R E U N I O N
————————
Bertempat di Villanya, Liliana mengadakan makan malam sebelum besok pagi nanti ia akan kembali pulang Singapura. Meja makan berbahan marble dengan ukuran besar itu sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan olahan makanan laut yang merupakan kesukaan Januar. Ia sengaja mengadakan acara makan malam ini dengan mengundang anak-anaknya serta Addison untuk membicarakan perjodohan antara Januar dan Addison. Hanya saja, Januar tak kunjung datang dan kini hanya ada Sinclair, Jethro serta Addison yang belum membuka pembicaraan apapun. Apalagi mengingat hubungan Jethro dan Addison yang baru saja benar-benar berakhir, rasa tidak nyaman bercampur amarah tak bisa disembunyikan oleh Jethro yang duduk di samping Sinclair dan berhadapan dengan Addison.
Liliana melirik jam tangan yang menunjukkan hampir pukul delapan malam. Ia beralih pada Jethro dan berkata, "Apakah sudah ada kabar dari Januar? Sudah sampai mana dia?"
Jethro yang semula menatap lurus dengan pandangan datar lantas mengecek ponselnya yang ada di atas meja, kemudian ia menatap Liliana. "Belum Mam."
"Sinclair, coba kamu telfon Januar."
Sinclair pun mengangguki ucapan ibunya, baru saja ia mengambil ponselnya dari tas tiba-tiba terdengar langkah kaki memasuki ruang makan. Muncul Januar masih dengan setelan kantornya. Tatapan mata lelaki itu menatap satu per satu orang-orang yang menempati kursi makan dan berakhir pada Addison. Tanpa berbicara, Januar menghampiri Addison lalu meraih pergelangan tangannya.
"Gue mau bicara sama lo."
Tanpa sempat bertanya atau menolak Januar pantas menarik Addison dan membuat wanita itu mau tak mau menurutinya. Liliana yang melihat pemandangan itu pun menatap penuh dengan tanda tanya.
"Januar!" Panggil Liliana tapi tak digubris oleh anaknya yang terus melangkah membawa Addison menuju halaman belakang. Sementara itu Sinclair memasang ekspresi sedikit terperangah menyaksikan keberanian anak bungsunya sedangkan Jethro masih terdiam dengan sorot mata tajam.
***
Baru saja Januar merasa bahagia akan hubungannya dengan Fabiane yang sudah mendapatkan kejelasan, tapi tiba-tiba badai kembali datang menerpa keberlangsungan hubungan percintaannya. Hubungan Januar dan Bian itu diibaratkan seperti kapal yang terombang-ambil di lautan dan badai adalah masalahnya. Januar kira, masalahnya perlahan mulai reda, apalagi dirinya dengan Addison sepakat untuk tidak menghendaki perjodohan itu. Namun semuanya seakan menjadi kacau saat Januar mendengar kabar dari Jethro melalui pesan singkat bahwa Addison memutuskan untuk menerima perjodohan tersebut.
Januar tidak tahu apa alasan Addison mengambil keputusan itu, dia bukan wanita yang bisa memutuskan sesuatu dengan tiba-tiba. Sejak dulu, Januar sangat tahu bahwa wanita itu penuh dengan perhitungan, ia tak akan melakukan sesuatu yang dapat merugikan hidupnyq atau pun hal yang tidak dikehendakinya. Tapi kali ini, Januar benar-benar tak habis pikir mengenai keputusan Addison.
Hingga akhirnya, di tengah-tengah pertemuan dirinya dengan orang tua Fabiane, Januar memutuskan untuk pergi lebih dulu. Walau ada rasa tidak enak terhadap Bian dan Ibunya yang sudah repot-repot menyiapkan makan malam, namun Januar harus menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu sebelum semuanya terlambat dan mengancam hubungannya dengan Bian.
"Bian aku bener-bener minta maaf harus pergi kayak gini." Januar menatap dengan penuh rasa bersalah sementara Bian justru menggeleng dan tersenyum tipis.
