Part 17: Betray

1.4K 215 35
                                        

R  E  U  N  I  O  N
————————

Masih di dalam mobilnya, Bian menatap layar ponsel yang menunjukkan sebuah pesan, ia berdecak kesal. Sudah berkali-kali Bian mengabaikan pesan dari Karina dan tidak pernah mengangkat panggilan dari wanita itu, namun Karina tidak pernah menyerah. Wanita itu masih terus berusaha menghubungi dirinya dan mengajaknya untuk berbicara, sejak dirinya batal menikah dan mengetahui bahwa Karina adalah selingkuhan Pram, Bian tidak pernah mau lagi bertemu dengannya atau berbicara dengannya barang kali mendengarkan semua penjelasannya. Bian tidak ingin mendengar apapun dari wanita itu, ia hanya cukup tahu dan tidak mau tahu alasan atau pembelaan dari Karina terhadap apa yang sudah dilakukannya dengan Pram. Bagi Bian, selingkuh tetaplah selingkuh, tidak ada hal apapun yang dapat membenarkan perselingkuhan.

Mengenal Karina dalam waktu yang lama membuat Bian tahu sifat wanita itu, ia adalah wanita yang gigih dan tidak akan berhenti hingga mencapai keinginannya. Begitu pun dengan saat ini, Karina pasti tidak akan berhenti menghubunginya jika Bian tak kunjung menemuinya. Akhirnya setelah berpikir cukup lama Bian memutuskan untuk menemui Karina dan setelah ini ia akan memutuskan hubungan dengan wanita itu secara langsung sehingga dia tidak lagi bisa menghubungi atau menemuinya.

To: Karina
(Dimana?)

Bian membalas pesan Karina.
Tanpa menunggu lama wanita itu langsung membalasnya.

From : Karina
(Gue sekarang lagi di The Bistro Restaurant, kamu langsung aja ke sini.)

***

Sesampainya di The Bistro, Bian mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Karina. Wanita itu melambaikan tangannya saat pandangan mereka bertemu, ia tersenyum tipis namun Bian tidak membalasnya. Dengan langkah setengah hati Bian menghampiri Karina, ia menaruh tas di atas meja lalu duduk di hadapannya, pandangan Bian sempat teralih ketika melihat perut Karina yang semakin besar.

"Gue nggak punya banyak waktu."

"Makasih banyak sebelumnya karena lo mau dateng nemuin gue."

Bian hanya diam dengan tatapan mata ke arah lain, rasanya ia masih tak sudi menatap wajah Karina.

"Bian, gue nggak akan membela diri atau mencari pembenaran atas apa yang udah gue lakuin karena gud sadar itu benar-benar salah. Gue juga akan terima kalo lo mau mengakhiri hubungan persahabatan kita yang udah bertahun-tahun, tapi gue pengen kita mengakhirinya secara baik-baik. Gue nggak mau lo terus membawa kebencian selama hidup lo."

Bian berusaha keras agar tidak mendengus, Karina memang sangat pandai berkata-kata dan membalikan situasi. Lihat saja sekarang, kata-katanya membuat Bian merasa bahwa ia adalah orang yang paling jahat di sini. Bian bukan tidak mau memaafkan Karina dan Pram, ia hanya tidak ingin melihat wajah mereka lagi karena itu terlalu memuakkan untuknya. Pengkhianatan yang dilakukan oleh Karina yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri benar-benar sangat kejam dan itu yang membuat Bian masih belum bisa menerimanya. Hanya karena cinta ia bahkan harus kehilangan sahabat yang sudah dikenalnya dan bersamanya selama bertahun-tahun. Bian masih tidak habis pikir, dari sekian banyaknya perempuan kenapa Pram harus berselingkuh dengan sahabat Bian?

"Gue nggak akan ngomong macem-macem lagi, mungkin saat ini pertemuan terakhir kita. Gue harap lo selalu bahagia, gue sayang banget sama lo, Bian." Karina menatap Bian dengan mata berkaca-kaca dan wajah getir, hal tersebut membuat dada Bian juga sesak. Bian sudah terbiasa kehilangan pasangan, tapi untuk sahabat, ini adalah pertama kali untuknya dan itu terasa begitu menyakitkan.

ReunionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang