R E U N I O N
————————
Setelah 12 tahun berlalu, untuk pertama kalinya Januar datang ke acara reuni SMP yang diadakan setiap 4 tahun sekali. Dari dalam Mercedes-Benz S-Class hitam yang ditumpanginya, Januar dapat melihat bagaimana keramaian yang terjadi di luar gedung yang menjadi tempat reuni SMP angkatan 24 itu.
Tangan Januar terulur untuk mengambil ponselnya, ia mencari nomor untuk dihubunginya tapi setelah beberapa menit berusaha menghubungi panggilannya tak kunjung diangkat. Januar memutuskan untuk mengirim pesan.
(Gue udah di luar, tempat parkirnya penuh. Lo buruan ke sini ya atau gue balik lagi.)
Setelah mengirim pesan tersebut Januar menghela napas panjang seraya menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi. Matanya bergerak menatap sekitar, memikirkan untuk keluar atau tidak dari mobilnya. Sejujurnya Januar sedikit malu untuk berjalan masuk ke dalam gedung acara seorang diri, ia tidak bisa membayangkan jika kehadirannya menjadi perhatian. Meskipun itu hanya beberapa orang tetap saja hal tersebut akan membuatnya tidak nyaman. Begitulah Januar, sejak dulu ia tidak pernah suka atau lebih tepatnya malu saat menjadi pusat perhatian. Padahal itu bukan salah siapapun, itu terjadi secara alami. Tentu saja, memangnya siapa yang akan melewatkan visual tampan yang dimiliki oleh Januar?
Januar seolah menjadi magnet di mana pun ia berada karena ketampanannya bak seorang dewa yang keluar dari cerita mitologi. Bentuk wajahnya sempurna, ia memiliki mata yang indah, senyumnya manis dan tiap kali tersenyum matanya menyipit seperti bulan sabit. Namun ketika dia diam, rahangnya tegas membuatnya terlihat gagah. Januar memiliki badan yang tinggi dan proposional, pakaian apapun akan terlihat pantas jika dikenakan olehnya. Bahkan para pria pun mengakui ketampanan Januar yang merupakan kombinasi Asia dan Barat.
Januar tersadar dari lamunannya kala mendengar kaca jendela mobilnya diketuk. Terlihat seorang pria menggunakan setelan casual sedang berusaha menerawang ke dalam mobilnya. Januar bergegas melepas sabuk pengaman dan melangkah keluar.
"Sorry, Jan. Gue nggak denger pas lo telfon tadi."
Ia adalah Ravi, teman yang sudah Januar kenal sejak kelas satu SMP. Dari sekian banyak teman yang dikenalnya, Ravi adalah yang paling dekat dengan Januar.
Sambil merapihkan setelannya Januar mengangguk samar. "It's okay."
Ravi mengedarkan pandangannya, ia melambaikan tangan untuk memanggil petugas valet yang sedang berdiri di seberang.
"Pak, tolong parkirin mobil temen saya ya," ujar Ravi kepada petugas valet yang kini sudah ada di hadapannya.
"Baik, Mas."
Lewat sudut matanya Januar melirik petugas valet tersebut, wajah yang semula dingin seketika berubah ketika bibirnya membentuk sedikit senyum tipis.
"Terima kasih, Pak," ujarnya seraya mengulurkan empat lembar uang lima puluh ribuan, hal itu membuat petugas valet tersenyum lebar dan membungkuk sopan.
"Ayo masuk, acaranya udah mau dimulai."
Januar pun melangkah bersama Ravi menuju gedung tempat acara reuni itu diadakan. Dari jarak beberapa meter Januar dapat melihat banner besar yang terpasang di depan pintu masuk dengan tulisan "Nice to See You Again Class Of 2007".
KAMU SEDANG MEMBACA
Reunion
Romance18+ Ditengah krisis kepercayaan akan cinta dan trauma yang Bian alami, Januar-seseorang dari masa lalu Bian-hadir menawarkan kisah cinta indah nan romantis. *** Pertemuan Fabiane Alexandra dan Januar Liem di acara reuni SMP membuat keduanya terlibat...
