Twenty Eight : Come Back

8 1 0
                                    

Tiga jam perjalanan akhirnya berhasil kami tempuh. Saat ini kami telah tiba di halaman rumahku. Tiga kerucilku sudah bangun dengan sendirinya setengah jam yang lalu.

"Terimaksih Pak," ucap kami bertiga kepada sopir trevel hampir bersamaan. Sopir trevel itu hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Assalamualaikum." Ucapku sambil melangkahkan kaki, karena pintu rumah sudah terbuka.

"Waalaikumsalam." Suara Zulfi terdengar dari lantai atas.

"Waalaikumsalam." Ibu muncul dari arah dapur. Kami segera menyalami beliau.

"Ayah belum pulang Bu?"

"Lagi di jalan katanya."

Aku mengangguk-angguk.

"Yuk makan dulu. Belum makan kan?"

"Tante tau aja," ucap Laila.

Kami segera menuju meja makan. Ada banyak makanan kali ini, katanya karena aku jarang pulang.

"Gimana sama kuliahnya?" tanya Ibu sambil menyidukkan nasi untukku.

"Sibuk banget Tante," ucap Maya sambil menuang air.

"Ngga sempet main," Mutia ikut menjawab.

"Jangankan main, menghela napas lega aja ngga bisa," Laila ikut menambahi.

"Ngga papa. Tinggal enam bulan lagi kan?"

Mereka bertiga mengangguk. Setelah itu kami sibuk dengan piring kami masing-masing.

"Assalamualaikum. Sampai jam berapa kalian?" Ayah sudah ada di ruang makan.

"Waalaikumsalam." Jawab kami hampir bersama.

"Belum lama Om," lanjut Laila.

Kemudian Ayah meninggalkan kami, menuju kamar untuk bersih-bersih. Seperti biasa, Ibu menyusul.

"Nai, orang tuamu ko ngga tua-tua sih?" tanya Mutia heran.

Aku hanya tersenyum.

"Orang tuaku aja udah mulai ada keriputnya," Maya menimpali.

"Ayahku baru lulus kuliah langsung nikah. Terus Ibuku lulus SMA nikah. Alhamdulillah langsung diberi aku, jadinya aku udah gede orang tuaku masih muda."

"Oh pantes aja. Kayanya besok kamu ngikut jejak mereka deh Nai," ucap Laila.

"Sama siapa?"

"Aray lah, siapa lagi?" tahu-tahu Ibu sudah di sampingku.

"Tuh kan Nai, udah dapet lampu ijo tuh." Laila mulai meledek.

"Apaan sih Ibu ini." Aku menyikut lengan Ibu. Ibuku hanya tersenyum

Entahlah. Dengan siapapun aku menikah, semoga dia memang yang terbaik untuku. Selesai makan,kami ke ruang keluarga untuk bersantai.

"Eh ini album foto? Boleh liat ngga?" tanya Maya ketika melihat album foto di bawah meja.

Aku mengangguk. Mutia dan Laila ikut merapat.

"Wah, Naira kecil," ucap Mutia. Itu memang album masa kecilku. Mungkin Ibu atau Ayah habis bernostalgia. Tak ada satu pun fotoku yang tidak mereka komentari. Aku hanya bisa mendengarkan mereka.

"Loh ini Om Hadi kan?" Maya menunjuk foto yang dimaksud. Aku mengangguk.

"Ko bisa?"

"Dulu aku sering ikut Ayah ke rumah sakit. Terus di sana aku deket sama Om Hadi."

"Om Hadi itu siapa?" tanya Laila.

"Ayah Mas Aray," jawabku.

"Berarti Om Hadi ini temen Ayahmu dong?" simpul Mutia.Aku mengangguk.

Wonders || ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang