•°°°°°•
Jungkook pernah dikecawakan oleh keadaan, sekali.
Jungkook pernah dikecewakan oleh ayahnya, sekali.
Jungkook pernah dikecewakan oleh ibunya, sekali.
Dan
Jungkook pernah dikecewakan oleh kakaknya, sekali –tidak, untuk kasus kakaknya Jungkook yakin tak hanya sekali, berkali-kali.
Kejadiannya mungkin memang hanya sekali, itupun di masa lalu, Jungkook tak bisa melakukan apapun selain harus melupakannya. Tapi masalahnya adalah Jungkook tidak bisa melakukan proses untuk lupa.
Masa-masa sulitnya selalu terekam jelas dalam ingatannya. Bagai film tahun 80-an yang masih hitam putih dan berbayang, tapi sialnya Jungkook hapal dengan setiap scene yang ia perankan pada masa lalu. Membuat seburam apapun ingatannya, nyatanya Jungkook dapat tersiksa dengan begitu hebat.
Semua kejadian itu, membuatnya harus menelan pil pahit yang sebenarnya bukan miliknya.
Kenapa bukan Pradana saja yang gila dan tersiksa seperti ini?!
Atau mungkin Yoongi saja yang seharusnya kini sedang menangisinya karena tak pernah benar untuk mengurusnya.
Kenapa harus dirinya? Kenapa harus Jungkook?
Post-traumatic stress disoder yang menjadi temannya semenjak dirinya berusia 15 tahun. Tepat satu tahun setelah kejadian pertengkaran kedua orang tuanya dan juga kematian ibunya kala itu menjadi titik sosoknya yang sebisa mungkin untuk Jungkook sembunyikan dari semua orang.
Sekali lagi Jungkook membenci dirinya sendiri.
Dirinya ingat jika kala itu, dengan seragam putih birunya yang lusuh sehabis pulang sekolah, Jungkook melihat langsung kecelakaan mobil ketika ia sedang menunggu jemputan di halte dekat sekolahnya. Kala itu cuaca memang sedang hujan, masuk akal jika kejadian tersebut terjadi sebab jalanan yang licin.
Tapi yang tak bisa membuat Jungkook masuk akal adalah tentang dirinya yang menjadi takut berlebihan hingga mengeluarkan keringat di cuaca sedingin itu. Kakinya yang lemas tiba-tiba terduduk pada lantai halte yang basah sebab percikan air hujan. Mengundang teriakan dari beberapa orang yang kebetulan sedang meneduh sekaligus menjadi saksi mata kecelakaan sore itu.
Beberapa orang mulai mencoba menyadarkan kembali pandangan Jungkook yang tak tentu arah. Tubuhnya yang gemetar dengan kedua netranya yang tak berhenti mengeluarkan air mata itu membuat beberapa orang merasa takut jika mereka sampai salah mengambil langkah.
Orang-orang tersebutpun mulai melangkah mundur setelah mendengar seseorang yang berkata untuk demikian. “Jangan berkumpul!”
Seorang pria dewasa dengan kemeja biru langitnya mendekat pada Jungkook SMP yang masih terisak dengan tubuhnya yang semakin melemah.
“Hey? Gak pa-pa, jangan takut. Kamu gak kenapa-napa. Kamu aman sama saya.”
Tubuh ringkih yang berkeringat dingin itu direngkuh kuat oleh pria asing tersebut, mengelus punggung Jungkook halus dengan terus membisikkan kata-kata penenang yang menjadi pengalih perhatian Jungkook dari suara sirine ambulance dan juga polisi yang amat bising.
Setelahnya Jungkook tak dapat mengingat apapun lagi. Entah dirinya pingsan atau memang takut berlebihan hingga membuatnya tak sadar tentang apapun.
Yang pasti setelah dirinya bisa mendapatkan kewarasannya kembali, ia telah berada di ruang rawat serba putih dengan bau obat-obatan yang menyeruak masuk ke indra penciumannya. Tanpa ia sadari jika disampingnya masih ada orang yang memakai jas birunya yang belum Jungkook ketahui namanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Distress.
Teen FictionJungkook Asandra Pradana, pria tengil yang gemar sekali cari masalah. Katanya, masalah dan hidupnya adalah satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan. Tapi, tak ada satupun manusia yang memang diciptakan sempurna. Begitupun dengan pria yang bernama...