Twenty Nine : Fail

7 1 0
                                    

Esok harinya, aku berusaha mencerna pesan Mas Akbil. Aku mengira dia akan datang kemari, tapi buat apa? Memang aku siapa? Hanya seorang perempuan yang baru dia kenal tiga bulan yang lalu. Sekencang apa pun aku berusaha lari dari Mas Akbil, tapi nyatanya aku seperti lari di tempat. Sekeras apa pun aku berusaha mengenyahkan Mas Akbil dari pikiranku, aku selalu gagal. Dengan tiba-tiba Mas Akbil muncul dalam pikiranku, membayang di pelupuk mata.

Aku kira Mas Akbil akan datang, tapi aku salah besar.Malam sudah sangat larut, dan tahun sebentar lagi berganti. Tidak mungkin bukan, Mas Akbil datang kemari larut malam. Saat ini jemariku membuka aplikasi instragram yang ke dua puluh empat kalinya hanya untuk mengecek apakah Mas Akbil mengirim pesan atau tidak. Tapi rupanya tidak.

'Bodoh sekali kamu Nai! Mengecek untuk tiga kali aja udah cukup. Ngga perlu sampai berpuluh-puluh kali. Kamu itu bukan siapa-siapa! Sadar diri dong! Jangan karena dia mem-follow kamu, terus kamu jadi ada perasaan lagi!' Hatiku bergemuruh. Aku kembali merasakan perasaan yang benar-benar sulit untuk diuraikan. Complicated, very complicated.

"Nai, kenapa sih kamu? Dari tadi buka tutup hp mulu," ucap Maya. Maya adalah orang yang benar-benar peduli, hampir ngga mungkin dia tidak tahu perubahan kecil dari orang-orang di sekitarnya.

"Jangan-jangan kamu nunggu chat Mas Aray yah?"Laila mulai meledek.

"Terserah." Aku menarik dua ujung bibirku, terpaksa.

"Yuk lihat kembang api di roof top," lanjutku sambil melangkahkan kaki lebih dulu.

Di roof top hanya ada kami berempat karena orang tua dan adikku sudah tidur. Pukul 23.50 mulai ada tetangga yang menyalakan kembang api. Tepat pukul 00.00 langit malam terang oleh cahaya kembang api. Hampir setiap rumah menyalakan kembang api.

"Alhamdulillah kita telah melewati satu tahun lagi. Semoga tahun ini penuh kebaikan untuk kita ya," ucapku.

"Aamiin," ucap mereka serempak.

"Semoga kita juga ditempatkan di daerah yang enak yah," lanjut Mutia.

Kami kembali mengaminkan.

Aku meraih hp di sakuku yang bergetar.

Akbilw04 : Tadi Mas niatnya mau ke rumahmu. Tapi maaf ya ngga jadi. Mas harus menggantikan shift temanku yang ada kepentingan mendakak.

Aku tersenyum kecut membacanya. Ada rasa lega karena ternyata dugaanku benar. Tapi bukan berarti aku sudah dianggap sesuatu,kan?

Zunaira_ : Ya udah ngga papa.

Kata 'ngga papa' memang ajaib. Bisa menjadi tempat persembunyian untuk semua perasaan. Sedih, sakit hati,marah, cemburu, dan kecewa. Seperti yang saat ini aku rasakan. Kecewa karena berharap Mas Akbil datang, yang ternyata tidak. Entah apapun itu alasanya, Mas Akbil memang tidak datang,kan? Kembali aku disadarkan, bahwa berharap kepada selain Allah memang berujung kecewa. Jujur,sangat sulit menghilangkan harapan kepada makhluk walau setitik.

***

Dua hari setelah tahun baru, kami kembali ke Tangerang untuk memperjuangkan satu semester terakhir. Walaupun benar-benar merasa sangat enggan, tapi cita-cita memaksa kami untuk kembali ke kota orang. Sebagaimana mahasiswa semester akhir yang disibukkan dengan tugas akhir, pun aku dan tiga temanku. Walaupun tugas akhir kami berbeda, tapi kami tetap saling membantu. Mas Aray juga turut membantu, membantuku khususnya.

Semenjak aku kembali ke Tangerang, aku benar-benar kurang tidur. Makan pun nyaris tak sempat. Satu menit bagiku benar-benar berharga. Karena aku takut jika sampai deadline yang ditentukan aku masih belum menyelesaikan tugas akhirku. Namun, aku menjumpai kemalangan. Empat hari menjelang deadline aku sakit, padahal tugas akhirku masih belum lengkap.

Kondisiku sangat menyedihkan. Aku berusaha untuk memaksakan diri menyelesaikan tugas akhir, tapi aku tak mampu. Aku tak ingin memberi tahu siapapun sebenarnya, tapi aku benar-benar tidak sanggup untuk menanggung seorang diri. Akhirnya aku menghubungi Ibuku. Begitu aku mematikan telepon, Ibuku langsung ke Tangerang, sementara Ayah menggantikan shift temannya agar besok bisa libur.

Malam harinya aku dibawa ke rumah sakit. Aku meminta Ibu untuk membawa laptop dan beberapa dokumen kelengkapan. Aku pikir kondisiku akan membaik dan bisa menyelesaikan tugas akhir. Tapi ternyata aku semakin lemas, tak henti-hentinya aku menangis.

"Assalamualaikum." Aku langsung menghapus air mataku saat mendengar salam.

"Waalikumsalam,"jawabku lirih.

Aku sedikit terkejut melihat kedatangan Mas Aray dan Om Hadi.

"Om ko tahu Nai di sini?" tanyaku heran.

"Tadi sempet teleponan sama Ayahmu."

"Apa dalam kondisi seperti ini kamu masih mau mengerjakan tugas akhir?" tanya Mas Aray sambil melirik laptop di atas nakas. Aku tersenyum tipis.

"Mau aku bantu?"

"Ngga usah Mas, ngrepotin nanti."

"Sudah ku duga," ucap Mas Aray sambil mengambil laptopku.

"Santai aja. Karena aku sudah selesai, jadi tak perlu berpikir akan mengganggu tugas akhirku," lanjutnya. Mas Aray mengambil program D-IV, sementara aku D-III, lalu aku masuk kuliah saat Mas Aray sudah menyelesaikan tingkat 1. Dengan demikian, kami bisa lulus bareng.

Aku kembali tersenyum tipis. Kemudian aku melihat ke arah Om Hadi. Beliau menatapku dengan pandangan yang tak aku mengerti. Dengan sisa-sisa tenagaku, aku menjawab setiap pertanyaan Mas Aray. Tak bisa dipungkiri, Mas Aray memang pandai. Bahkan menurutku sangat pandai.

Wonders || ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang