Liatin opo toh?" panggil Maudy sambil mengekori pandangan Lia. Sayangnya Malik dan Surya sudah tak lagi tampak. Lia hanya menggeleng sebagai jawabannya.
"Ada apa?"
"Anu...dipanggil mba Karin. Katanya minta di bantuin ngitung logistik cukup atau enggak buat turun nanti."
"Ah, iya. Aku kesana sekarang." jawab Lia. "Kamu? Mau kemana?" tahan Lia.
"Nemenin Windu, katanya mau buang air kecil."
"Oh, hati hati loh. Jangan di sungai ya, di semak semak aja cari yang aman." Maudy tersenyum dan mengacungkan jempolnya.
"Win, ayo!" panggil Maudy pada Windu yang tengah menggeret Nalen untuk ikut sebagai pemandu jalan mereka.
"Argh! Lo beser ya Win! Dari semalem urusan pipis aja gak selesai selesai!" kesal Nalen yang enggan menemani sepupunya buang air kecil. Tapi sama Windu di pukul punggungnya dan tetap di paksa ikut sebagai pemandu jalan meski abal abal. Maudy cuma bisa senyam senyum ngeliat mereka berdua adu mulut terus.
"Perkiraan kita nyampe tuh besok kan ya, Jen? Jadi... ini cukup atau enggak sampe besok?" tanya Karina kebingungan.
"Kita ada berapa orang sih? Kelompok kita 5 orang plus kelompok Lia 5, sama anak nyasar satu." Karina ngangguk ngangguk namun sedetik kemudian ia menyangkal pernyataan Jeno. "Kelompok Lia bukannya 6?"
"Lia, bang Mark, anak yang tinggi banget itu, trus yang cowok diem mulu itu sama sepupunya. Udah, 5 Rin."
Karina terkekeh mendengarnya, "Lo gak tau namanya?"
"Gak inget, gak penting lah."
"Parah banget lo, tapi bukannya ada 6 ya? Keknya ada yang kurang satu cowok seinget gue."
"Oh iya kali," ucap Jeno gak mau ambil pusing. Mungkin emang dianya lupa karena pada dasarnya dia gak terlalu merhatiin sekitarnya. Kecuali Lia, Lia dan Lia.
"Maaf baru gabung, mau dibantuin apa?" Panjang umur, Lia datang dan duduk bersimpuh di hadapan jejeran bahan makanan, perbekalan mereka.
"Segini cukup gak sih sampe besok? Maklum gue baru pertama kali naik, gak ngerti apa aja yang perlu disiapin." tutur Karina.
"Ini yang udh di gabung sama punya kelompok ku?" tanya Lia. Karina mengangguk sambil menunjuk mana logistik milik kelompok Lia.
"Cukup kok, ini masih banyak. Stok indomie juga masih 8, telor masih ada, sayur juga ada 2 kantong lagi, tempe, tahu... Cukup kok." ucap Lia sambil menghitung bahan makanan dengan teliti.
"Syukur deh, gue kira kurang. Soalnya rakyat kita banyak banget kan? Ada 12?"
"12? Wow banyak ya." celetuk Lia sambil mengembalikan bahan mentah kedalam kresek.
"Iya kan, kelompok gue 5, Maudy, sama kelompok lo 6. Iya kan?" Lia memberhentikan kegiatannya untuk menghitung jumlah kelompoknya. Barang kali ada yang kelewat dan gak kehitung.
Tapi,
"Rin, kelompok ku ada 5. Kak Malik, Surya, Nalen, aku, Windu."
°°°
"Loh, temen lo mau kemana, Han?" tanya Ekal kebingungan. Pasalnya temen temen Han sudah pergi dengan carrier di punggungnya.
"Turun duluan."
"Maksudnya?"
"Inyong masih mau disini, Kal." jawab Han disertai senyum tipisnya.
"Sendirian? Gak takut lo?"
"Ya enggak lah," jawab Han sambil meninju pelan pundak Ekal. "Mereka cuma temen satu almamater. Kebetulan pada mau naik gunung, ketemu di terminal deh."
"Oh gitu, jadi Jia juga bukan temen deket?" Han mengangguk.
"Tak kirain temen se genk, walah Han Han, ada ada aja koe. Jangan turun sendirian deh, ngeri kesasar. Ini aja rekan gue blom ketemu ketemu loh." Han mengangguk ngangguk saja lalu menepuk tengkuk Ekal dan pergi masuk ketenda.
Gelagatnya Han ini mencurigakan. Kalau Ekal boleh menebak, firasatnya mengatakan akan terjadi hal buruk pada Han. Untuk itu, dengan bermodalkan rasa percaya diri, sebisa mungkin ia akan membawa Han turun bersamanya. Memang hanya bermodalkan prasangka, namun entah mengapa, Ekal yakin kali ini yang akan dilakukannya tidak salah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serenade
Fanfiction"Ini udah mustahil gak sih?" collaboration with dreamizluv cover by happyytal
