hayooo, jangan sampe kelupaan pencet bintang 🌟😋 makasiiih
"Ya ampun, Dy, untung lo baik baik aja." ucap Karina sambil mengusap usap punggungnya dan Maudy menikmati teh hangat buatan Lia.
"Tapi lo nekat banget sih. Gue kalo jadi lo mah gak tau mau ngapain." ucap Ekal yang juga ikut menyimak cerita dari teman barunya.
"Gila aja sendiri coy, apalagi first time." lanjut Ekal.
"Terus itu temennya Maudy gimana?" tanya Windu.
"Do'ain aja semoga cepet ketemu. Itu bukan pertama kalinya dia naik gunung kan, Dy?" tanya Malik. Maudy mengangguk sambil memegangi gelas berisi teh hangatnya.
"Syukur deh, setidaknya dia tau medannya." ucap Mark dengan lega. Semuanya pun begitu. Kemudian Maudy celingak celinguk mencari seseorang yang belum ia jumpai lagi setelah dari sungai. Nalen namanya kalau ia tidak salah ingat.
"Mba Karin, eungg mas mas yang namanya Nalen itu mana ya?" Maudy memberanikan diri untuk bertanya pada seseorang disebelahnya. Namun ia malah bertanya pada Karina yang tak memperhatikan lingkungannya sebaik ia memperhatikan Jeno. Namun Karin mengingat kalau Windu adalah sepupu Nalen. Mungkin saja dia tau tentang keberadaan sepupunya.
"Di tenda, tuh yang paling pojok. Samperin aja." jawab Windu. Maudy pun pamit meninggalkan tempat untuk menemui Nalen. Ia teringat kalau kaki Nalen keseleo dan belum di obati. Karena sesampainya di camp, ia menghindari kontak dengan orang orang.
Saat Maudy melangkah pergi, Karina berseru, "Besok besok panggil gue pake kak aja jangan mba!" Karina cemberut mendengar panggilan untuknya terasa kurang memuaskan. Kalau di Jakarta biasanya yang di panggil mba itu para ART. Padahal toh sebenarnya panggilan mba berarti kakak.
Setelah menghabiskan langkah menuju tenda di ujung lahan, Maudy berdiri bingung di depan tenda. Sampai Nalen sendirilah yang membuka tirai tendanya untuk melihat bayangan siapa kah yang berada tepat di depan tendanya.
"Kenapa?" tanyanya dingin. Namun Maudy mencoba untuk ramah meski jantungnya berdebar karena dimatanya, Nalen kelihatan galak.
"Kaki kamu, udah di obatin?" tanya cewek berdarah Jogja itu dan menatap Nalen lamat lamat. Namun cowok itu terlihat berpikir hanya untuk sekedar menjawab sudah atau belum.
"Udah,"
"Yakin?"
"Belum," Maudy terseyum miring. Ia merogoh sesuatu dari kantong jaketnya usai terkekeh dengan sifat jaim Nalendra.
"Oyah kamu ada handuk kecil?" tanya Maudy
"Buat apa?"
"Menurut mu?" Nalen menghela napasnya dan membuka ranselnya untuk mencari handuk muka miliknya. Kemudian bangkit dan keluar dari tenda.
"Diluar tenda aja, pamali di dalem berduaan." tuturnya sambil berjalan pincang dan duduk di rerumputan yang basah karena embun.
Maudy mulai menyanggah kaki kiri Nalen di atas pahanya dan mulai mengurut engkel kaki yang terkilir. Kebetulan, ia anak fisioterapi. Hari hari ia belajar tentang anatomi hingga sistem saraf.
"Kita belum kenalan," celetuk Maudy sambil mengoleskan minyak gosok yang ia bawa.
"Tapi gue udah tau nama lo, dan gue rasa lo juga tau nama gue," jawab Nalen.
"Gak salah sih," ucap Maudy mengangguk setuju. Dalam beberapa obrolan, kedua nama mereka sudah sering di sebutkan. Tentu secara tak langsung mereka sudah mengenal satu sama lain. Bukan bermaksud menguping, tapi Nalen dengar sendiri waktu cewek itu kenalan sama Lia. Dan dipastikan, ini hanya basa basi belaka. Sebab Maudy terkurung sunyi dan kembali merasa canggung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serenade
Fiksi Penggemar"Ini udah mustahil gak sih?" collaboration with dreamizluv cover by happyytal