"It's okay, aku ngerti kok, mungkin ada hal penting yang harus mami kamu bicarain. Kita bisa rencanain makan malam sama mamah aku lain kali, tenang aja ... masih banyak waktu buat kita, Januar."
Januar menatap lekat mata Bian yang memandangnya penuh dengan kelembutan. Tak pernah menyangka bahwa ia akan menyayangi dan mencintai wanita sedalam ini. Bahkan membayangkan kehidupannya tanpa Bian di dalamnya membuat Januar tidak sanggup, akan seperti apa dirinya nanti.
Sebelum masuk ke mobil, Januar membawa Bian dalam dekapan eratnya, memberikan kecupan di pucuk kepala wanita itu cukup lama dan memandang matanya sekali lagi untuk mengumpulkan keberanian dalam menghadapi rintangan apapun yang menantinya di depan sana sehingga ia tetap bisa mempertahankan Bian di sisinya.
Kini di hadapan Januar sudah ada Addison yang tak berani menatapnya. Januar tahu, pasti ada hal yang Addison tutupi baik dari dirinya maupun Jethro hingga wanita itu berani mengambil keputusan seperti ini.
"Add, I know something's wrong with you, right?"
Addison menepis tangan Januar yang sedari tadi memegang pergelangan tangannya. "What are you talking about? There's nothing wrong with me."
Januar tidak percaya. "Add, look at me. Lo nggak bisa bohongin gue."
Addison masih tak mau menatap Januar.
"Addison." Januar tak bisa bersabar lagi dan akhirnya Addison mendengus keras lalu dengan terpaksa menatap pria yang sudah menjadi sahabatnya sangat lama itu.
"Gue tau pasti ada alasan kenapa akhirnya lo terima perjodohan ini, and I have to know what the reason is!"
Addison terdiam cukup lama menatap mata Januar yang memandangnya lekat. Ia menelan saliva seraya mengalihkan tatapannya. "There's nothing specific reason."
"Addison, don't be insane. I know how you are. Lo nggak mungkin decided something without any reason. Apalagi sejak awal kita berdua sama-sama setuju untuk batalin perjodohan ini. Jangan jadi gila dengan tiba-tiba menyetujuinya Add!"
"Gue udah gila Januar! I've been crazy since I broke up with Jethro! Harusnya aku nggak ngelakuin itu! Harusnya aku nggak perlu ikuti kemauan mereka! Tapi—tapi aku nggak bisa apa-apa Januar selain melakukan itu semua!" Addison tiba-tiba menjadi emosional, amarahnya meledak-ledak seolah ia telah menahan itu dalam waktu yang cukup lama, sampai akhirnya inilah saatnya untuk Addison menumpahkannya.
Melihat wanita di hadapannya berkaca-kaca menahan tangis dengan bibir gemetar, Januar pun memdadak kebingungan. "Apa maksud kamu Add?"
Addison menarik napas dalam-dalam untuk kembali bersikap tenang. Ia terdiam sejenak lalu menatap Januar lagi. "Lo tau kan sejak kecil gue broken home? I lived abroad with my mother until she met a man then she remarried and as you know that man is now my stepfather. Kakak tiri gue, dia cinta sama Jethro. Mengetahui hal itu, ayah tiri gue pun memaksa gue untuk mengakhiri hubungan sama Jethro, atau kalau nggak ...." mata Addison kembali berkaca-kaca. "Dia akan menghentikan perawatan dan pengobatan untuk nyokap gue."
Seketika Januar mematung usai mendengar perkataan Addison. "Dan Jethro tau soal ini?"
Addison menggeleng dan hal itu berhasil membuat Januar menghela napas panjang, ia reflek mengurut pelipis karena tiba-tiba rasa pusing menghantam kepalanya.
"Shit."
KAMU SEDANG MEMBACA
Reunion
Romance18+ Ditengah krisis kepercayaan akan cinta dan trauma yang Bian alami, Januar-seseorang dari masa lalu Bian-hadir menawarkan kisah cinta indah nan romantis. *** Pertemuan Fabiane Alexandra dan Januar Liem di acara reuni SMP membuat keduanya terlibat...
