Part 24: Encounter

449 72 11
                                        

R E U N I O N
————————

Belum pernah sebelumnya Bian menikmati makanan dengan perasaan canggung seperti ini. Ia bahkan sampai tidak bisa merasakan kezelatan dari makanan restoran bintang lima itu. Pikirannya sibuk dengan apa yang kini sedang dihadapinya, yaitu Lilliana. Bian was-was dengan apa yang akan Lilliana bicarakan dengannya. Sementara, Lilliana justru terlihat begitu tenang menikmati suap demi suap makanannya. Belum sepenuhnya habis, Lilliana meneguk wine-nya lalu mengusap sudut bibirnya. Ia sudah selesai.

"Januar sudah cerita tentang kamu, namun tidak banyak. Itulah sebabnya saya mengajak kamu untuk bertemu."

Bian susah payah menelan makanannya, ia mengambil minum, mengelap sudut bibirnya, barulah kemudian menatap Lilliana. Bian masih berusaha memproses perkataan Lilliana sebelumnya. Tatapan Bian mungkin saat ini terlihat seperti orang bodoh karena cukup terkejut dengan ucapan Lilliana.

"Apakah saya mengganggu waktu kamu?"

Sejujurnya iya, apalagi Bian harus pulang lebih cepat dari biasanya padahal di kantor dia masih memiliki banyak pekerjaan. Tapi tidak mungkin Bian berkata seperti itu bukan?

Mata Bian mengerjap, ia pun menggeleng. "Oh, nggak Tante. Sama sekali nggak."

Lilliana tersenyum tipis. Sorot matanya kemudian menjadi serius. "Selama ini ... saya tidak pernah ikut campur dalam hubungan percintaan Januar. Saya tidak pernah melarangnya untuk berhubungan dengan siapapun. Namun ...."

Oke. Sepertinya Bian tahu ke mana arah pembicaraan ini.

"Mengenai perempuan yang akan menjadi istri Januar nantinya, saya harus turun tangan. Karena pernikahan itu, sesuatu yang berlangsung untuk waktu yang panjang. Saya tidak ingin Januar salah memilih pasangan."

Bian terdiam. Ia kira, situasi seperti ini hanya ada dalam sinetron belaka. Si ibu yang kaya raya menemui kekasih dari anaknya, kemudian memintanya untuk menjauhi dan mengakhiri hubungan dengan anaknya. Apakah Lilliana juga akan menawarkan sejumlah uang kepada Bian?

"Tapi ... saya yakin, pilihan Januar itu tidak pernah salah. Dia tahu apa yang terbaik untuk dirinya."

Tubuh Bian membeku, ia yang semula sudah kehilangan harapan dan siap untuk dimaki, kini memandang LIlliana dengan tatapan tak menyangka.

Lilliana pun perlahan tersenyum. Ia meneguk red wine sebelum kembali menatap Bian. "Tenang Fabiane ... saya bukan orang yang jahat. Saya hanya seorang ibu yang menginginkan anaknya bahagia. Saya tidak meminta kamu untuk meninggalkan Januar."

Bian mengedip-ngedipkan matanya berusaha menghilangkan ketegangan dalam dirinya. Ia kini bisa bernapas dengan lega. Bian tersenyum tipis, masih tidak menyangka bahwa Lilliana adalah wanita yang baik.

"Hanya saja ... apakah perempuan mandiri seperti kamu siap mengorbankan apa yang kamu miliki saat ini, jika kamu menikah dengan Januar nanti?"

Baru saja Bian dibuat senang, tiba-tiba senyumnya menjadi kaku dengan pertanyaan Lilliana.

"Mungkin ini akan terdengar sedikit sombong. Namun, kehidupan orang-orang seperti kami tentunya berbeda, Fabiane. Kamu akan bertemu dengan banyak hal yang tidak kamu sukai, hidup kamu juga akan berubah, dan orang-orang yang saat ini dekat dengan kamu, mungkin tidak bisa kamu temui lagi dengan sesuka hati. Ada banyak hal yang harus kamu korbankan."

