Malam ini sangat cerah. Bulan bulat sempurna. Gemerlap bintang bertaburan di angkasa. Kerlap-kerlip kunang-kunang di udara menambah kesan tersendiri. Usai makan malam, kami saling bertukar cerita.
"Ayo.... Siapa lagi yang mau cerita?" tanya seorang teman Mas Aray.
"Naira..."Ucap Mutia spontan.
"Aku ngga mau, malu."
"Kan kamu udah biasa ngomong di depan, sekarang cuma beda suasana aja." Mas Aray membujukku.
Akhirnya aku angkat suara.Menceritakan seorang anak yang pernah aku temui di taman terbuka.
"Dulu aku sempat pergi ke taman terbuka di kotaku seorang diri.Aku melihat ada anak laki-laki yang terlihat murung. Wajahnya lesu sekali. Pandangannya kosong. Tanpa berpikir panjang, aku dekati dia.'Boleh Kakak ikut duduk di sini?' ucapku. Dia hanya mengangguk. 'Sudah makan?' dia menggeleng. Aku menyodorkan kotak nasi titipan adikku, tapi dia menolak, dengan alibi tidak lapar." Aku berhenti sejenak untuk meraih cangkir yang berisi air hangat, untuk mengurangi dingin yang tengah aku rasa.
"Setelah dibujuk kesekian kali, akhirnya dia mau makan. Setelah makan dia membuka bukunya, menyerahkan sebuah foto, lantas menangis. Dalam foto itu ada dia, adiknya dan orang tuanya. Dalam hati aku bertanya-tanya, memangnya mereka kenapa dan di mana? Tapi aku urungkan niatku untuk bertanya, takut melukai hatinya. Tanpa aku pinta dia mulai bercerita.'Waktu itu kita sedang mengunjungi suatu galeri. Mereka melihat pajangan agak jauh dariku. Kemudian terjadi suatu bencana,gempa bumi besar.' Air matanya mengalir perlahan.'Seketika orang-orang berhamburan keluar. Aku berusaha menahan desakan pengunjung, dan berusaha menghampiri mereka yang sudah tidak terlihat. Tapi tenagaku tak cukup kuat untuk menahan dorongan dari para pengunjung. Terlebih ada ibu-ibu yang menarik tanganku sambil berkata,'Ayo De keluar, gedung ini sudah mulai retak-retak,' akhirnya aku pun keluar. Saat aku berbalik badan galeri itu runtuh.' Tangisnya pecah seketika." Aku menyeka kedua ujung mataku yang mulai basah. Masih tergambar dengan jelas wajah anak itu ketika dia menceritakan semuanya. Sangat memilukan. Aku melirik ke beberapa orang yang juga sedang menyeka mata.
"'Seketika tubuhku lemas. Aku tak tahu apakah mereka berhasil keluar atau tertimbun reruntuhan. Tak lama setelah gempa reda, polisi dan ambulans berdatangan. Dengan sisa-sisa tenagaku, aku berusaha untuk mencari mereka. Tapi tiba-tiba seorang polisi menarik tanganku, melarang keras mendekati galeri itu. Sekeras apapun aku meronta, dia tak peduli. Aku dimasukkan ke dalam mobil bersama anak-anak yang bernasib sama. Aku dititipkan ke tempat penitipan anak, tapi aku sangat tidak tenang. Berminggu-minggu aku kepikiran mereka, berminggu-minggu pula aku berusaha melarikan diri. Hingga kemudian aku bertemu mereka. Dia melirik ke beberapa orang yang sedang bermain angklung." Aku menenguk air jahe dalam cangkir yang aku pegang.
"Dia tak pernah kehilangan keyakinan bahwa keluarganya masih baik-baik saja.Harapannya tak pernah padam, doanya tak pernah terputus,walau tak bisa dipungkiri terkadang dia ingin menyerah. Allah menjawab doanya,beberapa bulan setelah itu dia menghampiriku, sudah bersama orang tua dan adiknya. Selesai." Aku tersenyum,lalu mengedarkan pandangan ke sekitar, rupanya mereka tengah sibuk dengan air matanya.
"Nai, ke sana yuk." Mas Aray menunjuk suatu tempat.
Aku mengangguk. Duduk pada rerumputan dengan jarak setengah meter, menghadap hamparan bunga edelweiss. Mas Aray mendongakkan wajahnya ke langit. Aku pun menirunya. Lama sekali. Hening tanpa kata.
"Eh Nai, ada bintang jatuh." Ucapnya sambil menunjuk arah bintang jatuh itu. Aku pun menoleh ke arah yang dimaksud.
"Katanya kalau ada bintang jatuh terus kita bikin permohonan bisa terpenuhi loh."

KAMU SEDANG MEMBACA
Wonders || END
Teen FictionZunaira, anak dari seorang perawat, tapi berusaha menjauhi jurusan berbau kesehatan. Suatu kegiatan membuatnya jatuh hati pada sosok perawat.Keterpikatan yang muncul sejak jumpa pertama,dalam perkenalan yang sepihak. Lantas terpisahkan oleh ruang...