Fourteen:Eid Al-Fitr

11 0 0
                                    

Tak terasa tamu yang selama satu bulan singgah kini telah berpamitan. Pada pagi ini seluruh umat muslim di seluruh dunia melaksanakan Salat Idul Fitri. Sama dengan lebaran-lebaran sebelumnya, kami selalu menunaikan Salat Idul fitri di tempat Nenek.

Keluargaku telah siap usai Salat Subuh, kata Ayah agar kebagian di saf depan.Kami mengenakan pakaian serba putih yang seragam. Semua laki-laki di tempat Nenek,termasuk Om Adit dan Adam, memakai koko putih dengan hiasan bordir berwarna silver, celana dan peci hitam. Sementara semua perempuan, termasuk Tante Ica,memakai gamis putih dengan diberi sedikit brokat berwarna silver, dan juga jilbab pasmina berwana abu muda.

Kami melaksanakan Salat Id di Masjid Agung Semarang. Alhamdulillah kami bisa salat di dalam masjidnya. Beberapa kali aku kemari tapi selalu saja dibuat takjup. Al Quran besar yang tadinya ada di dalam, sekarang ditaruh luar. Payung-payung elektrik sudah menguncup. Walaupun demikian tetap mengesankan. Sebagian besar yang datang agak siang, Salat di pelataran Masjid, yang ada payung elektriknya.

Seperti lebaran sebelumnya, Salat Idul Fitri di sini selalu mengesankan. Suara takbir dari ratusan jamaah yang membuat bulu kuduk berdiri. Tak sedikit jamaah meneteskan air mata.'Mungkinkah aku bertemu kembali dengan Ramadan tahun depan?' Mungkin itu yang ada dalam pikiran mereka. Aku pun berpikiran yang sama, walau tak bisa mengeluarkan air mata.

Pukul 07.45 Salat Idul Fitri dimulai. Suara imamnya luar biasa merdu. Usai Salat Id, dilanjutkan dengan ceramah dan halal bi halal semua jamaah, laki-laki dengan laki-laki, pun sebaliknya.

"Seorang mukmin tidak boleh memutus tali silaturahmi dengan sesamanya. Tidak boleh gengsi untuk meminta maaf, walaupun tak bersalah." Kalimat itu menjadi salah satu yang aku ingat dari ceramahnya.

Sesampainya di rumah, kami langsung meminta maaf dengan semua anggota keluarga. Aku tak tahu dengan apa yang Ayah,Ibu, Om,dan Tante ucapkan kepada Nenek. Karena mereka tak sekadar mengucapkan minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Lain dengan aku dan Zulfi, yang hanya mengucapkan kalimat itu.

"Mba Nai, Zulfi minta maaf ya... Terutama soal instagram Mba Nai yang ke log out." Ucap Zulfi setelah sungkem kepada yang lebih tua dari kami.

"Mba Nai juga minta maaf ya udah marah-marah." Aku mengacak rambutnya yang sudah tidak tertutup peci.

Setelah itu para tetangga dan kerabat jauh berdatangan, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Ayah dan Ibu. Anak-anak mereka juga ikut, sehingga rumah Nenek menjadi sangat ramai. Namun, aku merasa sepi. Tak hanya bersungkem. Mereka juga makan opor buatan Nenek yang dibuat kemarin sore.

Setelah memakan opor, aku memberanikan diri untuk chat Mas Akbil.

'Tak ada salahnya kan?' batinku sambil mengetikkan pesan untuknya.

Zunaira_ : Minal aidzin wal faidzin Mas, mohon maaf lahir dan batin ya... Maaf kalau chat singkat beberapa waktu yang lalu kurang berkenan.

Saat itu Mas Akbil belum aktif. Setiap kali aku mengirim pesan ke Mas Akbil, selalu dihantui kata 'dilihat.' Dua kali chat-ku berujung pada status 'dilihat' membuatku trauma.

'Bagaimana jika ternyata pesanku cuma dilihat?'

'Ah tidak, dia pasti balas ko, kan minta maaf.'

Aku berupaya untuk meyakinkan diriku sendiri.

Berulang kali aku membuka instagram, mengecek status dari pesanku itu. Tapi masih sama karena Mas Akbil belum juga aktif.

'Nah sekarang aktif. Ayo dong Mas, balas DM-ku.' Batinku saat melihat status Mas Akbil 'aktif'.

Namun, nihil. Sampai dia off masih juga belum membalas DM-ku, melihat pun tidak. Aku akui aku mulai lelah.

'Oke aku tunggu sampai nanti malam, kalau tidak dibalas itu akan jadi pesanku yang terakhir.' Akhirnya aku membuat keputusan demikian.

Benar, hingga malam bahkan sampai berganti hari DM-ku masih belum dibalas. Sekarang sudah hari ke tiga setelah lebaran, dan DM-ku juga belum dilihat. Akhirnya dengan berat hati aku membuka instagram, menarik kembali chat yang sudah aku kirim.

'Oke Mas, setelah ini aku tak akan mengirimimu pesan. Walaupun demikian, aku masih terus berdoa agar kita lekas dipertemukan.'

Entahlah, bagimana nantinya, saat ini aku memilih untuk tetap mengenggam erat Mas Akbil dalam doaku. Semoga Allah merestui, agar seluruh langit dan bumi ikut merestui.

***

Berkali-kali aku menghela napas. Berkali-kali pula aku meminta agar hatiku segera dinetralkan. Tapi sungguh, menetralkan hati agar hilang dari semua rasa tak semudah menghilangkan noda pensil pada secarik kertas.

Sering kali aku termenung, pun saat ini. Mengapa aku bisa menyukai orang yang bahkan belum mengenalku? Pertanyaan itu yang sering kali muncul. Aku pun tak tahu jawabannya.

Aku melihat layar hpku menyala. Muncul notif yang selama ini menghilang.

Akbilw04 baru saja menambahkan cerita setelah beberapa saat.

Seperti biasa, jemariku tergerak untuk membuka notif itu.

Nampak foto Mas Akbil tengah bermain hp. Layar hpnya menunjukkan sebuah roomchat.

Membaca chat lama, betapa kakunya kita dulu.

Demikian caption-nya.

'Kita? siapa? Ah lupa, mungkin satu dari tiga perempuan yang dulu. Udahlah Nai, ngga usah sibuk soal ini, jodoh udah ada yang ngatur ko!'

Tok tok tok

"Nai?" Suara Ayah terdengar agak lirih.

Aku segera beranjak untuk membukakan pintu untuknya.Kemudian Ayah masuk, duduk bersandar di atas ranjang.

"Sini." Sambil menepuk-nepuk kasur sisi kanannya.

Aku mendekat. Ayah menarik kepalaku agar bersandar di pundaknya.

"Ah, sulung Ayah mau pergi." Ucapnya sambil menghela napas.

"Ah Ayah, Nai kan pergi ngga jauh-jauh. Cuma Tangerang ko Yah."

"Kamu sudah siap jauh dari kami rupanya." Ayah mengusap kepalaku.

"Siap ngga siap harus siap kan?"Ayah menggangguk.

Lalu Ayah meraih tubuhku dalam dekapannya. Kalian mungkin sering bertanya-tanya kenapa selalu Ayah. Aku pun tidak tahu, tapi aku merasa bahwa aku jauh lebih terbuka kepada Ayah dari pada kepada Ibu.Sebaliknya, Zulfi lebih dekat dengan Ibu dari pada Ayah.

"Dua minggu lagi berangkat ya?"

"Hem." Ayah mencium kening ku, lalu mengeratkan dekapannya.

"Jaga diri baik-baik nanti ya Nai, jangan sembarangan bergaul. Kalo sama laki-laki jaga jarak, yang tahu batasan. Ya?"

"Iya, yah."

Tapi aku rasa tanpa Ayah berpesan demikian pun pasti sudah aku lakukan, sebab selama ini, orang tuaku mencontohkan hal itu.

Wonders || ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang