tujuh-belas

2.3K 347 71
                                    

•°°°°°•

Hujan semakin deras mengguyur Kota Jakarta, jalanan beraspal yang beberapa sisinya terlihat berlubang akhirnya terisi oleh genangan. Awan tanpa bulan dan bintang malam ini seakan menjadi saksi untuk yang pertama kali dapat melihat seorang Jungkook Asandra terjatuh dari motornya.

Setelah sekian lama pemuda itu turun ke jalanan, tak pernah sekalipun dirinya kalah bahkan sampai terjadi kecelakaan. Seberapa deras air hujan dan kencangnya angin, Jungkook tak pernah sama sekali kalah.

Namun kini, dirinya terbaring di aspal basah dengan motor besar yang ia gunakan terlihat menimpa tubuhnya.

Dirasa tak dapat bergerak sebab tertindih benda berat, membuat Jungkook akhirnya memilih terdiam. Menunggu bantuan datang, daripada harus mematahkan tulang kakinya sebab memaksakan motor besar itu untuk menyingkir.

Tak perlu waktu lama, dirinya yang masih tertutup dengan helm fullface itu dapat mendengar sayup-sayup dari kejauhan suara motor yang mendatanginya. Sorot lampu-lampu dari motor-motor itu menyorot tepat pada dirinya yang kini tengah berbaring menyedihkan di aspal penuh dengan genangan.

"Jungkook!"

Suara Haje, berteriak mengalahkan gaduhnya suara hujan malam ini.

Disusul teriakan-teriakan yang lain sembari turun dari motornya masing-masing.

Chan dan Mingi bergegas mendirikan motor yang menindih badan ketuanya tersebut, sedangkan Sunwoo dan Haje membantu Jungkook untuk duduk dan membuka helm yang digunakan.

Jungkook meringis tertahan, kala kakinya harus digerakkan dengan paksa dan membutuhkan tenaga ekstra.

Felix membuka payung lipat yang sudah ia bawa, lantas dilindunginya tubuh sang ketua agar tidak tertimpa hujan terlalu banyak.

San, Haje dan Sunwoo akhirnya mencoba mengangkat tubuh lemas itu ke pinggir jalan, dengan Felix yang mengikutinya dari belakang guna memayungi Jungkook dari hujan.

"Kaki lo bisa digerakin?" tanya Chan setelah ia memarkirkan motor sialan yang kini Chan yakini telah disabotase oleh pihak lawan. Remnya blong dan ban belakangnya gembos tanpa alasan.

"Bisa. Santai." jawab Jungkook.

Sunwoo menatap geram pada Jungkook, bagaimana bisa santai jika apa yang ia lihat sekarang adalah orang yang tak pernah kalah sekalipun dalam hal balapan, tiba-tiba terjatuh hanya karena hujan gerimis.

"Ayo, ke rumah sakit." kembali Chan sebagai yang tertua memberi arahan.

Tangannya sudah terulur untuk membantu Jungkook agar bisa berdiri. Namun Jungkook menggeleng, lebih memilih merogoh sakunya dan membuka ponselnya yang tampak retak pada bagian layarnya.

Mencoba mengaktifkan walau hasilnya nihil. Ponselnya mati, mungkin rusak.

"Pesenin taxi, hp gue mati." ucapnya kemudian.

Yang lain saling pandang satu sama lain, bagaimana bisa Jungkook pulang dalam keadaan seperti ini?

"Mau langsung balik?"

Jungkook hanya mengangguk, sesekali meringis sebab kakinya yang terasa nyeri.

"Tapi kaki lo harus diperiksa dulu, bang. Seengaknya ke klinik deh, kalo lo gak mau ke rumah sakit."

Sunwoo, menjadi anggota termuda membuatnya sama sekali tidak merasa canggung pada Jungkook yang notabenenya adalah ketua genk yang banyak disegani orang.

Dan kini ketika ia melihat Jungkook jatuh untuk pertama kalinya, Sunwoo tentu merasa takut juga marah sebab dirinya yakin jika ini semua adalah rencana busuk dari tim lawan.

Distress.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang