R E U N I O N
————————
Di balkon yang cukup luas dengan sofa panjang, Januar dan Jethro duduk menatap langit malam seraya menikmati teguk demi teguk red wine. Sudah sangat lama kedua saudara itu tidak menghabiskan waktu seperti ini. Meski hening, namun sama sekali tak terasa canggung di antara mereka. Keduanya sudah terbiasa satu sama lain, apalagi Januar memang bukan tipe yang banyak berbicara, berbeda dengan Jethro. Ada kalanya, Jethro ingin memberikan ruang keheningan untuk adiknya. Seperti saat ini, ketika keduanya hampir tak berbicara apa-apa dan hanya menikmati suasana malam saja.
"Kak?"
Jethro terdiam sejenak mendengar panggilan itu, biasanya Januar paling gengsi memanggil Jethro dengan sebutan Kakak, dia hanya melakukannya ketika di saat-saat yang serius. Pandangan Jethro pun perlahan menuju Januar yang masih menatap ke depan.
"Gue mau minta tolong sama lo." Januar kini menatap Jethro.
"Minta tolong apa?" Tidak seperti biasanya Januar seperti ini. Selama yang Jethro tahu, ia selalu menghadapi masalahnya sendiri dan tidak pernah meminta tolong orang lain, terlebih keluarganya. Di antara yang lainnya, Januar adalah yang paling mandiri.
"Cuma lo yang bisa merubah pikiran mami sama papi."
Jethro terdiam menunggu ucapan Januar selanjutnya.
"Gue denger mereka mau jodohin gue sama Addison."
Sesungguhnya itulah alasan Jethro datang ke sini.
"Besok gue akan ketemu dan coba ngomong sama mereka buat batalin rencana itu. But, if it doesn't work, would you help me?" Januar seakan tidak memiliki cara lain lagi, selain meminta bantuan Jethro. Karena di antara yang lainnya, hanya Jethro yang berani dan bisa merubah apapun keputusan orang tua mereka.
Jethro tersenyum hingga lesung pipinya terlihat, ia pun mengangguk-angguk, menyanggupi permintaan adiknya dengan senang hati. "Sure," katanya kemudian mengajak Januar untuk bersulang.
***
Pagi yang cerah di akhir pekan, Bian dibangunkan oleh kehadiran ibunya yang datang membawa belanjaan untuk mengisi dapur Bian yang biasanya sepi. Tapi kali ini, isi kabinet dan kulkasnya ternyata penuh dengan bahan makanan. Tidak seperti biasanya, yang mana Fatma sampai harus turun tangan memastikan agar kebutuhan dapur anaknya itu lengkap sehingga Bian bisa mengurangi kebiasaan makan di luar.
"Tumben banget dapur kamu rameh. Biasanya ini kulkas isinya air putih doang sama buah yang udah layu."
Bian hampir tersedak oleh air putih, ia pun buru-buru menelan minumnya. Tentu saja kebutuhan dapurnya sekarang komplit, itu semua karena Januar.
"Iya. Bosen soalnya beli makan di luar terus." Alibi Bian seraya mengusap hidungnya.
"Nah gitu dong, dari dulu kek begitu. Mending juga masak sendiri jauh lebih enak."
Mah, tapi bukan aku yang masak!
Alih-alih mengatakan itu, Bian justru terkekeh lalu menggaruk lehernya yang mendadak gatal. "Iya mah."
"Eh, gimana itu si Yuska? Masih sering kontak sama dia?"
Mendengar nama itu, mata Bian melebar, ia baru ingat bahwa Yuska mengundangnya untuk datang ke bar miliknya dan Bian melewatkan undangan tersebut tanpa memberikan kabar apa-apa. Terselip sedikit rasa bersalah pada hati Bian.
"Mm ... nggak begitu sering sih, Mah. Kenapa emang?"
"Ooh ... nggak kenapa-kenapa. Nanya aja."
Dalam hatinya Bian ingin mengatakan bahwa saat ini dirinya sedang dekat dengan sosok lelaki lain, tapi Bian merasa hal ini masih terlalau dini untuk diketahui oleh ibunya.
"Mamah udah sarapan belum?" Bian segera mengalihkan topik pembicaraan, dia tidak ingin paginya terasa suram karena topik pembicaraan yang cukup berat.
***
Di dalam kamarnya, Addison baru saja membersihkan diri. Ketika ia mendengar bunyi bel, lantas Addison memakai kimono satinnya. Saat membuka pintu, berpikir bahwa itu adalah petugas hotel yang mengantarkan sarapan untuknya, ternyata itu adalah orang lain. Addison langsung terdiam, matanya tak berkedip melihat orang tersebut muncul di hadapannya dengan senyum tipis.
"Kak Jethro?"
***
Januar sampai di Singapura saat siang hari, ia langsung dijemput oleh supir pribadi dan dibawa menuju kediaman orang tuanya. Layaknya kediaman orang kaya pada umumnya, rumah kedua orang tua Januar terletak di lokasi yang jauh dari keramaian. Berada di atas bukit, memiliki halaman yang sangat luas, dan berarsitektur megah. Ayahnya, Joseph Liem berdarah campuran Indonesia-Singapura, dari nenek moyangnya yang berada di Singapura, keluarga Liem memang dikenal sudah kaya sejak dahulu. Maka tidak heran jika keluarga Liem menjadi keluarga yang terkenal dan terpandang. Sementara itu, ibu Januar adalah asli keturunan Indonesia yang juga berasal dari keluarga konglomerat.
Januar turun dari mobil begitu pintunya dibukakan, di tempat ini ada banyak pelayan dan petugas yang bekerja. Di setiap sudut mereka ada dan memiliki tugas masing-masing.
"Thank you," lirih Januar. Kopernya yang berukuran tak seberapa itu dibawakan masuk oleh salah satu pelayan, sementara Januar melanjutkan langkahnya, menaiki undakan tangga menuju pintu masuk rumah dengan pilar-pilar raksasa.
Pintu rumah itu pun terbuka dan muncul seorang wanita dengan penampilan elegan yang menyambut Januar. Dia adalah Lilliana, ibu Januar.
"Januar ...." Lilliana menyapa Januar dengan tangan yang terbuka, keduanya pun saling memeluk.
"Apa kabar, sayang?"
"Baik. Mami sendiri gimana?"
"Mami juga baik. Ayo masuk, Mami sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu." Lilliana menggandeng Januar dan Januar merangkulnya dengan mesra. Ia baru mengunjungi orang tuanya lagi setelah beberapa bulan.
Saat sudah di dalam, Joseph, ayah Januar muncul menyambutnya juga. Keduanya saling memeluk. Bahkan di usianya yang tak muda lagi masih terlihat ketampanan di wajah Joseph. Dari situlah ketampanan Januar dan Jethro berasal. Sementara Sinclair lebih mirip dengan Lilliana.
Mereka pun mengajak Januar ke ruang makan untuk makan siang. Di meja makan itu, mereka hanya tinggal duduk sementara pelayan yang menyiapkan semuanya. Mulai dari menuangkan air minum sampai menghidangkan berbagai makanan di meja makan.
"How's Jakarta? Is everything good, Januar?" Joseph bertanya dan membuat Januar mengangguk-angguk samar.
"Good. Semuanya baik kok, Pi."
"Glad to hear that, then." Joseph tersenyum lega.
"Mami dengar, Addison sedang ada di Jakarta ya?"
Pandangan Januar beralih pada Lilliana yang duduk di hadapannya. Ia kembali mengangguk. "Iya, Mi." Jawaban itu berhasil membuat kedua orang tuanya tersenyum.
"Aku juga udah denger dari Addison soal rencana perjodohan itu, dan kami sepakat buat menolak rencana tersebut."
Senyum Lilliana dan Joseph perlahan pudar. Keduanya saling melirik lalu kembali menatap Januar.
"Kenapa? Mami pikir kalian sangat cocok, terlebih kalian sudah saling mengenal sangat lama."
"Mi, aku dan Addison memang bersahabat baik, tapi kami nggak pernah memiliki perasaan satu sama lain. We're just friends."
"Okay ... kalau begitu, mulai sekarang kalian bisa 'kan, untuk jadi lebih dari itu?"
Januar terdiam sejenak memandang ibunya, ia pun menghela napas panjang. "Mi ... I love someone else."
Hening. Lilliana dan Joseph terdiam cukup lama, sampai akhirnya Joseph menatap Januar lekat dan membuka suara.
"Januar, for people like us, marriage is not just about love, but also about business."
"I know, itu juga yang Papi sama Mami lakukan kepada Kak Sinclair. But look how it ended up?" Ucapan Januar berhasil membungkam kedua orang tuanya.
Lilliana pun meneguk minumnya, melegakan tenggorokannya yang mendadak tercekat. Tatatapan matanya perlahan menuju Januar.
"Who is she?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Reunion
Romance18+ Ditengah krisis kepercayaan akan cinta dan trauma yang Bian alami, Januar-seseorang dari masa lalu Bian-hadir menawarkan kisah cinta indah nan romantis. *** Pertemuan Fabiane Alexandra dan Januar Liem di acara reuni SMP membuat keduanya terlibat...
