R E U N I O N
————————
Acara reuni yang sudah berlangsung setengah jalan ini nampaknya cukup menguras energi Januar. Ia harus meladeni satu persatu orang-orang yang menanyakan kabarnya, apa yang ia lakukan selama ini dan pekerjaan apa yang dilakukannya. Entah sudah berapa kali Januar membicarakan hal tersebut, rasanya ia bosan dan ingin cepat pergi dari tempat itu tetapi Ravi tidak membiarkannya. Temannya itu tidak membiarkan Januar jauh darinya.
"Rav, gue ke toilet dulu ya?" bisik Januar kepada Ravi, saat ini mereka sedang berkumpul bersama para teman lelaki yang dahulu.
"Alah, lo pasti mau kabur 'kan?"
Januar tidak bisa menahan helaan napasnya, ia mengeluarkan ponsel dan dompetnya.
"Kalo lo nggak percaya, nih lo bawa dompet sama HP gue." Januar memberikan dua benda tersebut kepada Ravi lalu ia melenggang pergi menuju toilet.
Setelah selesai dengan urusannya di toilet, Januar memilih untuk mencari tempat yang sepi, ia ingin tenang sejenak dan menghirup udara bebas sebelum kembali ke dalam. Saat sampai di taman, Januar sedikit terkejut kala melihat seseorang yang sedang berdiri dengan pandangan ke depan. Menyadari bahwa orang tersebut adalah Bian, Januar mengurungkan langkahnya dan berbalik. Namun kakinya tertahan kala mendengar Bian berbicara.
"Punya korek nggak?"
Januar menoleh, ia menatap Bian yang sedang menatapnya. Januar menggeleng.
Bian berdecak pelan, ia kembali memasukkan rokoknya.
"Tumben lo dateng?" Bian membuka percakapan dengan Januar membuatnya mau tak mau melangkah menghampiri Bian. Ia berdiri di sebelah wanita yang setinggi daun telinganya, jika dikira-kira dengan tinggi badan Januar yang 185 cm, mungkin tinggi Fabiane sekitar 170 cm.
"Kebetulan ada waktu."
Sudut bibir Fabiane sedikit terangkat. "Sejujurnya gue kurang suka sama acara reuni kayak gini."
"Why?" Melirik Bian.
Sebelum berucap, Bian menyeringai miris. "Acara ini seringkali jadi ajang adu nasib doang."
"That's what reunion for, right?"
Benar juga. Bian terkekeh. Tanpa berkata-kata lagi, Ia lantas melangkah masuk lebih dulu, meninggalkan Januar yang berdiri dengan tatapan yang mengikuti Bian, hingga akhirnya Januar juga memutuskan untuk kembali masuk.
Langkah Januar terhenti kala melihat Bian yang berdiri diam, matanya mengikuti arah tatapan Bian. Ternyata ia melihat temannya yang sedang berdiri di atas panggung, dia adalah Dave, salah satu siswa terkenal di angkatan mereka. Selain karena tampan, sifat bad boy-nya yang digilai para perempuan kala itu membuatnya terkenal. Terlebih dulu dia adalah anggota geng yang paling berkuasa di sekolah. Seingat Januar, Dave bahkan pernah berpacaran dengan Bian yang saat itu masih menjabat sebagai Ketua OSIS.
"Hold on, hold on. Sebelum party dimulai gue mau ngumumin sesuatu sama kalian semua." Dave berdiri membelakangi beberapa staf yang sedang merubah set panggung menjadi tempat DJ.
Semua orang langsung berbisik-bisik menebak kira-kira apa yang akan Dave umumkan.
"Pasti undangan nikah!" teriak salah seorang pria dalam kerumunan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reunion
Romance18+ Ditengah krisis kepercayaan akan cinta dan trauma yang Bian alami, Januar-seseorang dari masa lalu Bian-hadir menawarkan kisah cinta indah nan romantis. *** Pertemuan Fabiane Alexandra dan Januar Liem di acara reuni SMP membuat keduanya terlibat...