Melihat Bian yang terdiam dengan mata nanar, Lilliana mengalihkan pandangannya. Ia sedikit tersenyum. Dirinya hanya mengatakan sebuah fakta, memang beginilah adanya kehidupan mereka. Hidup sebagai kalangan kelas atas tidak hanya soal kebergelimangan harta, tetapi juga mengenai kehidupan sosial mereka yang amat berbeda dari kebanyakan orang. Oleh sebab itu, Lilliana tidak ingin mengambil risiko terhadap kehidupan Januar nantinya.

***

Memakai barang-barang mewah, berkumpul dengan para sosialita, menghadiri acara-acara kelas atas, dan menghabiskan banyak waktu di rumah. Mungkin itu adalah banyangan jika Bian menikah dengan Januar nantinya. Ia tidak bisa membayangkan jika gerak-geriknya nanti menjadi perhatian banyak orang, dibicarakan dalam pertemuan sosialita tapi kemudian bersikap ramah seolah tak pernah terjadi apa-apa, dan lain sebagainya.

Jika menikah itu sama dengan kehilangan hak atas dirinya, lebih baik Bian tetap sendiri saja.

"Kamu baik-baik aja?"

Mata Bian mengerjap, baru tersadar dari lamunan panjangnya. Ternyata ia hanya mengacak-acak makan malamnya tanpa minat. Akhirnya Bian memilih untuk meneguk minumannya. Tingkah dirinya justru membuat Januar semakin khawatir.

"Ada sesuatu yang terjadi?"

Bian lantas menggeleng, ia tersenyum untuk meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Namun, tidak semudah itu membohongi Januar.

"Are you sure?"

"Iya, aku baik-baik aja. Aku cuma masih kenyang."

Januar memilih untuk percaya, meski dirinya masih ragu, namun Januar tidak ingin memaksa Bian untuk bercerita padanya. Ia pun menggenggam tangan Bian.

"Apapun yang mengusik kamu, jangan ragu buat cerita sama aku. Oke?"

Bian kembali tersenyum dan mengangguk. Keduanya memandang cukup lama hingga kemudian Januar melanjutkan makannya yang tersisa sedikit.

"Januar?"

"Hm?"

"Kalo seandainya ... kita menikah ... aku masih boleh kerja nggak?"

Januar terdiam sedang memproses perkataan Bian, ia tak menyangka Bian tiba-tiba akan membahas topik seperti ini. Hal yang bahkan sekali pun tak pernah Januar bayangkan.

"Januar?" Bian kembali memanggil Januar yang tak kunjung merespon.

Januar pun mengedip beberapa kali. "Why not? If that's what you want. Menikah bukan berarti kamu harus melepaskan kehidupan kamu sepenuhnya, bukan?"

Bian yang memandang Januar tanpa sadar tersenyum tipis.

"Menikah saja itu sudah jadi pilihan yang berat untuk perempuan, karena dia harus meninggalkan orang tuanya dan hidup dengan pasangannya. Aku nggak mau jadi pasangan yang banyak menuntut, whatever it is as long as we can work together, kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau."

Bian terpana dengan jawaban Januar. Ia hanya bisa tersenyum haru seraya menggenggam tangan lelaki itu. Betapa beruntungnya ia bertemu dengan lelaki seperti Januar. Di tengah-tengah kegundahan hatinya, Januar mampu memberikan kesejukan yang membuat Bian jauh lebih tenang.

***

Seusai makan malam, Januar dan Bian meninggalkan restoran menuju parkiran, namun langkah Januar tiba-tiba terhenti melihat sosok yang tak asing baru saja keluar dari mobil. Mereka berjalan sambil bergandengan dan berbicara mesra. Mata Januar pun menyipit.

"Kenapa?" Tanya Bian.

"Itu ... bukannya Jethro sama Addison?"

Bian mengikuti arah pandangan Januar dan ekspresinya tak kalah berbeda kala melihat Jethro dengan Addison. Hingga akhirnya pandangan keempat orang itu pun bertemu. Mereka sama-sama terkejut, layaknya orang tua yang memergoki anak remajanya diam-diam berpacaran.

ReunionTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang