R E U N I O N
————————
Pertemuan terakhirnya dengan Januar membuat Bian tak bisa berhenti memikirkannya. Sangat jelas diingatannya bagaimana Januar menciumnya dan menyentuh kulitnya dengan sangat lembut seolah Bian adalah sesuatu yang mudah rapuh. Membayangkan semua itu membuat Bian ingin kembali merasakannya, merasakan sentuhan Januar yang menjadi candu untuknya.
Bian mengacak rambutnya, apa yang salah dengan dirinya hingga menjadi seperti ini? Apakah semua ini karena ia sudah lama tidak merasakan sentuhan sensual seperti itu? Bian mendengus lelah, ia meletakkan mouse-nya lalu beranjak pergi menuju balkon kantornya untuk mencari udara segar.
***
Sebuah mobil jenis hatchback berhenti di depan lobi kantor Bian, perlahan kaca mobil terbuka dan terlihat Celine yang duduk di bangku kemudi. Melihat sahabatnya, Bian tersenyum lebar lalu segera masuk ke mobil.
"Lo udah makan?"
"Baru makan siang doang."
"Nice, kita cari makan dulu."
Bian hanya menurut mengikuti kemanapun Celine membawanya.
***
Pandangan Bian menyapu pemandangan di sekitarnya ketika mereka sudah sampai di 22nd Lounge, terakhir kali Bian datang ke sini bersama Pram. Masih sangat jelas di ingatan Bian ketika Pram melamarnya di sini, hari itu Bian merasa menjadi perempuan yang paling bahagia di dunia.
Mengingat kenangan tersebut, membuat langkah Bian terasa berat. Mati-matian ia berusaha melupakan kenangannya dengan Pram, namun hanya dengan mengunjungi tempat yang pernah didatanginya dengan Pram, semua usaha Bian jadi sia-sia. Ternyata Bian masih belum benar-benar bisa melupakan Pram. Terutama melupakan luka yang lelaki itu ukir di hatinya.
"Bian, lo mau pesen apa?"
Lamunan Bian buyar, ia berusaha fokus membaca buku menu. "Gue aglio e olio sama watermelon juice."
"Lo kenapa tiba-tiba ngelamun? Ada masalah?" Tanya Celine setelah pelayan meninggalkan mereka.
"Nggak apa-apa, cuma keinget pas Pram ngelamar gue di sini."
"Mau pindah tempat nggak?"
Bian segera menggeleng. "Nggak usah, don't worry ...."
Perlahan Celine tersenyum, ia mengelus lengan Bian. "Mereka masih hubungin lo?"
"Udah nggak ... terakhir Pram nyamperin gue ke Apart buat berhenti gangguin Karina."
Amarah Celine pun tersulut. "Udah gila ya tuh orang?! Nggak salah dia ngomong itu ke elo?!"
"Katanya Karina stress karena tekanan orang-orang."
"Ya terus itu salah lo gitu?!" Celine menggeleng-geleng. "Wahh stress tuh orang. Mereka yang salah, mereka juga yang nggak tau malu."
Bian terdiam kemudian tersenyum getir. "Gue capek Cel ... kayaknya dari dulu cowok yang berhubungan sama gue nggak ada yang bener deh."
"...."
"Kalo nggak selingkuh, ya mutusin karena bosen. Masalahnya itu-itu doang. Se-nggak worth it itu kah diri gue?" Bian menatap Celine.
"Nggak." Celine menggeleng lemah. "Bukan lo yang nggak worth it. Tapi mereka yang kurang bersyukur."
"...."
"Bian ... di dunia ini, masih banyak kok laki-laki yang baik. Percaya deh. Suatu saat, di waktu yang tepat, Tuhan pasti bakal hadirin orang tersebut buat lo. Tinggal lo-nya aja yang mau menerima dia atau nggak."
KAMU SEDANG MEMBACA
Reunion
Romance18+ Ditengah krisis kepercayaan akan cinta dan trauma yang Bian alami, Januar-seseorang dari masa lalu Bian-hadir menawarkan kisah cinta indah nan romantis. *** Pertemuan Fabiane Alexandra dan Januar Liem di acara reuni SMP membuat keduanya terlibat...
