Part 29: Anger

388 54 1
                                        

R E U N I O N

————————

Makanan di meja sudah tak lagi hangat, Januar pun tak lagi memiliki selera makan. Hampir satu jam ia tak kunjung beranjak dari kursi makan, yang dilakukannya adalah duduk termenung menunggu Bian kembali seraya berusaha menghubunginya. Perasaan Januar benar-benar kalut, ia bak tenggelam dalam pikiran buruknya, membayangkan bagaimana jika Bian tak lagi percaya padanya. Pada akhirnya yang Januar lakukan pun menyalahkan diri sendiri, betapa bodohnya ia sampai-sampai membuat Bian merasa dibohongi seperti itu.

Januar kembali mengecek ponselnya, membuka ruang obrolan dengan Bian, kembali membaca pesan-pesannya yang tak kunjung dibalas.

To: Bian
Bi, kamu dimana?

Please angkat telfon aku.

Bian aku mohon, aku khawatir sama kamu.

It's okay kalo kamu nggak mau dengerin penjelasan aku, tapi please kasih tau aku kamu dimana?

Bian?

Sayang, kalo kamu baca ini please balas ya? I'm worried about you Bian.

Januar meremas ponsel dalam genggamannya, ia lalu meletakkannya kembali dan menundukkan wajah frustasi, kedua tangannya meremas rambut berusaha meredam rasa pusing di kepalanya.

Atensi Januar langsung teralih saat ponselnya berdering, berharap itu dari Bian namun ternyata Rendy yang menghubunginya.

"Sorry Jan gue lagi hectic tadi jadi nggak angkat telfon dari lo, ada apa?"

"Nggak, gue cuma mau tanya, di sana ada Bian nggak?"

"Bian? Nggak ada tuh, dari tadi dia nggak ada muncul di sini."

"Oh oke Ren, thanks kalo gitu."

"Kenapa Jan? Lagi ada masalah?"

Januar awalnya sedikit ragu untuk berbicara, namun akhirnya ia memilih untuk jujur. "Iya, tadi gue sedikit cekcok sama Bian, terus dia pergi dan nggak bisa dihubungin. Gue khawatir."

"Lo udah coba tanya Celine?"

"Udah. Dia juga nggak tau."

"Well ... Bian nggak mungkin pergi jauh-jauh kok, palingan dia lagi di cafe buat nenangin diri. Nggak usah khawatir Jan, dia emang gitu kalo marah, lebih milih buat ngejauh dulu, baru nanti kalo udah tenang balik lagi."

"Iya Ren, thanks ya. Nanti kalo Bian hubungin lo, langsung kabarin gue aja."

"Oke, oke."

Usai mengakhiri panggilan dengan Rendy, Januar menghela napas panjang, pikirannya makin kalut sebab memikirkan keberadaan Bian yang entah di mana. Ia melihat jam tangannya menunjukkan pukul 10 malam. Lagi-lagi ponselnya berdering dan itu bukan dari seseorang yang Januar harapkan. Kini, Gerald—teman SMP—yang menghubunginya.

"Januar, lo lagi sibuk nggak? Gue sama yang lain lagi ngumpul nih di Batavia. Ravi nanti katanya bakal nyusul, ada Stasya juga di sini."

ReunionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang