Entah apa yang berbeda di pagi ini, tapi aku merasa jauh lebih baik. Entah karena semalam aku tertawa atau karena aku merasa bebas dari perasaan yang selama ini terlalu menyesakkan.
Setelah bersih-bersih aku memutuskan untuk jalan-jalan, walaupun sendirian. Aku sudah mencoba menghubungi teman-temanku, tapi tak ada satu pun yang sedang aktif. Aku pergi ke taman terbuka yang tak jauh dari kontrakanku. Di sana lumayan ramai, mungkin karena sekarang hari Minggu.
Aku duduk pada salah satu kursi panjang di bawah pohon. Mengamati anak-anak yang sedang berkejar-kejaran. Tak ada satu pun di sini yang murung, semuanya ceria.
"Sendirian?" Aku tersentak mendengar suara itu. Segera menoleh ke sumber suara.
Tubuhku seketika terasa sangat kaku. Aku paksakan untuk menganggukkan kepalaku.
"Boleh duduk?"
Aku kembali mengangguk, sambil bergeser. Kemudian kembali mengamati anak-anak yang masih asik bermain kejar-kejaran.
"Ngapain kamu di sini Mas?" Ya, orang itu adalah Mas Akbil.
"Tadinya mau ke tempat kosnya adikku, terus liat kamu. Terus Mas susulin deh."
"Gimana kalau calonnya Mas lihat?" ucapku sambil tanpa menolehkan wajah.
Mas Akbil tertawa kecil, membuatku menoleh.
"Yang waktu itu Mas bilang?"
Aku tak menjawab, mengangguk pun tidak. Aku kembali memalingkan wajahku. Mas Akbil kembali tertawa kecil. Tapi untuk kali ini aku tidak menoleh.
"Bukankah semua orang memang sudah punya calon? Entah disadari atau tidak keberadaannya. Itulah yang Mas maksud Nai."
Deg!
Kalimat itu persis seperti yang diucapkan Mas Akbil dalam mimpiku.
"Saat ini Mas masih dalam pencarian. Mencari yang terbaik. Bukan yang terbaik dari semua perempuan yang Mas temui. Tapi yang sekiranya terbaik untuk menjadi ibu dari anak-anak Mas," lanjutnya.
Aku menunduk. Sebisa mungkin agar bibirku tak melengkung. Aku tak tahu siapa yang nantinya dia temukan, tapi kalimatnya membuatku terbawa perasaan.
"Oh, maaf. Aku sudah salah kira."
"Wajar. Kamu sudah cukup dewasa untuk memahami hal-hal kecil semacam itu."
Kalimatnya membuat aku merenung, memikirkan satu hal. Dia jauh lebih dewasa dari aku, artinya dia jauh lebih mudah memahami hal-hal kecil itu. Apa dia bisa menangkap alasan aku pergi waktu itu? Ah aku takut. Takut jikalau dia tahu.
"Oya, kapan libur kuliah?"
"Menjelang tahun baru ."
"Sebentar lagi berarti. Boleh Mas berkunjung ke rumahmu?"
Mataku terbelalak. Seketika aku menoleh.
"Ngapain?"
"Ya ngapain aja. Apa aja yang bisa dilakukan, Mas lakukan."
Kata-katanya bagiku selalu menjadi teka-teki, selalu sulit untuk dimengerti. Nyatanya, aku tak mudah memahami hal-hal kecil seperti yang dia kira.
"Gimana? Boleh?" ulangnya.
Aku mengangguk.
Setelahnya kami berbincang ringan. Walau sederhana tapi sangat berkesan. 'Semoga perasaanku tak melambung lagi. Tetaplah datar seperti ini. Jangan kembali berharap pada sosok Akbil.'
***
Setibanya di kontrakan, aku kembali dengan rutinitasku. Bergelut dengan buku dan bolpoin. Melelahkan memang, tapi dari pada nantinya harus membayar mahal atas rasa malasku. Mas Akbil tak seperti kebanyak orang yang hobi aktif di sosial media. Postingannya pun bisa dihitung dengan jari. Update insta story pun demikian. Berkali-kali aku jatuh cinta. Tapi aku tak pernah jatuh cinta dalam sekali jumpa. Mas Akbil memang berbeda. Dilihat dari sisi yang mana pun tetap;Mas Akbil lain dari yang lain.
Aktivitasku terhenti begitu melihat hpku terus menerus bergetar. Ada video call masuk dari Maya. Rupanya Laila dan Mutia sudah terhubung. Aku menatap wajah mereka lekat-lekat. Aku sangat bersyukur mengenalnya.
Lima hari lagi kami libur akhir semester. Aku rasa baru kemarin tahun baru, tahu-tahu sudah mau tahun baru lagi. Awalnya kami ingin ke tempat Laila, tapi berhubung tiket pesawat yang sedang mahal, kami mengurungkan niat. Akhirnya kami putuskan untuk ke rumahku.
Setelah aku mengenal Rida,Nana,Zara, dan mereka, aku sadar akan satu hal. Bahwa teman itu sangat berharga. Walau teman bukan segalanya, tapi segalanya butuh teman. Mereka bukan lagi temanku, tapi keluarga baruku. Semoga persahabatan ini tak berakhir dalam enam bulan kedepan, did not end with the end of my position as a college student.

KAMU SEDANG MEMBACA
Wonders || END
JugendliteraturZunaira, anak dari seorang perawat, tapi berusaha menjauhi jurusan berbau kesehatan. Suatu kegiatan membuatnya jatuh hati pada sosok perawat.Keterpikatan yang muncul sejak jumpa pertama,dalam perkenalan yang sepihak. Lantas terpisahkan oleh ruang...