dua-puluh-enam

2.3K 351 44
                                    

tanpa revisi
typo dan kesalahan lain, mohon dimaafkan hehe

•°°°°°•

Malam semakin larut, namun pekerjaan seakan tak mengenal ampun. Malam ini banyak sekali dokumen yang harus pria berambut hitam klimis itu pelajari. Harus membacanya dengan teliti, memahami bagaimana isinya, serta tak jarang ia juga turut merevisi saat ada beberapa point yang dirasa salah, lalu jika sudah dirasa benar maka dengan segala tanggung jawab yang diemban, haruslah ia tanda tangani dokumen-dokumen tersebut.

Terlihat kini ada dua tumpukan dokumen di sisi kanan dan kirinya.

Sebalah kanan yang sudah selesai ia baca dan tanda tangani, dan sebelah kiri merupakan dokumen yang masih harus ia baca ulang hasil revisi.

Tersisa masih cukup banyak, padahal jam digital di ujung meja kerjanya sudah menunjukkan angka delapan malam. Dimana para karyawan lainnya sudah bisa pulang sekitar dua jam yang lalu.

Yoongi menatap tumpukan dokumen di sebelah kirinya, mungkin masih harus 2 sampai 3 jam lagi untuk menyelesaikannya. Padahal niat awalnya ia ingin bisa makan malam di rumah hari ini.

Baru saja Yoongi ingin membuka lembaran dokumen selanjutnya, sebelum suara ketukan pintu ruangannya terdengar.

“Masuk.” Ucap Yoongi memberi izin.

Lalu masuklah Namjoon, asisten kepercayaannya yang terlihat membawa dua buah cup kopi dan beberapa buah roti yang berasal dari satu kedai yang sama.

Ditaruhnya barang bawaannya di atas meja kerja Yoongi yang walaupun sibuk tetapi masih terlihat rapih dan tertata.

“Titipan dari bang Seokjin.” Ucap Namjoon setelah mengambil satu buah cup kopi bagiannya.

Yoongi menatap Namjoon dengan satu alisnya yang terangkat, “Bilang aja lo yang beliin buat gue.”

“Gausah GR!”

Setelahnya Namjoon dengan cepat pergi dari ruangan atasannya tersebut dengan tidak lupa menutup pintunya kembali.

Yoongi menggeleng tak habis pikir dari tempatnya. Padahal Seokjin adalah orang yang paling anti untuk memberikan kopi ke anggota keluarganya dengan alasan kesehatan, lalu Namjoon malah menyebut nama Seokjin sebagai alibi.

Yasudahlah, ketahuan.

Mengabaikan Namjoon yang ketahuan berbohong, Yoongi memilih mengambil satu cup kopi yang tersisa. Memasukkan sedotan ke dalam kopi dingin tersebut dan meminumnya. Dilihatnya beberapa macam  donat dan roti di dalam plastik, lalu mengambil satu buah roti croissant dan memakannya dengan cepat untuk pengganjal perut yang kebetulan belum diisi saat makan malam.

Sedangkan kini Namjoon tengah menepuk jidatnya sendiri karena alasan konyol yang sudah ia ucapkan pada atasannya beberapa menit yang lalu. Dirinyapun masih berdiri di depan pintu Yoongi setelah ia menutup rapat pintu atasannya tersebut.

Dari Seokjin, konon. Padahal dirinya juga tahu jika Seokjin tidak pernah memberikan kopi jenis apapun pada anggota keluarganya.

“Bodoh!” cacinya pada dirinya sendiri.

Lalu segera berjalan menuju mejanya yang jaraknya tak jauh dari ruangan Yoongi berada.

Distress.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang