Alhamdulillah, tiga hari kemudian aku sembuh. Aku sudah diperbolehkan untuk pulang. Selain itu, tugas akhirku telah selesai. Aku sangat berhutang budi pada Mas Aray. Demi tugas akhirku dia rela menginap di rumah sakit, bahkan sampai begadang. Dia menjagaku ketika Ibu pergi. Dia membelikan aku dan Ibuku sarapan. Aku rasa, dialah laki-laki terbaik yang pernah aku temui di luar keluargaku. Bahkan, saat ini dia mengantarku ke kos dan membantu mengangkat barang-barangku.
"Makasih banyak ya Mas, maaf sudah sangat merepotkan."
"Kembali kasih Nai." Mas Aray tersenyum, membuatku ikut tersenyum.
"Kalau gitu aku pulang ya," ucapnya setelah menaruh barang-barangku.
Aku mengangguk.
"Sekali lagi makasih ya. Hati-hati di jalan," ucap Ibu.
Mas Aray mengangguk.
"Assalamualaikm.
"Waalaikumsalam."
"Nai, emang Aray gitu ke semua orang?" tanya Ibu setelah Mas Aray benar-benar pergi.
"Maksud Ibu?"
"Ya kaya gitu."
"Gitu gimana?" Aku semakin tak mengerti.
"Masa sih kamu ngga merasa aneh?"
"Aneh gimana sih Bu? Nai ngga ngerti deh sama arah bicaranya Ibu." Aku membaringkan tubuhku di ranjang.
Ibu menghela napas. Kemudian ikut berbaring di sampingku.
"Ibu kira dia suka sama kamu Nai. Walaupun baik itu manusiawi, tapi menurut Ibu dia terlalu baik sama kamu."
Aku sedikit merenungkan kata-kata Ibu. Aku memang tak yakin jika Mas Aray menyukaiku, tapi aku sadar, bahwa Mas Aray memang sangat baik. Aku merasa dispesialkan olehnya.
'Ah apaan sih Nai! Baper mulu!' aku tersenyum tipis. Berusaha menyingkiran pikiran-pikiran semacam itu. aku takut kembali jatuh hati pada orang yang salah.
***
Setelah tugas akhirku dikumpulkan, aku merasa sedikit lega. Walau masih banyak yang harus aku tempuh untuk bisa wisuda. Tapi tak apa, akan aku lalui semua yang memang harus aku lalui, semua yang aku dapatkan nanti akan kembali ke diriku sendiri. Bahagiaku sederhana, cukup melihat orang-orang tersayang bahagia.Bahagianya orang tuaku ada pada bahagiaku dan adikku. Mereka berjuang untuk memenuhi apa yang kami butuhkan. Mereka mengorbankan waktu istirahatnya untuk mendengar keluhan kami. Pun aku dan adikku, berusaha memenuhi apa yang mereka pinta agar mereka bahagia. Tak pernah sekalipun mereka memaksa kami untuk melakukan hal yang mereka senangi, sementara kami sangat membenci. Karena kembali lagi, bahagia mereka ada pada kami.
Saat ini aku tengah bersandar di pundak Ibu. Tangan Ibu mengelus lembut kepalaku. Lama sekali kami diam, tanpa berucap sepatah kata pun.
"Assalamualaikum." Aku mendengar suara Maya di luar kos.
"Waalaikumsalam," jawabku lirih sambil menjauh dari pundak Ibu.
"Ibu aja yang buka." Akhirnya Ibuku beranjak.
Tak lama setelah itu Maya masuk ke kamarku, rupanya tak sendiri, ada Mutia dan juga Laila.
"Ko kamu ngga bilang kalo sakit sih?" ucap Maya sambil mendaratkan bokongnya di ranjangku.
Aku tersenyum tipis.
"Kalian tahu dari Mas Aray?" Karena teman-temanku tidak ada yang tahu kecuali Mas Aray.

KAMU SEDANG MEMBACA
Wonders || END
Teen FictionZunaira, anak dari seorang perawat, tapi berusaha menjauhi jurusan berbau kesehatan. Suatu kegiatan membuatnya jatuh hati pada sosok perawat.Keterpikatan yang muncul sejak jumpa pertama,dalam perkenalan yang sepihak. Lantas terpisahkan oleh ruang...