R E U N I O N
————————
Di dalam suite room yang Januar pesan, ia meletakkan Bian di atas ranjang berukuran king size. Wanita itu tidak berkutik sama sekali tetapi di sisi lain Januar bersyukur karena jika tiba-tiba Bian sadar dia pasti akan panik. Januar menggulung lengan kemejanya, ia memperhatikan posisi Bian yang menurutnya sudah benar namun stiletto berwarna beige yang masih terpasang di kaki Bian sedikit mengusiknya, itu pasti akan mengganggu tidur Bian. Januar memutuskan untuk melepaskan stiletto tersebut dan menaruhnya dengan rapih di bawah ranjang.
Setelah memastikan semuanya, Januar pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari kamar tersebut. Tetapi, baru dua langkah berjalan Januar langsung terhenti saat mendengar suara Bian yang sedang merancau.
"Is he stupid?"
Januar menoleh, memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
"Why did he do this to me?" katanya dengan suara parau.
Perlahan Januar memutar tubuhnya menghadap Bian, ia melihat mata wanita itu perlahan terbuka. Tatapan sayunya tertuju pada Januar, Bian kemudian sedikit beranjak dan bersandar di kepala ranjang. Bola matanya bergerak ke sana kemari, wajahnya berubah menjadi sedih dan tanpa di duga air matanya menetes begitu saja dari sudut matanya.
Pemandangan itu membuat Januar tidak kuasa untuk meninggalkan Bian, ia mengerti bagaimana perihnya menahan sakit hati dan sesak di dalam dada sendirian sementara ia harus terlihat baik-baik saja di depan semua orang.
"Sebenarnya apa sih yang kurang dari aku?" Bian kembali menatap Januar.
Januar yang sedari tadi hanya terdiam akhirnya memutuskan untuk melangkah menghampiri Bian berusaha untuk menenangkan wanita yang sedang mabuk itu.
"Hey, it's okay. You better sleep ...."
Bian seolah tidak mendengarkan ucapan Januar, ia justru menatap Januar lekat. "Am I not pretty?"
Mendapati tatapan intens tersebut, Januar sontak membeku. Sejujurnya ia bingung harus merespon apa, wajah cantik Bian yang mabuk saja sudah membuatnya kewalahan.
"You are gorgeous...." lirih Januar.
"Atau ... mungkin—aku kurang baik?"
"Enggak Bian ... dia yang bodoh dan masalahnya bukan ada di kamu." Januar dengan sabar meladeninya.
"Then why the hell he fuck another girl?"
Sontak Januar terdiam, ia kehilangan kata-kata dan yang bisa dilakukannya hanya menatap Bian yang juga masih menatapnya dengan mata perih.
Bian tiba-tiba tersenyum getir, ia terkekeh pelan. "Mungkin aku nggak sehebat wanita itu saat di ranjang kali ya."
"What?" Januar terperangah tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Bian nampaknya benar-benar mabuk. Januar menghela napas, ia hendak pergi meninggalkan Bian tetapi lagi-lagi wanita itu menahannya. Kini Bian menahan lengan Januar agar tidak pergi meninggalkannya.
Bian menatap Januar dengan sorot mata yang dalam. "You ...."
Januar menelan salivanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reunion
Romance18+ Ditengah krisis kepercayaan akan cinta dan trauma yang Bian alami, Januar-seseorang dari masa lalu Bian-hadir menawarkan kisah cinta indah nan romantis. *** Pertemuan Fabiane Alexandra dan Januar Liem di acara reuni SMP membuat keduanya terlibat...
