34

324 50 5
                                        

Di suatu dunia yang hanya milik ia seorang, cerah dan teriknya matahari terkesan menertawakan mendung dunianya. Jendela yang hampir pecah karena terus ditatap dengan tajam, menjadi satu satunya yang merenggut indera pengelihatannya. Penyusup yang datang dengan beberapa tangkai bunga pun sama sekali tidak tertoleh. Seperti itulah kondisinya belakangan ini.

"Bagaimana kabarnya hari ini, Yiren? Kita bertemu lagi ya..." tanya wanita paruh baya yang terus menjenguknya.

"Sudah lihat album foto yang saya kasih kemarin? Ada banyak sekali ya orang orang yang kamu kenal. Hari ini saya mau melihat-lihat isinya bersamamu ya?" ujarnya sambil menarik album foto yang berada di nakas dan membukanya untuk dilihat bersama. Meski Yiren belum menoleh, wanita paruh baya itu terus mengajaknya berinteraksi.

Halaman pertama album menampakkan rekam bayi mungil dalam bedong yang tertidur pulas. Sebuah pengabadian pertama dari lahirnya anak ketiga dari pasangan Lina dan Hardi.

"Athaya Yiren. Jakarta, 20 Desember 1997," ujar sang terapis saat membaca keterangan yang ada dibalik foto.

Kemudian, halaman selanjutnya menampilkan foto seluruh anggota keluarga Yiren. Sang terapis menjulurkan jemarinya, menunjuk satu persatu wajah yang ada dalam foto, "Papa, mama, cici, koko, dan adik, mereka semua adalah keluarga Yiren. Apakah Yiren mengingat mereka?"

Sebelah alisnya terangkat, menunggu sepatah tutur yang dinanti dalam hening yang dipersilakan. Namun, bibir pucat yang kering dan terluka itu hanya bergeming, seperti abai dengan pertanyaan yang ditujukan untuknya.

"Mereka adalah orang-orang yang hidup di sekitar Yiren...orang-orang yang telah menyaksikan kehidupan Yiren sejak lahir sampai saat ini. Kalau nanti ada yang membingungkan, Yiren bisa menanyakannya pada mereka, ya?"

Halaman selanjutnya pun terbuka, menampilkan keramaian yang terperangkap dibelakang sang utama. Lima sekawan yang duduk dengan rapat, terlihat akrab padahal baru menghabiskan satu malam bersama dalam acara makrab kepanitiaan. Diantaranya ada si gembul yang menggengam dua tusuk sate di kanannya―Ekal,  si pemuda kuncir satu yang mulutnya penuh makanan―Haje, lalu Jeno di tepian yang siap masuk frame walau sedang mengipasi sate, Yiren yang menggengam erat piring di tangannya sebab seorang pemudi di dekatnya tiba tiba merangkulnya amat erat. Tak lain orangnya adalah Karina.

"Ini adalah foto teman-teman Yiren. Saat saya berusaha mengumpulkan semua ini,  saya menemukan banyak sekali wajah-wajah mereka," jelas sang terapis.

"Baru baru ini, kalian menghabiskan waktu bersama. Apa kamu mengingatnya?"

Album itu dibawanya lebih dekat, agar jelas wajah berseri muda-mudi yang berbahagia itu. Lima sekawan yang memenuhi bingkai tanpa celah, menunjukkan bermacam wajah konyol yang mereka bisa, dan tampak hidup di dalam dunia yang mereka ciptakan. Tanpa sadar, segaris senyum terlukis di wajah wanita paruh baya itu. Kemudian ia melanjutkan kisah yang belum tuntas didongengkan.

"Kalian mendaki Gunung Salak bersama untuk pertama kalinya. Semua orang datang dengan antusias, begitu juga denganmu.

Ini adalah Hasa, kalian berempat biasanya memanggilnya Haje...dari singkatan nama katanya. Baru-baru ini saya menemuinya.Hasa bercerita bahwa hubungan kalian menjadi lebih dekat saat mendaki. Kalau dahulu pertemanan kalian hanya berbagi suka, saat di atas sana...kalian juga berbagi duka.

Yang ini, Ekal. Hasa bilang, saat kamu bersanding dengan Ekal, kalian terlihat seperti ayah dan anak. Hubungan kalian, panas dan dingin.....kadang perhatian, kadang juga saling diam karena kesal. Tapi itu semua memang bahasa pertemanan kalian berdua.

Kalau yang ini adalah Jeno. Hasa tidak banyak tau tentang kalian. Hasa hanya mengatakan kalau Jeno adalah orang yang disukai oleh teman terdekatmu. Karina namanya....teman satu kosmu. Kamu ingat?" Jemari pemudi itu bergerak, meremas kecil sprei kelabunya sambil mengalihkan pandangannya.

SerenadeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang