Part 18: Boundaries

1.5K 206 40
                                        

R E U N I O N
————————

Di depan Cafe, Bian dan yang lainnya berpisah. Kini tersisa Bian, Januar, dan Celine. Mata Celine bergantian menatap kedua temannya yang belum membuka suara itu. Suasana di antara mereka terasa begitu dingin dan Celine merasa harus buru-buru melarikan diri sebelum ia membeku di sana.

"Bian, lo pulang sama siapa?" Tanya Celine yang berhasil menyita atensi Bian.

"Mm ..." Bian melirik Januar sekilas. "Gue pulang sama Januar. Lo duluan aja, Cel."

Celine ikut melirik Januar sekilas. "O-oke ... kalo gitu gue duluan ya. Januar, gue duluan ya?"

Akhirnya perhatian Januar beralih, ia hanya mengangguk samar. Kini tersisa dirinya dengan Bian, mereka pun saling memandang untuk sesaat sampai akhirnya Januar memimpin langkah lebih dulu dan disusul oleh Bian.

***

Sepanjang perjalanan, lagu dari radio mengisi keheningan antara Bian dan Januar. Bian bingung harus memulai percakapan apa, sementara ia berusaha untuk bersikap seperti biasa. Sedangkan Januar, ia hanya terdiam dan fokus menyetir.

Bian merasa berlebihan jika menganggap Januar sedang mendiaminya, mungkin saja, dia memang sedang tidak memiliki topik untuk dibicarakan. Akhirnya Bian pun mengambil langkah lebih dahulu.

"Have you had dinner?"

"Not yet."

"Mau makan apa?"

Januar terdiam sejenak, kemudian melirik Bian sekilas. "Lo punya bahan makanan apa?"

"Mm ...." Bian berpikir mengingat-ingat isi kabinetnya, kulkas-nya, dan dalam kepalanya tidak terlihat apa-apa. Dia memang tidak sering memasak, bahkan makanan pun seringkali ibunya yang memasak lalu mengirimnya ke Apartemen Bian.

Bian menatap Januar dan menggeleng. "Nggak ada apa-apa."

***

Kedua tangan Januar penuh dengan belanjaan, ia mengikuti langkah Bian menuju dapur dan meletakkan semua belanjaannya di sana.

"Gue ganti baju dulu ya sebentar?" Bian meninggalkan ponselnya di counter dapur, sementara Januar menyiapkan bahan-bahan untuk membuat makan malam.

Selagi menyiapkan itu semua, pikiran Januar melayang masih mengingat perkataan Gerald beberapa waktu lalu mengenai pertemuan Bian dan lelaki bernama Yuska. Mendengarnya tentu saja membuat perasaan Januar tercubit, ia mendadak disadarkan oleh kenyataan bahwa posisinya di sisi Bian bisa tersingkirkan kapan pun. Terlebih, tidak ada hubungan pasti yang mengikat keduanya. Situasi ini membuat Januar agak gusar dan egonya menginginkan agar Bian jadi milik Januar sepenuhnya.

Perhatian Januar beralih pada ponsel Bian yang berdenting, layarnya menyala menunjukkan satu pesan masuk. Ia melihat nama pengirimnya dan itu membuat Januar memutuskan untuk membaca isi pesan tersebut dari layar notifikasi.

From: Yuska
(Just for your information, minggu ini ada event di Batavia. I'll wait you there Bian! 😉)

Perlahan Januar menghela napas. Mendadak ia kehilangan mood untuk memasak usai membaca pesan tersebut. Sedekat apa memang hubungan mereka? Pertanyaan itu muncul dalam benak Januar dan membuatnya makin gusar.

ReunionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang