•°°°°°•
"Ck! Kemana sih, tuh anak?!" Taehyung yang sudah mengantuk setengah mati itu berdecak sebal. Kakinya sudah pegal luar biasa dan kini mereka harus menunggu Jungkook sembari berdiri di lobby.
"Kalian tunggu di sini, biar abang cari dulu." Seokjin yang sudah tidak sabarpun beranjak untuk pergi mencari sang adik sepupu.
Kakinya melangkah sesuka hati, dirinyapun tidak tahu harus kemana untuk menemukan Jungkook di gedung sebesar ini. Ditambah lagi ponselnya mati dan tidak bisa dihubungi.
"Permisi, mbak maaf, liat laki-laki umur 17 tahun disekitaran sini gak?" tanya Seokjin pada salah satu staff WO yang terlihat sibuk untuk membereskan barang-barang yang berserakan.
"Laki-laki siapa 'ya, mas?"
"Mmm, ahk! Itu, Jungkook, anak om Pradana yang dampingin pengantin tadi siang."
Seokjin sebenarnta tidak terlalu yakin kalau mbak-mbak staffnya dapat mengenali Jungkook, tapi apa salahnya, kan?
Wanita staff WO itu tampak berpikir, mungkin sedang mengingat-ingat wajah Jungkook yang hanya ia lihat sebentar siang tadi.
"Oh! Iya, beberapa menit yang lalu saya liat dia lagi jalan ke kamar mandi. Kebetulan saya abis cuci tangan, gak sengaja liat dia waktu keluar dari kamar mandi."
Seokjin menghela napas lega.
Setelahnya ia mengucapkan terimakasih pada wanita staff yang hanya dijawab dengan anggukan seadanya. Terlalu bingung kanapa anak laki-laki berusia 17 tahun masih harus dicariin seperti anak TK yang sedang badung-badungnya.
Seokjin sendiri sudah berlari kecil menuju kamar mandi. Tadinya ia hanya ingin menunggu di depan pintu, tapi karena terlalu penasaran, akhirnya iapun masuk ke dalam.
Merasakan hawa dingin dari dinding kamar mandi yang lembab dan bau pewangi ruangan yang menyengat.
Kamar mandi tampak sunyi, seperti tidak ada siapapun.
"Jungkook?"
Beberapa bilik tertutup rapat semuanya. 'Mbak-mbak yang tadi gak lagi nge-prank gue, kan?'
Karena terlalu takut untuk membuka bilik kamar mandi satu persatu, maka Seokjin memilih untuk menunduk. Mengintipnya dari celah bagian bawah pintu kamar mandi.
Sampai pada bilik kedua dari ujung, Seokjin melihat kaki seseorang berada di dalamnya, dan Seokjin dapat mengenali sepatu itu.
"Jungkook?"
Seokjin mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali.
Butuh beberapa waktu hingga pintu kamar mandipun terbuka. Benar. Jungkook keluar dari sana.
"Kamu ke kamar mandi, apa ke Belanda sih? Lama bang---, Jungkook?!"
Belum usai ucapan Seokjin terucap, tapi tubuh Jungkook sudah ambruk terlebih dahulu. Untung saja Seokjin cepat untuk menyelamatkan kepala Jungkook agar tidak membentur lantai kamar mandi.
"Jungkook?! Heh, jangan bercanda 'ya!" Seokjin begitu panik hingga menghiraukan bibir Jungkook yang sudah sangat pucat. Menepuk pelan pipi adik sepupunya bermaksud untuk menyadarkan.
Sedangkan Jungkook, dirinya masih mengambang di antara sadar dan tidak sadar. Dirinya masih bisa mendengar suara Seokjin dan merasakan tepukan pelan di pipinya, namun matanya enggan untuk terbuka. Terlalu lemas bahkan hanya untuk membuka mata.
Perutnya sakit seperti terlilit, ditambah lagi kepalanya yang pusing sedari beberapa jam yang lalu. Ia baru saja mengeluarkan semua isi perutnya, sebelum akhirnya Seokjin datang dan mengetuk pintu kamar mandi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Distress.
Teen FictionJungkook Asandra Pradana, pria tengil yang gemar sekali cari masalah. Katanya, masalah dan hidupnya adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Tapi, tak ada satupun manusia yang memang diciptakan sempurna. Begitupun dengan pria yang bernama...