R E U N I O N
————————
Di dalam mobilnya yang terparkir di tepi jalanan, Januar duduk dengan pandangan menerawang ke depan. Beberapa kali ia hanya bisa menghela napas ketika ucapan Bian yang begitu jelas ia dengar kembali terngiang-ngiang. Sakit rasanya, tentu saja Januar tidak bisa menyangkalnya. Tapi jika itu memang keputusan Bian, Januar bisa apa?
Haruskah Januar tetap memperjuangkannya meski sudah ditolak? Atau lebih baik ia menyerah saja? Januar bahkan bingung harus melakukan apa. Meskipun tidak sulit mencari pengganti Bian, namun itu tidak akan bisa mengalihkan posisi Bian di hatinya yang sudah ada sejak lama. Jika memang bisa, Januar tidak mungkin kembali pada situasi seperti ini bukan? nyatanya Januar justru jatuh lagi kepada Bian. Semakin lama memikirkannya membuat kepala Januar pusing, ia akhirnya kembali menjalankan mobilnya tanpa tujuan.
***
Januar memutuskan untuk pergi ke Lounge bar, satu-satunya tempat yang dapat ia tuju ketika sedang tidak bisa berpikir. Setidaknya alunan musik klasik dan red wine di sana akan membuatnya lebih tenang.
"Your order, Sir." Seorang pramusaji dengan setelan rapih datang membawa pesanan Januar dan meletakkannya di atas meja Januar yang menghadap kaca yang memanjakan matanya dengan pemandangan malam kota.
"Is there anything else, Sir?" Tanya pelayan setelah menuangkan red wine ke gelas Januar.
Januar menunjukkan senyum tipisnya sambil menggeleng pelan. "No, thanks."
Januar menyesap red wine-nya dengan pandangan mata ke bawah menatap pemandangan lampu-lampu kota yang terlihat indah dari atas. Perhatiannya beralih ketika ponselnya berdenting dan satu pesan muncul.
"Lo di mana? Gue ke sana sekarang."
Untuk sejenak Januar berpikir agar memberi tahu lokasinya atau tidak, namun akhirnya Januar memutuskan untuk memberitahunya.
"22nd Lounge di Liems Tower."
Dua puluh menit kemudian dari pintu masuk terlihat seorang wanita yang melangkah ke arah Januar, pandangan Januar beralih padanya hingga wanita tersebut duduk di sebelahnya.
"Ngapain lo jauh-jauh ke Grand Lounge coba kalo di gedung punya lo sendiri ada tempat begini. Udah gitu deket lagi kalo mau pulang, tinggal naik lift aja terus sampe deh ke griya tawang lo itu."
Januar terkekeh pelan sementara pandangannya kembali menerawang ke depan. "Kalo gue ke sini terus kasian nanti karyawannya bosen sering ngeliat muka gue."
Ucapan Januar membuat wanita yang duduk di sebelahnya berdecih, bukankah harusnya mereka senang karena dapat melihat secara langsung pemilik gedung tertinggi di Jakarta ini dengan leluasa? Terlebih ia memiliki visual yang luar biasa tampan dengan wajah campuran Asia-Eropa yang dimilikinya, sudah pasti Januar akan menjadi pusat perhatian. Atau mungkin justru itu sebenarnya yang berusaha untuk Januar hindari, yaitu menjadi pusat perhatian. Karena setahunya sejak SMP Januar paling tidak suka menjadi pusat perhatian banyak orang apalagi hanya karena ketampanan dan penampilannya.
"Alesan ... pasti lo takut jadi pusat perhatian 'kan?"
Januar tergelak, tebakan wanita itu sangat tepat. "Lo emang cenayang ya Cel," ujar Januar kepada Celine. Iya benar, Celine yang saat ini duduk di sebelah Januar adalah Celine yang sama yang mana adalah sahabat dekat Bian.
"Itu 'kan yang jadi alesan lo juga kenapa lo nyembunyiin latar belakang keluarga lo. Kalo sampe orang-orang di sekolah tahu lo berasal dari keluarga terkaya nomer 3 di Asia, bakal gonjang-ganjing seantero sekolah."
KAMU SEDANG MEMBACA
Reunion
Romance18+ Ditengah krisis kepercayaan akan cinta dan trauma yang Bian alami, Januar-seseorang dari masa lalu Bian-hadir menawarkan kisah cinta indah nan romantis. *** Pertemuan Fabiane Alexandra dan Januar Liem di acara reuni SMP membuat keduanya terlibat...
