"Gimana kabar lo, Jen?" tanya Hasa.
Pemuda yang diajak bicara hanya tersenyum tipis dan menatap Hasa dengan manik mata yang bicara buruk.
"Denger-denger, Surya setuju untuk dimintai keterangan," ujarnya lagi. Jeno hanya menatap kemana semut berjalan. "Semoga ini cukup untuk ngebuktiin alibi lo dan cukup kuat untuk membantah tuduhan. Sorry ya gue gak bisa bantu banyak. "
Jeno tersenyum miring, "Lo gak pantes bantuin orang yang udah bikin nyawa lo terancam dan jadi tersangka pembunuhan temen lo."
Laki laki berkuncir setengah itu terkekeh dan mengerang frustasi, "Gila kali ya gue?"
Keduanya tersenyum menyadari kekonyolan situasi ini. Usai tawa yang terdengar, helaan napas yang dalam menjadi wujud melepas sesak di dada mereka. Kemudian Jeno memberanikan diri untuk meralat ujarannya yang barusan.
"Tapi, yang ini...gue boleh minta bantuan lo gak?"
"Apa?" tanya Hasa penasaran.
"Nanti, kalau Karin udah dimakamin, gue titip bunga ya? Bawain aja yang dia suka."
°°°
BUGH
"SETAN!" tiba tiba saja, David keluar dari persembunyian. Padahal ia telah berjanji tidak akan membuat keributan jika diizinkan mendengar pembicaraan Biyan dan terapis adiknya.
"Ternyata lu ngehamilin adik gua?! Monyet!" makinya dengan lantang meski tubuhnya telah dihadang oleh sang terapis.
"Gua gak sengaja sumpah, koh! Gua gak ada niatan macem-macem tapi apes banget hari itu kita diobat."
"Itu namanya tolol! Bego!"
"Udah tolol, kelakuan brengsek...lu hampir bikin adik gua juga ikutan mati ya, anjing!"
"Koh, lo gak ngerti. Gua juga sayang sama Yiren. Gua gak bermaksud nyakitin dia, tapi saat itu gua juga gak ada arah. Gua sayang banget koh sama Yiren."
"Makan tuh cinta! Tai!" kini, David harus di dorong mundur dan duduk untuk menetralkan arang berasap di kepalanya. Namun, Biyan tak terima atas ucapan cinta yang dianggap omong kosong. Pemuda itu berdiri dan mencaci harga diri David.
"Sekarang gua ngerti kenapa Yiren lebih milih cabut dari keluarganya. Ternyata emang gak ada yang ngerti soal cinta. Kosong. Gak akan nyampe." Laki laki berparas urak-urakan itu pergi meninggalkan ruangan.
David mendengus, gestur tangannya menyuruh Biyan untuk kembali, "NGOMONG SAMA GUE SINI LO MONYET, BANGSAT!"
Siapa dia, berhak menilai keluarga seseorang yang baru ditemui sekali. David mengerang kesal atas segala hal. Ternyata cacian Biyan juga berhasil menggores hatinya yang ia pikir adalah baja. Rasanya ingin meledak dan membiarkan orang-orang membaca isi hatinya yang tidak sedikitpun bermaksud untuk membenci adiknya. Tapi apalah daya, bertahun tahun upayanya belum cukup membuat Yiren percaya bahwa masih ada seseorang disampingnya.
Matanya mendidih, terasa koyak dan pedih namun sadar diri, yang saat ini paling hancur bukanlah dia. Entah bagaimana bisa sang adik menanggung beratnya beban yang mencengram langkahnya saat kemanapun ia pergi orang-orang mencampakkannya. Namun andai saja dahulu David punya kuasa, tak akan mungkin sang adik mengalami hal seburuk hari ini karena pasti ia akan mencegah kepergian Yiren dari rumah sejak lama.
°°°
Mendengar Lia yang koma, Surya segera menjenguk usai memberikan kesaksiannya di kepolisian. Tak disangka seburuk ini keadaan Lia sejak terakhir kali ia melihatnya. Hatinya gusar entah mengapa, membuat pandangannya tak luput dari gadis itu. Pemudi bercepol setengah yang ada di samping Surya ikut termenung. Meski ia tak lebih mengerti dari kekhawatiran yang mengusik pikiran sang adik, ia tetap iba.
KAMU SEDANG MEMBACA
Serenade
Fiksi Penggemar"Ini udah mustahil gak sih?" collaboration with dreamizluv cover by happyytal
